Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Tuesday, 15 April 2014

The People I Met: The Backpackers

Salah satu hal yang menarik dari Melbourne adalah banyaknya jumlah backpackers yang sering mengunjungi kota ini. Padahal sih ya, menurutku pribadi biaya hidup dan perjalanan di Melbourne itu cukup mahal untuk dijadikan tempat kunjungan backpackers. Dan terlalu sophisticated juga untuk budget backapacking. Itu kalau aku sih, hehehe.

Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dua orang backpackers yang sedang mencari-cari pekerjaan. Rupa-rupanya mereka ini tipe backapackers yang memegang Working Holiday Visa selama satu tahun. Dua backpackers ini berasal dari Hong Kong dan Perancis. Dua orang dari belahan dunia yang berbeda bertemu di Melbourne. Tiga deng ditambah aku.

Anyway, pertemuanku dengan mereka kembali mengingatkanku akan keinginanku untuk backpacking. Walaupun sebenarnya aku ini bukan tipe backpacker tapi lebih ke traveller, tapi ada secuil mimpi untuk bisa menjelajah dunia yang tak pernah kubayangkan, mendatangi tempat-tempat jauh yang hanya pernah kulihat di saluran National Geographic. 

Melihat dua backpackers itu kembali mengingatkanku ketika aku pertama kali tiba di sini. Kau tahu, perasaan ketika kamu berada di sebuah tempat yang sama sekali asing bagimu, tidak ada seorangpun yang kau kenal? Perasaan seperti itulah yang membuatku ingin backpacking-an. Tiba di tempat yang sama sekali baru dan asing, tak ada satupun orang yang dikenal, bahasa yang tak dipahami, get lost somewhere far away unknown, buatku itu sebuah pengalaman yang mendebarkan. Jikalau itu layak disebut sebagai sebuah bentuk pelarian, maka ini akan kujadikan sebuah pelarian yang indah (halah!). 

Tetapi (oh, there is always a but!), kenyataannya belum bisa. Lha ya iya, aku masih punya tanggung jawab pada orang tua, masih ada banyak hal yang harus kukejar. Maka mimpi backpacking-an dipendam dulu, walau sekarang aku mulai merasa dikejar-kejar usia sih. Yang jelas suatu saat nanti aku akan mewujudkan mimpiku yang satu ini. Untuk sekarang ini kujalani dulu jalan yang sudah kupilih, dan itu termasuk menyelesaikan tugas kuliahku. Eh?!

Wednesday, 12 March 2014

Hate

"If you want to forget something or someone, never hate it, or never hate him/her. Everything and everyone that you hate is engraved upon your heart; if you want to let go of something, if you want to forget, you cannot hate."
- C JoyBell 

Wednesday, 5 February 2014

Happy 2014

HAPPY VERY, VERY BELATED CHRISTMAS AND NEW YEAR!!!

To be honest, I am in lost for words after a while been neglecting this blog. Took me a lot of efforts to make myself write again, too. But here I am, sitting at my desk, writing with the radio on.

Nothing much has happened these past couple of months. I found two new jobs in the City on last December and have been working and working ever since. Then stayed at home for Christmas and New Year and did nothing. I wanted to go out and celebrated New Year with thousand of people at City but then I was just too lazy to go out and catch the train. Oh, well, not so much into party, too. Guess I'm getting old or something... But anyway, I'm still up for festivals! And good thing is Melbourne has so much festival coming up this year. I missed a few already because I had to work. One was the Pride. Yes, the Pride! I won't miss it next year definitely.

I don't have any resolution for this year. I mean, why bother making a long list of things I want to make better that would just end up in the drawer, untouched and forgotten. Yet, I do wish things will be better this year and hope for the best in everything for me, my family, friends, and girlfriend (good luck for the exam, Yang).

...

That's pretty much about it. I have never been this much lost for words...

Sunday, 15 December 2013

A Quote

"If you love somebody, you tell them, even if you're scared it will cause problems or burn your life to the ground. Say it loud and go from there."
 Mark Sloan (Grey's Anatomy)

Tuesday, 3 December 2013

The People I Met: Hyun Ji

Rumah yang kuhuni bersama 3 orang lainnya kedatangan penghuni baru minggu lalu. Hyun Ji namanya, berasal dari Korea Selatan, teman dari salah satu housemate-ku. Dalam satu kesempatan, kami berdua sempat mengobrol di dapur ketika sedang menyiapkan makan siang. Hyun Ji, sama seperti aku dan ketiga penghuni lainnya, juga merupakan seorang mahasiswa international. Dia mengambil jurusan Chinese Medicine selama lima tahun dan bulan ini akan segera lulus.

