Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image
Showing posts with label Little Brother. Show all posts
Showing posts with label Little Brother. Show all posts

Sunday, 24 February 2013

Ketika Si Bungsu Ngambek

Ketika adikku yang pertama, Si Tengah, memulai kehidupan berkeluarga, maka jelas yang tersisa hanya aku dan Si Bungsu. Untung saja dengan beda usia 8 tahun, aku dan dia ternyata bisa nyambung. Iya, adikku yang satu ini memang lebih bisa diajak mengobrol serius. Sering kami berdua, ketika kuajak dia makan atau sekedar duduk santai di kafe, membicarakan hal-hal yang sepertinya jarang terpikirkan oleh anak seusianya pada umumnya. Bahkan Mama juga mengakui hal itu.

Akan tetapi, ini ada tapinya deh, meski pemikiran dan pendapat-pendapatnya bisa dikatakan dewasa, namun usianya masih terlampau muda dan begitu juga dengan kelakuannya yang masih kekanak-kanakan. Iya, masih sering ngambek kalau kemauannya tidak diikuti, atau mogok bicara jika merasa tidak diperhatikan. Seperti yang terjadi beberapa minggu kemarin, Si Bungsu ngambek dan ogah-ogahan diajak ngobrol. Ketika Mama bertanya kepadaku ada apa dengan dia, akupun tidak bisa menjawab karena tidak tahu-menahu alasannya. Ternyata alasannya adalah dia merasa kami semua tidak lagi menghiraukannya. Katanya kepada Mama, kami semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa memperhatikan kebutuhannya maupun urusan sekolahnya, padahal sebentar lagi dia harus ujian dan mendaftar kuliah. Itu ngomongnya, menurut Mama, sambil marah-marah dan menahan sakit hati.

Seminggu yang lalu dia juga ngambek karena Si Tengah tidak menjahitkannya baju putih untuk perayaan Cap Go Meh yang jatuh tepat pada hari ini. Saat ditanya apa dia akan mengikuti perayaan, dia menjawab tidak. Makanya adikku yang pertama tidak menjahitkannya baju. Eh, begitu Si Bungsu melihat baju Si Tengah, langsung dia ngambek. Katanya," Gitu ya, bajuku tidak dijahitkan." Oalah, ternyata dia maunya dibujuk oleh Si Tengah supaya ikut perayaannya dan menjahitkannya baju untuk dikenakan saat prosesi.

Lalu ada lagi kejadian dia mogok bicara dan mood-nya jelek karena masalah cinta. Ahay! Adikku yang satu itu rupanya sudah mengenal yang namanya jatuh cinta. Jadi ceritanya dia naksir salah seorang cewek di kelasnya. Kusebut saja dia El. Eh, sayangnya setelah cek dan ricek, ternyata El masih bersaudara dengan Mama. (Dunia itu memang hanya selebar daun kelor kalau masalah percintaan, Dek. Hehe...) Maka buyarlah sudah hubungan mereka. Dan yang membuatnya cemberut setiap kali pulang ke rumah adalah katanya El sedang menghindari dia untuk alasan yang tidak jelas. Pasalnya, sehari sebelumnya Mama mengajak El makan bareng sepulangnya mereka dari les. Makanya Si Bungsu sedikit kesal sama Mama karena dikiranya Mama ngomong yang enggak-enggak sama El. Hihihi... lucu, kan? Padahal Mama nggak ngomong apa-apa gitu lho. Saking sedihnya mungkin, dia sampai mendengarkan lagunya Shiga Lin - I'm Still Loving You berulang-ulang, lho. Dan lagunya Kim Tae Yeon - I Love You. Hehehe...

Setelah nyaris 3 minggu penuh dia ngambek, baru minggu ini mood-nya kembali ceria. Kemarin saat kujemput dia sudah sudah mulai melucu, bernyanyi-nyanyi, bahkan sampai meniru suara Rachel (Glee) yang nyaring dan melengking itu, membuat kami semua di mobil tertawa. Apalagi setelah bajunya sudah selesai dijahit dan aku juga mulai kembali mendekatinya dengan mencarikan formulir pendaftaran untuk dia kuliah, dia kembali riang. Eh, bahkan juga kubujuk dia dengan membelikannya case untuk ponselnya, lho. Secara sudah sejak bulan lalu dia merengek-rengek kepadaku, minta dibelikan case baru. Akhirnya baru kesampaian sekarang.

