Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Thursday, 12 July 2012

The Right One

Temanku baru saja putus dengan pacarnya. He wasn't the right one, begitu jawabnya ketika kutanya alasan kenapa dia mengakhiri hubungan mereka. Dia temanku dan aku mengenalnya dengan baik dan aku tahu dia akan baik-baik saja meski sedang patah hati. Tidak akan butuh waktu lama sampai dia menemukan pengganti.

Aku menoleh ke sebelah kanan monitor, dimana ada kotak chat dengan temanku yang lain. Kalau yang satu curhat menenai putus cinta, yang satu ini curhat kapan dia bisa menemukan si "Mr. Right".

Kenapa sih, banyak orang terobsesi untuk menemukan "the right one"? Temannya temanku bahkan pernah berkata bahwa dia harus pacaran sesering mungkin untuk memperbesar kemungkinan menemukan pendamping yang paling tepat untuknya. Percayalah, aku sedang tidak men-judge. Aku hanya ingin tahu saja. Maksudku, kalau setiap orang yang pacaran lalu merasa pacarnya bukanlah orang yang tepat, bukan belahan jiwanya, lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan, kasihan amat yang diputusin. Bagaimana kalau mereka ternyata bukanlah orang yang tepat bagi siapapun? (Aku tahu, ini pikiran paling ngaco. Jadi tidak usah diambil pusing.)

Sekarang coba bayangkan kalau aku juga seperti itu. Mencari orang yang paling tepat untukku. Kemungkinan besar aku tidak akan menemukannya. Maksudku begini, berapa banyak lesbian yang bisa kutemui dalam sebulan? ZERO. NULL. Ini saja kalau bukan S yang mengambil inisiatif lebih dulu, aku tidak akan pernah tahu kalau dia lesbian, apalagi menjadi pacarku. See? I don't even have gaydar on me!

Kembali ke pertanyaanku tadi. Akan kuperjelas pertanyaanku: Sepenting itukah menemukan "the right one"? Berapa banyak kali harus pacaran dengan orang yang salah sebelum akhirnya menemukan yang tepat?

Kupalingkan wajah ke arah S yang sedang asyik membaca buku, lalu kusenggol kakinya. Dia hanya menyahutku dengan "hmmm"-nya yang khas tanpa mengangkat wajahnya dari buku. Kutanyakan saja pendapatnya tentang perihal tadi. Nah, kali ini aku mendapatkan perhatiannya sepenuhnya.

"The right one?" tanyanya, dan aku mengangguk. Aku benar-benar ingin tahu jawabannya. Dan inilah jawabnya.

Whoever the person you're in love with, he/she is the right one. Otherwise, you wouldn't fall in love in the first place."

Jackpot!


Pikirku benar juga apa yang dikatakannya. Kalau dari awal sudah merasa salah, ya tidak bakal jatuh cinta. Iya, kan? Kurasa ya.

Karena merasa telah memperoleh jawaban yang sangat memuaskan, kuberi dia kecupan di pipi. Tapi ternyata di sinilah kekacauan mulai terjadi. S meletakkan bukunya di atas meja, memutar tubuhnya hingga menghadapku. Wajahnya tampak serius.

"Aku cinta kamu, itu artinya kamu orang yang tepat untukku. The right one, kalau mengikuti istilahmu." Pengakuannya membuat hatiku melonjak. "Pertanyaannya," lanjutnya. Kali ini aku was-was. "Apa kamu juga seperti itu terhadapku?"

Aku melongo. Aku bengong. Aku membuka dan menutup mulutku seperti ikan mas koki. Tidak mengatakan "ya" ataupun "tidak." Aku hanya menatapnya, tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulutnya. Selama beberapa saat dia menungguku mengatakan sesuatu, tapi mulutku tidak bisa berbicara di saat ia seharusnya berkata-kata. Dan malam itu dia memunggungiku saat tidur. Pintar sekali kamu, Rae.

Esok harinya dia mogok bicara. Bahkan ketika aku pamit pulang pun dia tidak mengatakan apa-apa. Baiklah, dia sedang emosi. Sedang sewot, kalau kata temanku. Jadi kubiarkan dia tenang dulu. Uh, setidaknya itulah yang kukira. Namun ternyata diamku, lagi-lagi, malah memperburuk keadaan. Setelah disadarkan, baru aku mengambil tindakan.