Sebenarnya dia baru saja kembali ke sini dari Korea karena ibunya sedang sakit parah setelah sebelumnya sempat mengikuti internship di Cina. Masalah yang cukup pelik sedang dihadapinya sampai-sampai dia berkata, "It feels like I have no emotion right now. All I do is just pray and pray." Setelah lulus Hyun Ji tidak bisa kembali ke Korea karena jurusan yang diambilnya membuat ia tidak bisa diterima bekerja di negeri asalnya itu. Alasannya simpel saja, karena dia lulusan luar negeri. Jadi satu-satunya jalan yang dia miliki adalah mencoba untuk tetap tinggal dan bekerja di sini. Hal yang sangat tidak mudah juga baginya untuk segera mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang singkat, mengingat visanya tidak lama lagi akan segera berakhir.

Aku paham betul apa yang dirasakan Hyun Ji saat ini karena sebetulnya yang sedang dihadapinya ini merupakan masalah umum bagi jutaan mahasiswa internasional di sini. Banyak dari kami, mahasiswa internasional, yang memilih untuk kuliah di sini demi mengejar status Permanent Resident (PR) yang kemudian bisa berujung pada status Citizenship. Well, termasuk aku salah satunya sih. Namun pemerintah Australia kini membuat hal itu kian sulit dengan regulasi yang berbelit-belit dan berubah-ubah hampir setiap tahun. Hasilnya, banyak juga mahasiswa yang akhirnya memilih untuk kembali pulang ke negeri asalnya setelah lulus. Nah, pilihan terakhir ini jelas bukan pilihan bagi Hyun Ji.

Kami juga membahas mengenai pengalaman sehari-hari dan obrolan kami itu cukup mengingatkanku bahwa apa yang saat ini tengah aku jalani juga dialami oleh ratusan, bahkan ribuan mahasiswa internasional lainnya. Kau tahu? Kuliah sambil harus bekerja sambilan. Pada kenyataannya, rata-rata mahasiswa internasional di sini berasal dari working class family. Biaya kuliah yang cukup tinggi membuat kami harus bekerja sambilan demi membiayai biaya hidup sendiri. Aku pernah menghadiri sebuah fokus grup yang diadakan oleh sebuah lembaga riset akademi dan menghadirkan mahasiswa internasional dari berbagai negara. Dalam diskusi, salah seorang mahasiswa mengakui bahwa terkadang dia harus bekerja lebih banyak dan lebih mengkhawatirkan pekerjaannya dibandingkan tugas kuliahnya.

Sesulit apapun kehidupan yang kami alami di sini, namun pengalaman yang kami peroleh jauh lebih berharga. Dan mungkin bagi sebagian dari kami hal ini layak untuk kami jalani. Ya, banyak dari kami yang mengalami eksploitasi dalam lingkungan kerja dan dibayar dengan upah yang jauh di bawah upah minimun. Banyak dari kami yang tidak bisa jajan karena uang pas-pasan, bahkan harus rela makan satu kali sehari untuk menutupi biaya transportasi. Dan kami harus bisa mempertahankan prestasi belajar dalam sebuah lingkungan akademik yang sama sekali jauh berbeda dari negara asal, belum lagi menghadapi krisis language barrier. Tapi bukankah ada sebuah kutipan yang berkata, "You have to pass through hell to get to heaven."

Seperti penuturan salah seorang mahasiswa internasional yang menceritakan mengenai kisahnya di sebuah majalah katanya,
"I can tell them (international students, red) that whatever happens in life in Australia, you don’t have to give up at one point. You have to keep on going, and keep on striving. I know the life where you don’t have food – I spent  $20 a month only. It’s hard to survive in Australia – it doesn’t mean you have to give up. You just have to keep telling yourself you have to move on and achieve what you wanted when you came here."
And that, I think, applies to all of us, wherever you are and what life you are living...