Sekarang dia sudah terlihat bersemangat kembali. Sudah kukirimkan padanya persyaratan yang harus dipenuhinya untuk keperluan pendaftaran dan ada beberapa yang sudah dikerjakannya. Hanya tersisa surat keterangan tidak buta warna oleh dokter mata yang belum, karena itu Senin besok aku akan mengantarnya ke dokter mata.

Ah, adikku yang satu ini memang ada-ada saja kelakuannya, tapi justru itu yang membuat kami semua sayang padanya. Mungkin ini salah satu kebahagiaan dengan menjadi seorang kakak... and I precious it. 

Friday, 14 December 2012

The Wedding

"Giliranmu kapan?" Itu pertanyaan yang seharian penuh dilontarkan kepadaku di hari pernikahan adikku.

"Wah, masih lama," jawabku asal saja.

"Keduluan si adik dong." Komentar lain yang turut disembur para undangan.

"Iya nih. Akunya masih belum jelas kapan, makanya kubiarkan saja dia menduluiku. Daripada dia depresi karena kelamaan menungguku. Ha ha ha," balasku, lebih asal lagi.

"Cepat-cepatlah kamu cari. Jangan kelamaan, nanti keburu tua." Komentar yang lain. Tak mau menyerah sepertinya mereka, sampai aku mengenakan baju pengantin. Idih, mau cari di mana? Apa perlu kupasang iklan di sini, begitu?Bunyinya: "Ayo, ayo, yang mau sama aku, mari mendaftar." Mending ada yang daftar ya. Tapi itu namanya sudah usaha, kan? Kalau dapat, ya syukur. Gak dapat, tragis. *kode Nita* Ha ha ha.

Jadi begitulah, pernikahan berlangsung dan aku sukses wara-wiri sehari penuh dengan high heels dan rambut yang terlalu banyak disemprot hair spray. Satu hal yang membuatku sadar saat itu, selain make up-ku yang tebal, adalah sekarang adikku yang satu itu telah memilih jalan hidupnya; berkeluarga. Sebuah keputusan yang kuharap telah dipikirnya baik-baik, mengingat usianya yang masih termasuk cukup muda untuk memulai sebuah keluarga. Sebagai seorang kakak tentu aku mengharapkan yang terbaik bagi keluarga barunya.

Sekarang tersisa aku dan Si Bungsu. Kupikir masih ada waktu yang cukup lama untuk dia juga melangkahiku, mengingat usianya yang terpaut 8 tahun dariku. Masih muda, masih hijau. Eh, tapi siapa tahu setelah pasang iklan lalu ada yang melamar? Ha ha ha!!!

Ah, sudah mulai meracau postingannya. Kuakhiri dulu sampai di sini. Pokoknya aku selalu mendoakan kebahagiaan dan keutuhan keluarga adikku. Dan tentu saja dengan senang hati kubiarkan dia menduluiku. Sudah dulu ya, mumpung sedang berada di luar kota, aku kepingin berburu makanan. Yuk!

Thursday, 10 February 2011

Mission Glee

Gue pusing setiap kali lihat Bontot pulang pasti bawa tontonan DVD Korea dan kerjaannya nonton drama Korea melulu. Enggak heran kalau semua lagu yang disimpan di FD-nya adalah lagu-lagu Korea. Dan yang lebih parahnya lagi, desktop wallpaper-nya menunjukkan slide show dari foto-foto Lee Jun Ki. Lee Jun Ki, sodara-sodari sekalian... LEE JUN KI!!!

Maka gue memutuskan untuk segera menjalankan "Mission Glee", sekalian gue pengen lihat reaksinya terhadap tokoh Kurt. Well, you know what I mean, right? Caranya adalah gue ngojok-ngojokin dia untuk nonton Glee dan gue kasih semua lagu-lagunya Glee. Hehehe... Dan hasilnya... SUKSES!!! Bontot is officially into Glee, dan keracunan Glee. Buktinya, gue dan dia mengobrol soal Glee selama perjalan pulang saat gue jemput di kost. Yay!

What makes me happier is that he's actually fine with Kurt! Hehehe. Yup, ternyata dia cukup open-minded karena tidak ada komentar miring ketika gue mengenalkannya dengan kata "homoseksual". Dia malah muji-muji kalau suara Kurt itu baguuuuussss. Dengan begitu, maka gue bisa sedikit bernapas lega.