Kalau kamu belum menentukan pilihanmu, lebih baik akhiri saja hubungan ini. Lebih cepat, lebih baik.

Itu katanya ketika aku menelepon dia untuk meminta maaf dan menjelaskan kenapa aku bengong seperti beo malam itu. Ya ampun, begini nih repotnya pacaran sama yang lebih tua. Gak neko-neko.

Namun harus kuakui bahwa perkataannya itu membuatku sadar. Aku sadar bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga. Aku memiliki seseorang yang tahan mendengar kicauanku tentang pikiran-pikiran teraneh yang tak bisa kaubayangkan, yang bersedia menggosokkan minyak gosok di punggungku sebelum tidur (oh ya, aku baru bisa tidur setelah digosoki minyak gosok), yang memberiku kecupan selamat malam dan selamat pagi, yang membuat dadaku sesak oleh bahagia saat dia menatapku, yang membuatku memasang senyum I-just-got-laid yang membuatku terlihat bodoh tapi aku tidak peduli.

Dan di antara segala ketidakpastian, aku tahu pasti bahwa aku tidak ingin kehilangan dia. Aku sudah menetapkan pilihanku sejak awal. Yang harus kulakukan sekarang adalah meyakinkannya bahwa - seperti aku baginya, dia bagiku juga orang yang tepat. The right one.


Ps. Maaf, aku sedang mellow, dan malam ini hujan lebat. Kelebayanku sedang berada pada titik tertinggi, dan aku perlu meredakan kecemasanku. So yeah...

Friday, 6 July 2012

Blogger yang Tidak Pandai Menulis

Itupun kalau aku layak disebut blogger. Sepertinya aku lebih merupakan tukang curcol di dunia maya. Semacan dedemit yang gentayangan di dunia per-blog-an dan senang curhat.

Lantas kenapa aku menyebut diriku seperti itu? Jadi begini ceritanya. Aku sedang panik. Panik sepanik-paniknya. Aku panik karena kedapatan ternyata aku tidak bisa menulis! Padahal sebentar lagi aku akan mengikuti tes IELTS.

Begini, lho. Dalam tes IELTS terdapat empat bagian, yaitu Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Awalnya kupikir aku akan kesulitan di bagian Listening, karena aku sering terpukau dengan aksen British yang digunakan sehingga lupa menjawab soal. Atau bagian Reading, karena aku sering mengantuk saat mebaca artikelnya. Eh, ternyata malahan aku bengong saat mengerjakan bagian menulis ini.

Ada dua sub-bagian untuk Writing, yang pertama adalah menjelaskan data yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik atau diagram, dan yang kedua adalah menuliskan opini atas sebuah pernyataan. Dan di kedua sub-bagian itu aku sama sekali kesulitan. Sulitnya adalah aku bingung harus memulai dari mana, dan seringnya ide-ideku tidak memiliki draft yang beraturan karena aku terpaku pada waktu pengerjaan soal dan pada aturan agar tidak menggunakan kata-kata yang sama berulang-ulang.

Tuh, kan? Gimana aku tidak panik kalau begini? Saking paniknya aku sampai menelpon S selesai les tadi, lalu mulai nyeloteh yang tidak karuan. Menyadari ada yang tidak beres, dia memintaku mampir ke rumahnya. Saat aku tiba, mami sudah tidur. Jadi kami mengobrol di ruang tengah. Di sana aku baru bisa menjelaskan kepanikanku dengan lebih jelas. Namun yang dia lakukan hanyalah tertawa, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Itu benar-benar membuatku kesal. Aku sedang panik dan dia menertawaiku.

Bukannya menjelaskan apa yang lucu, dia malah bangkit berdiri, masuk ke kamarnya, lalu keluar lagi sambil membawa sebuah buku di tangannya. Akupun bengong ketika dia menyerahkan buku itu. Di tanganku kini ada sebuah buku yang berjudul "Sputnik Sweetheart" karya Haruki Murakami. Mataku langsung melotot dan aku melonjak kegirangan. Itu buku yang sudah lama kucari!

"Nah, udah gak panik lagi, kan?" katanya. Aku memandanginya dengan penuh ucapan terima kasih dan dia membalasnya dengan tersenyum manis.

"Terima kasih," kataku akhirnya.