The next day, gue pinjam laptop Bontot untuk online. And guess what I found... accidentally, gue menemukan link-link gay fiction di Bookmark-nya. What a surprise!!! Selama satu menit gue cengo sambil membaca cerita fiksinya (teteuuup penasaran pengen baca... hahaha) dan menit berikutnya, muncul sebuah pertanyaan: is it before or after the Mission Glee??? Jelas pertanyaan itu muncul dalam benak gue berulang-ulang.

Apa yang harus gue lakukan??? Gue jadi bingung sendiri. Akhirnya gue tanya sama Kopi dan katanya mendingan gue diemin aja dulu dan jangan tanya apa-apa ke Bontot. Gue setuju karena gue pikir itu yang terbaik untuk sementara ini. Lagipula usianya masih terlalu muda (bahkan gue saat seumuran dia juga hobinya masih main melulu dan gak terlalu memikirkan soal orientasi seksual gue). Gue juga memutuskan untuk menunggu hingga dia sendiri yang datang dan bilang langsung ke gue, itupun kalau dia memang ternyata seperti yang gue duga. Atau gue hanya menunggu hingga dia datang dan membicarakan masalah kebingungannya atau apapun itu.

Masalahnya adalah gimana gue bisa meyakinkan dia bahwa gue adalah orang yang tepat untuk diajak ngobrol ketika dia butuh. Jelas gue yang duluan comming out ke dia sama sekali tidak termasuk dalam solusi pemecahan masalah, bok. Tapi itu mungkin itu masih masalah nanti. Yang perlu gue lakukan adalah memerhatikan gelagat-gelagatnya mulai saat ini. Dan apapun yang terjadi nanti, he's still my little brother and I'm lucky to have him.

Sunday, 31 October 2010

Punya Pacar Nggaaakkk???

(On the phone)

Rae: De, punya pacar nggak?
Bontot: Apaan sih? Nelpon nanya gak penting.
Rae: Udah makan?
Bontot: Udah.
Rae: Bikin PR?
Bontot: Udah juga dong.
Rae: Udah punya pacar juga dong kalau gitu?
Bontot: Tauuuuuuuuuuuuuuuuuuu...

Tut...tut...tut... (emang dasar anak kurang asem. Hahaha).

(In the car)

Rae: Punya pacar nggak, De?
Bontot: Apa lagi sih?
Rae: Masa nggak punya?
Bontot: Tau.
Rae: Masa cewek gak punya sih?
Bontot: Enggaaaakkk...
Rae: Cowok dong ya?

*PLAK* (mendaratlah sebuah tepukan keras di pundak saya.)

Rae & Bontot: Huahahahahahaha.

Ps. Tenang, tenang... adik saya itu sedang naksir dengan seorang teman sekelasnya. Perempuan kok. Hahaha *fiuuuhh... ngelap keringat di jidat*

Saturday, 23 October 2010

Kesalahan Orang Tua

Minggu lalu, adik saya yang paling bontot bilang kalau dia sempat jatuh dari tangga saat mengangkat meja di sekolah dan membuat celana panjangnya sobek. Sontak kami semua yang berada di dalam mobil, termasuk adik saya itu, tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya. Rasanya lucu membayangkan gayanya saat jatuh - dari atas sampai bawah dengan gaya duduk - apalagi tahu kalau celananya sobek dan mengakibatkan celana dalamnya nongol. Duh, eksibisionis sekali kamu, De. Hehehe.

Malam itu kami tertawa terbahak-bahak. Esok harinya, di antara obrolan kembali kami menyinggung peristiwa lucu adik saya yang jatuh dari tangga. Setelah dipikir-pikir lagi, peristiwa itu bisa saja menjadi sebuah peristiwa buruk, dan bukannya menjadi kisah lucu. Bisa saja adik saya kenapa-napa karena jatuh atau bisa saja dia terluka parah. Jika dilihat besarnya sobekan di celananya, ajaib adik saya baik-baik saja. Bahkan luka setitik pun tidak ada. Cuma malunya aja yang gede :p.

Mama pun bersuara, katanya "itu sebuah teguran untuk mama sebagai orang tua." Maksud Mama, kecelakaan ringan yang dialami adik saya merupakan sebuah teguran halus untuknya sebagai orang tua. Mama merasa telah melakukan sebuah kesalahan sehingga Tuhan memberikan teguran melalui kecelakaan yang dialami adik saya.

Duk! Jeder!

Detik itu juga saya merasa tertohok, seolah kejatuhan batu dari atas lalu ada petir menyambar-nyambar, persis seperti di film-film. Ya ya ya, saya tahu itu lebay sekali. Tapi sungguh saat itu jantung saya seperti berhenti berdetak. Pikiran saya mulai berkecamuk. Jika kecelakaan adik saya itu sebah teguran karena Mama melakukan sebuah kesalahan, lantas kesalahan apa yang Mama perbuat sehingga salah satu anaknya ada yang lesbian? Duh, sungguh sedih hati ini mengingat jika Mama yang merasa bersalah karena saya ini lesbian :(.

Iya, mungkin saya akan mendapatkan ocehan dari sesama lesbian yang akan mengatakan kalau kelesbianan saya bukan karena kesalahan yang diperbuat orang tua. Mungkin saya akan diberitahu untuk tidak usah memikirkan hal semacam itu. Saya tahu, saya tahu. Percaya deh, saya tahu. Namun untuk kali ini, izinkan saya untuk ber-melankolis sedikit dan memikirkan kemungkinan seperti itu karena terkadang saya tidak ingin membela diri. Terkadang saya ingin hanyut dalam perasaan bersalah dan membuat saya lama merenung (ya ya ya, saya ini masokis akut).

Bukan. Bukannya saya menye-menye nggak jelas. Bukannya saya mau jadi lesbian yang lemah. Hanya saja saya pikir bahwa kadang saya harus introspeksi diri dan melihat lagi hal-hal yang selama ini saya anggap benar. Saya tahu  pandangan saya tentang menjadi seorang lesbian itu merupakan pembenaran diri semata. Sering saya memperjuangkan pandangan saya itu, tapi terkadang saya merasa perjuangan saya itu hanya untuk menenangkan hati dan merasa lepas dari rasa bersalah.

Ah, ngomongin soal dosa tentu tidak akan ada habisnya karena setiap orang akan merasa dirinya yang paling benar saat mengutarakan pendapat. Tapi satu hal yang saya tahu, dengan merenung dan menyelami perasaan bersalah, membuat saya berusaha keras untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan.

Sunday, 6 June 2010

Belajar Keyboard

Beginilah efek dari memiliki pacar yang bisa main alat musik; biola dan gitar. Saya juga mendadak jadi ingin bisa main alat musik, apa pun itu alat musiknya. Heran juga hanya saya seorang yang tidak bisa memainkan satu pun alat musik, padahal kedua adik saya bisa. Yang satu bisa main drum dan gitar, sedangkan yang bontot bisa main keyboard dan piano. Saya? Gigit jari. Ha ha ha. 

Sebelumnya saya pernah bilang ke Kopi kalau saya ingin belajar main gitar. Dia tanya kenapa saya mendadak ingin belajar main gitar, saya bilang biar keren. Soalnya saya selalu menganggap cewek yang bisa main gitar itu keren. Hmm, geregetan gitu kalo melihat ada cewek yang lagi main gitar, apalagi biola (bisa-bisa Kopi ge-er deh)

"Masa sih keren?" Tanya Kopi.
"Iya keren! Keren soalnya mereka bisa main gitar sedangkan gue nggak bisa." *sambil nyengir*
"Tapi nanti jari-jarinya bisa luka-luka, lho."
*jadi mikir* "Ehm, kalo gitu nggak jadi deh. Ha ha ha."

Begitulah, jadi niat untuk belajar main gitar saya urungkan dulu. Dan karena biola tidak jauh beda dengan gitar yang bisa bikin jari saya kapalan, maka biola pun dicoret dari daftar. Nanti saja kalau saya sudah siap jari-jari saya luka-luka dan kapalan. He he he. Kalau begitu pilihan yang tersisa adalah drum, piano dan keyboard. Tapi berhubung  yang tersedia di rumah hanya keyboard, maka itulah yang paling memungkinkan. 

Barusan, selesai makan siang, saya minta ke adik saya yang paling bontot untuk mengajari saya main keyboard. Dia langsung mengiyakan asalkan nanti dia dibelikan es krim. Beneran deh, kecil-kecil udah perhitungan. Huh. 