"Kamu pasti bisa mengerjakan tes dengan baik," hiburnya, sambil mengelus kepalaku. Aih, aku merasa seperti anak kecil kalau sudah diperlakukannya seperti ini. Tapi aku suka... (memang dasar anak kecil.)

Setelah beberapa saat, aku pamit pulang. Dan sekarang, setelah tiba di rumah, aku malah dilema antara membaca buku pemberiannya, lanjut latihan, atau malah ngeblog. Ujung-ujungnya, kalian tahu sendiri, kan? Kini panikku mulai kumat lagi. Duh, memang dasarnya aku tukang panik! Jadi malam ini aku akan tidur dalam kepanikan.

Ps. Ketika kukatakan "melonjak kegirangan," yang kumaksud adalah menggoyang-goyangkan tangan dan kepalaku tanpa bersuara, karena takut mami bangun.

Wednesday, 4 July 2012

Perawan Tua

Wajah maminya terlihat berseri saat mendapatiku berdiri di depan pintu rumah. Aku membalas dengan senyum yang tak kalah sumringah dan mami mengajakku masuk. Rasanya lucu karena aku diperlakukan seperti tamu. Padahal aku punya kunci rumahnya, lho. Sambil menunggu mami siap-siap, aku duduk manis di sofa. Kemarin aku janji mengajaknya jalan-jalan hari itu. Katanya bosan di rumah sendirian karena S harus bekerja. Kebetulan aku memiliki beberapa jam waktu luang sebelum mulai les, jadi kuajak mami jalan sebelum nanti kembali pulang ke kotanya. Ketika mami akhirnya siap, kami langsung menuju mal terdekat.

Di mal aku menemaninya belanja beberapa barang keperluan hariannya, juga keperluan S. Selesai belanja, aku membawa mami ke restoran favoritku untuk makan siang, yang juga akhirnya menjadi tempat kencan favorit aku dan S. Di sana kami mengobrol tentang banyak hal, termasuk mengenai S. Awalnya aku sedikit kikuk membicarakan S dengan maminya. Aku tidak ingin terlalu banyak memberikan komentar. Tapi kemudian kuanggap saja maminya berbicara padaku seperti berbicara pada teman anaknya. Ngerti kan maksudku? Enggak, ya? Yasudah. Aku juga tidak mengerti.

Dan tentu saja, dari sekian banyak hal yang dibicarakan tentang S, terselip pembicaraan mengenai S yang sampai saat ini belum ada tanda-tandanya bakal menikah. Setelah beberapa waktu bersama S, aku tahu kalau maminya masih suka mengingatkan dia mengenai usianya yang sudah lebih dari cukup untuk membina rumah tangga, meski menurut S tidak sesering dulu. Katanya, Mami sudah di ambang menyerah, tapi belum karena orang-orang sering bertanya padanya kapan anaknya menikah.

Aku melayangkan senyum pengertian, seolah aku mengerti. Tapi aku tak kuasa menahan mulut, dan tanpa kusadari aku berujar, Mungkin dia lebih senang hidup sendirian dan bebas, ai. Oh, terkutuk mulutku. Dan mami merespon ucapanku dengan menjelaskan bahwa meski tidak ingin memaksa, tapi ia hanya tidak ingin anak perempuannya hidup sendiri dan kesepian di masa tuanya. Ia tidak akan selamanya hidup di dunia dan ketika saat itu tiba, saat ia harus pergi, maka S akan sendirian. Lalu siapa yang mengurusnya di saat dia tua nanti? Siapa yang akan menemaninya?

Kali ini aku mengerti perasaan mami. Maksudku, orangtua mana yang tidak bakalan memikirkan anak-anaknya? Dan setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya, bukan? Meski sebenarnya bagiku, kadang yang mereka anggap terbaik belum tentu seperti itu bagi anak-anak. Untungnya kali ini aku berhasil menahan mulutku, dan yang kulakukan hanya mengangguk-angguk kecil.

Mungkin ini salahku, karena keadaan keluarga yang sulit membuat dia tumbuh menjadi perempuan yang terlalu mandiri, lanjutnya lagi. Nah, ini baru mengejutkan buatku. Aku memang tahu cerita mengenai riwayat kehidupan keluarga mereka. Tapi mami yang menyalahkan dirinya dengan apa yang terjadi pada anaknya sekarang? Ini sungguh di luar dugaan. Aku jadi kehilangan kata-kata. Ingin kuhibur, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba aku memikirkan Mama. Dalam hati aku bertanya, akankah Mama juga nantinya berpikir seperti ini? Menyalahkan dirinya karena aku tidak menikah? Atau menyalahkan keadaan yang pernah terjadi, yang membuatku tidak ingin menikah?