Duduklah saya di depan keyboard sementara adik saya membolak-balik halaman buku lagunya. Setelah ketemu lagu yang tepat, dia letakkan bukunya di hadapan saya. satu detik, dua detik... Lima detik... Sepuluh detik... Saya masih menatap buku di hadapan saya dan tidak menyentuh tuts keyboard. 

"Kok bengong?" Tanya adik saya.
"Lha, kan Cici nggak bisa baca not, Dedeee."
"Ya ampuunnn, ini kan lagunya gampangggg."
"Iyaaaa, tapi ini not-nya not balok, Deeeee."
"Ya iyaaa, masa mau not kayu???" 

Lima menit kemudian kami masih ngotot-ngototan soal not. Ya iyalah, orang saya not angka saja buta, apalagi not balok yang melingkar-lingkar itu. Bikin saya pusing. Akhirnya adik saya menyerah. Diambil buku musiknya dan diletakkan kembali ke dalam laci. Katanya tidak usah belajar pakai buku dulu. Katanya not saja nggak bisa baca, apalagi belajar kunci dan segala macamnya! Uhh, mendadak kepala saya pusing. Apaan itu? *bengong tolol* 

Sekarang gantian dia yang duduk di depan keyboard. Dengan lagak sok ngguru, dia bilang, "Lihat baik-baik, ya, tuts mana yang dipencet dan coba diingat-ingat nadanya." Saya hanya mengangguk layaknya seorang murid yang patuh. Huh, jatuh deh harga diri saya (he he he). Dia mulai memainkan beberapa nada. Eh, tunggu sebentar. Sepertinya saya tahu lagu apa yang tengah dimainkannya. Uh oh, dia memainkan lagu "Balonku ada Lima". Hayaaaaahhhhhhhh....!!!! Tegaaaaaa!!!! Masa saya disuruh belajar lagu yang itu??? Hah! Harga diri saya jatuh dan diinjak-injak *ketawa miris* 

Selesai dia memainkan satu lagu, gantian dia menyuruh saya mengulang lagu yang tadi. Dengan pasrah saya ikuti perintahnya. Saya mulai mengingat-ingat nadanya dan tuts mana yang tadi dipencet adik saya. Perlahan tapi tidak pasti saya mulai memainkan lagu itu. Sesekali jari saya salah pencet yang membuat nadanya jadi sumbang. Adik saya yang sedang berdiri di samping sudah mulai kesal. Saat sedang serius, tiba-tiba SMS dari Kopi masuk, dan tanpa ba-bi-bu langsung saja tangan saya meraih HP. 

"Woiiiiiiiiiiiiii, jangan main HP muluuuuu!!!!" (Galak amat nih anak)

Akhirnya, akhirnyaaa, setelah beberapa kali mengulang, saya bisa juga memainkan lagu "Balonku ada Lima", lengkap meskipun masih ada salah pencetnya. He he he. 

"Besok masih mau belajar lagi nggak? Besok lagu yang lain." 
"Nggak ah, De. Rugi Cici beliin kamu es krim, habisan kamu galak ngajarinnya."
"Ha ha ha ha ha." 

Jadi kalau saya ditanya apa masih mau belajar alat musik lagi, saya akan menjawab: "Nggaaaaakkkkk..." Bukan. Bukan saya menyerah. Tapi saya memang tidak bakat *ngeyel* Iya beneran, lho. Jari-jari saya kaku! He he he. Ya sudah, saya ada bakat lainnya. *menghibur diri* 

Saturday, 15 May 2010

Panik!

Kepanikan melanda seisi rumah. Bagaimana tidak? Tadi ketika sedang sibuk-sibuknya packing, ada suara gedebuk dari arah kamar mandi. Ternyata adik saya yang pertama, yang tengah berkunjung, pingsan! Aduh, paniklah semua orang di rumah. Padahal sebelum-sebelumnya dia terlihat baik-baik saja, malah sempat ketawa-ketiwi pula. Eh, tahu-tahu udah pingsan aja di kamar mandi. 

Mama langsung teriak-teriak saking paniknya. Adik saya yang bontot malah menangis sambil menepuk-nepuk wajah Koko-nya. Lah, saya? Saya malah bolak-balik kamar mandi-kamar sambil mencari HP. Begitu HP ketemu, bingung mau nelpon siapa saking paniknya. 