"Bagaimana dengan kamu?" tanya mami, membuyarkan lamunanku.

"Eh? Aku? Uhmm, belum kepikirian, ai," kataku.

"Ah, kamu sama saja dengan S. Kalian berdua bisa tua bersama kalau begitu. Si perawan-perawan tua." Aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mami. Seandainya mami tahu, ya...

Kami melanjutkan makan, lalu aku memesan es krim sebagai makanan penutup. Es krim kami tiba bersamaan dengan S yang baru saja pulang dari kantor. Kami janjian bertemu di sana karena dia yang akan mengantar maminya pulang. Kutanya apakah dia ingin makan, tapi dia menolak. Katanya dia kepingin makan tahu tempe yang dimasak maminya di rumah, lalu menyicip es krimku. Setelah selesai, kami keluar dari restoran karena sudah waktunya aku les. Maminya minta ditemani ke toilet dan sambil kami menunggu, kuceritakan kepada S obrolanku dengan mami.

Perawan tua yang tidak perawan tentunya, komentar S, menanggapi ceritaku. Dan mami bilang kita berdua boleh tua bersama. Kamipun tergelak. Dan masih tergelak ketika mami kembali, membuatnya menatap kami penuh heran.

"Ya, ya, ya. Kalian berdua memang cocok. Sama-sama aneh," kata mami, lalu ngeloyor pergi dan kami mengikutinya dari belakang sambil terkikik.

Mami, mami...

Sunday, 1 July 2012

Never Give Up Hope

Kali ini aku memilih tinggal di rumah dan bersantai. Aku tidak bertemu S dan maminya hari ini agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Lagipula masih ada setumpukan buku yang harus segera ku-khatam, dan aku masih harus kembali me-review bahan untuk tes nanti.

Well, rencananya sih begitu. Tapi ujung-ujungnya malah aku asyik menonton TV, lalu pada akhirnya ngeblog sambil mengunduh lagu-lagu Korea. Oh, ini salah satu misiku; mengojok-ngojokin S dengan lagu Korea yang ajib-ajib dan unyu-unyu. Jangan melulu mendengarkan Il Divo dan lagu-lagu lainnya yang populer di zaman manusia masih menulis di atas batu. Jadi aku harus menyiapkan persediaan lagu-laguku dan tinggal menunggu saat yang tepat untuk kuselundupkan mereka di ponselnya. Kalau perlu, akan kuselundupkan juga video klip para artis-artis nan bening itu, yang usianya mencapai satu dekade lebih muda darinya. (Nah, sekarang coba bayangkan aku yang sedang tersenyum ala Lucifer.)

Baiklah, mari kembali ke tujuan awal aku menulis postingan ini. Jadi tadi aku makan siang sambil menonton acara "Got to Dance UK," yang digawangi Adam Garcia, Kimberly Wyatt (pasti kenal dong ya?) dan Ashley Banjo. Di saat ada waktu luang, aku selalu menyempatkan diri menonton acara itu, jika sedang tayang di TV. Ingin rasanya bisa jago menari, ya? Tapi mau bagaimana lagi, tubuhku kaku seperti batu. Hanya jari saja yang lincah jika diketuk-ketukkan di atas tombol-tombol keyboard komputer. Anyway, yang menarik adalah saat audisi yang tadi kutonton, ada sebuah grup tari yang terdiri atas beberapa anak penderita down syndrome.

Ketika awal melihat mereka diwawancarai oleh pembawa acara Davina McCall, aku ragu bahwa mereka bisa menunjukkan sebuah tarian apik, apalagi diloloskan juri masuk ke dalam shortlist. Namun yang membuatku merasa seperti seperti ditampar bolak-balik adalah ternyata tarian mereka lumayan. Mulai dari teknik menari sampai koreagrafi yang ditampilkan, melebihi ekpektasiku. Dan yang paling menggugah adalah ketiga juri juga memberikan bintang emas, sebagai tanda mereka lolos masuk ke shortlist.

Kupetik sebuah pelajaran dari adegan sepanjang satu setengah menit itu, yaitu untuk tidak pernah berhenti berharap. Jika dibandingkan dengan peserta lainnya, yang jelas-jelas bisa lebih baik dari mereka, adalah mustahil mereka bisa lolos. Tapi harapan untuk bisa terus menarilah yang membuat mereka tidak menyerah, bahkan ketika orang-orang meragukan kemampuan mereka.

Aku membayangkan betapa sulitnya mereka harus melatih gerakan-gerakannya, dan entah berapa kali mereka harus melakukannya karena gerakannya tidak sempurna saat latihan. Dan betapa melelahkan... Namun mereka terus berusaha karena ada harapan. Jika ada yang berkata bahwa harapan adalah sesuatu yang membuat seseorang tetap hidup, maka aku setuju. Apa gunanya hidup jika tiada lagi harapan?

Ah, Rae. Kamu berkata seperti itu karena sekarang hidupmu penuh dengan pengharapan. Hidupmu terlihat mudah. Kamu mendapatkan apa yang kauinginkan.

Siapa sih yang tidak pernah mengalami kegagalan? Semua orang pasti pernah, termasuk juga aku. Entah itu kegagalan dalam meraih impian, kegagalan dalam hubungan percintaan, atau kegagalan-kegagalan lainnya. Namun ketika mengalami kegagalan ada yang langsung patah semangat, tapi juga ada yang bisa langsung bangkit kembali. Seberapa banyak proporsi antar keduanya, aku kurang tahu pasti. Yang jelas, yang selalu menjadi contoh adalah mereka yang bisa bangkit kembali, bukan?

Hidupku sekarang mungkin terlihat mudah di mata orang-orang. Tapi bukannya hidup itu tidak selamanya sulit, juga tidak bakal selalu mudah? Itu artinya kehidupanku sebelum ini adalah sulit. Tak perlu aku ceritakan secara detail mengenai pergumulanku, yang sebenarnya masih terus berlanjut hingga saat ini. Bedanya, kini aku bisa menghadapi segala sesuatu dengan lebih lapang. Harus kuakui, menerima masalah dengan tangan terbuka menjauhkanku dari depresi. Dan berdoa, itu juga perlu.

Kini aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Namun harus diingat juga bahwa aku pernah mengalami kehilangan. Bukankah ada kutipan yang berkata bahwa saat kita kehilangan sesuatu, maka nantinya kita bisa memperoleh sesuatu yang lebih besar? Menangisi kehilangan terus-menerus bisa membuat seseorang lupa untuk kembali berharap.

Kalau boleh jujur, aku sendiri pernah kehilangan pengharapan. Seolah aku dihadapi pada jalan buntu kemanapun aku melangkah. Dan yang lebih jujur lagi, aku pernah lelah berharap karena terlalu sering dikecewakan oleh harapan itu sendiri. Sepertinya pernah kuceritakan mengenai itu di blog ini. Akan tetapi hidup memiliki caranya sendiri bagi setiap manusia. Selama masih bernafas, maka roda kehidupan masih terus berputar.

Untuk menjaga agar harapan tetap realistis itu juga penting. Akan tetapi untuk berhenti berharap adalah sesuatu yang mustahil. Mengingat kelompok tari tadi... mereka saja, yang memiliki keterbatasan, berani untuk bertindak dan berharap. Apalagi lagi kita - aku dan kamu? Seperti kata seorang sahabatku, "Hope is what I go to sleep with every night, and what I wake up for every morning." Dan aku tidak bisa tidak lebih setuju dari itu.

Kuncinya adalah menerima, melanjutkan hidup dan jangan pernah berhenti berharap, apalagi menyerah. Itu yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri, manakala aku sedang berada di titik terendah kehidupanku.

Si Mami

Akhirnya maminya S tiba juga. Pagi tadi, setelah *ehem ehem* kilat (yang sepertinya karena adu argumen kemarin malam), kami buru-buru mandi lalu berkendara ke bandara. Dan benar saja, ketika kami tiba ternyata pesawat yang ditumpangi maminya sudah mendarat, dan maminya sudah menuggu beberapa saat di sana. Aku, yang merasa tidak enak karena terlambat, berkali-kali minta maaf. Aduh, masa iya, kesan pertama bertemu mertua adalah aku orang yang tidak tepat waktu? Apalagi jika mengingat alasan kami terlambat...

Anyway, dari bandara aku mengantar mereka ke sebuah restoran yang menyediakan menu-menu sarapan untuk kami sarapan sekaligus hampir makan siang. Di sana, sambil menunggu pesanan, kami mengobrol santai. Lebih tepatnya sih, maminya menanyaiku ini dan itu, layaknya sedang mengintoregasi. Seperti fit and proper test gitu deh. Hehehe... enggak deng. Aku berlebihan.

Selesai makan, kami kembali pulang. Namun baru beberapa saat tiba di rumah, maminya bersikeras minta diajak jalan-jalan. S melarang karena maminya baru saja menempuh perjalanan panjang dan seharusnya istirahat. Tapi katanya, "Mami ini jauh-jauh datang ke sini, masa cuma berdiam diri di rumah? Mami masih kuat lho." Dengan itu, maka berakhirlah sudah rundingan, dengan hasil aku memihak maminya dan S mengernyitkan alisnya kepadaku, menyadari mulai terciptanya aliansi antara aku dan maminya. Kubalas dia dengan cengiran selebar cengir kuda.

Jadilah maminya kubawa jalan-jalan ke sebuah tempat wisata yang pernah aku dan S datangi. Sepanjang perjalanan maminya terus mengobrol, menanyaiku tentang kotaku, dan terutama ingin tahu banyak mengenai tempat wisata yang kami kunjungi. Pokoknya jika dibukukan, obrolan kami seharian ini bisa lulus syarat penerbitan novel.

Menjelang sore, S mengajak kami pulang dengan alasan aku masih harus menyetir pulang ke rumahku, yang letaknya cukup jauh dari rumah S. Iya, malam ini tidak ada acara inap-inapan karena ada maminya S. Di perjalanan pulang, S menyetir, maminya duduk di kursi penumpang dan tertidur, sementara aku duduk di kursi belakang. Berkali-kali S menatapku dari spion mobil dan kami saling beradu pandang. Seolah kami bisa berbicara melalui tatapan, aku tahu dia meminta maaf karena celotehan maminya yang tiada henti. Meski S selalu ikutan nimbrung dalam obrolan dan canda kami, tapi pada dasarnya aku lebih banyak berbicara. Aku memberinya senyum pengertian. Lagipula, aku menikmati obrolan dengan maminya tadi.

Aku sudah hampir menoleh ke arah jendela di samping ketika kulihat dia masih menatapku, sambil sesekali mengalihkan tatapannya ke jalan di depan. Lagi-lagi dia meminta maaf melalui tatapannya itu, dan kali ini aku tahu apa maksudnya. Dia meminta maaf atas kejadian kemarin malam. Padahal semalam kami sudah saling minta maaf, begitu juga tadi pagi. Namun melalui tatapan ternyata rasanya lebih menyentuh dan lebih tulus. Jadi ingat dengan kalimat "If looks can kill..." Melihat tatapannya, aku hanya menggelengkan kepala, seperti berkata, Lupakan saja. Lagipula pertengkaran itu tidak sepenuhnya salahnya. Aku juga salah.

Sisa perjalanan kuhabiskan dengan menyelesaikan buku yang sedang kubaca. Lalu setelah tiba di rumah S, aku segera pamit pulang. Dan sekarang, lagi-lagi, aku masih belum bisa tidur. Padahal tubuhku sudah berteriak minta diistirahatkan. Tapi apa daya, mataku belum mau menyerah. Entah karena dua gelas kopi hitam yang tadi kuminum, ditambah seperempat gelas kopi milik S, atau karena aku tidak berceloteh mengenai pikiran-pikiranku kepada S, seperti yang biasa kulakukan.

Semalam, setelah selesai menulis blog, aku bisa langsung tidur. Semoga malam ini juga begitu. Semoga menulis di sini, di tengah malam buta, bisa menjadi obat tidur untukku. Jika S bisa tidur setelah kuninabobokan dengan celotehanku, maka aku bisa tidur setelah berceloteh di sini. Makanya, kupikir blog ini seharusnya kunamakan "Celotehan Rae."

Ah, baiklah. Aku sudah mulai ngawur. Sebaiknya aku akhiri di sini lalu bersiap tidur.

Selamat malam, maksudku pagi, dunia.