"Musti dibawa ke RS!"

Teriakan Mama menyadarkan saya. Oh iya, RS! Langsung saja kami bertiga berusaha menarik tubuhnya keluar dari kamar mandi. Tapi ya, yang tengah pingsan itu tubuhnya jauh lebih besar dari kami bertiga. Ya jelas saja mau sekuat apapun tenaga kami, tetap saja tidak berhasil mengangkat tubuhnya. Untung saja ada tetangga yang ikut membantu. Salah satu di antara mereka bahkan menghubungi RS agar segera mengirimkan ambulans. Akhirnya adik saya dibawa ke RS.

Begitu tiba di RS, dia langsung dibawa ke UGD. Masih harus menunggu beberapa saat sebelum adik saya ditangani dokter. Setelah ditangani, dokter bilang karena tekanan darahnya tinggi dan mungkin karena pengaruh livernya, dan dokternya bilang harus rawat inap (ya iyalah, pak dokteeerrrr... adik saya itu pingsan).

Tapi untunglah adik saya sudah sadar dan sudah agak mendingan, meskipun masih agak demam. Aduh, adik saya yang satu ini memang paling nggak mau bilang-bilang kalau lagi ada masalah atau lagi sakit. Tiba-tiba pingsan begitu kan semua jadi panik. Tapi semoga dia bisa cepat sembuh.

Saturday, 8 May 2010

Lulus!

Sebuah pesan singkat dari Jagoan Kecil masuk ke HP saya ketika saya sedang dalam perjalanan kembali ke rumah setelah kurang lebih 4 hari tugas di luar kota. Bunyinya: "Cici, aku lulus!!!" Oh iya, hari ini kan hari pengumuman kelulusan. 

Rasa bangga langsung membuncah di dada saya. Ah, adik saya tidak lama lagi akan menanggalkan seragam putih birunya. Tidak lama lagi dia akan mengenakan seragam putih abu-abu. Ya, tapi kalau dia berhasil masuk di sebuah SMA di Magelang, ya tentu seragamnya bukan putih abu-abu. Sekolahnya semi-militer soalnya. 

Rasanya seperti baru kemarin melihat tubuh mungilnya di gendongan Mama, melihatnya merangkak dan belajar berjalan. Sebelum tinggal berdua dengannya, kami memang jarang bertemu. Paling sekali dalam setahun saat saya pulang ke rumah untuk merayakan Natal. Kini dia sudah beranjak remaja. Sebentar lagi akan mengenal cinta monyet. Sebentar lagi akan punya pacar. Apa sudah punya, ya? Hmmm akan saya selidiki nanti hehehe. Sebentar lagi dia tidak akan lagi menjadi Jagoan Kecil (tapi Jagoan Neon hahaha). 

Saya jadi teringat obrolannya mengenai cita-citanya yang seabrek-abrek itu (Baca: Jagoan Kecil Cari Perhatian). Saya jadi semakin bangga dengannya. Semoga dia bisa berhasil dalam menggapai cita-citanya, doa saya dalam hati. 

Segera saya membalas SMS-nya, "Horeeeee!!!! Selamat ya, De. Jadi nanti kamu mau dibeliin apa? :)" Saya pernah berjanji kalau nanti dia lulus, saya akan memberinya hadiah. Selang beberapa menit kemudian masuk SMS balasan darinya: "Ke Trans Studio aja yuk, Ci?!" Jiah, ini anak memang doyan ke Trans Studio. Besok-besok saya bawa dia sekalian ke Dufan atau Disney Land, deh. 

Sebelum pulang ke rumah, saya mampir membelikannya pizza. Alhasil saya disambut senyum sumringahnya ketika tiba di rumah. 

"Nanti kita makan sambil nonton DVD ya, Ci. Aku baru beli film horor Korea dan Thailand kesukaan Cici." Padahal dia sendiri takut kalau nonton film horor. Apalagi film horor Asia (maaf, film horor Indonesia tidak termasuk di sini) yang terkenal seram. Jadilah sepanjang malam kami habiskan dengan menonton film horor sambil menikmati pizza yang tadi saya belikan. Tapi sepanjang film si Jagoan Kecil menutup matanya sambil mengunyah pizza hahaha.

Ps. Postingan kali ini ditulis saat sedang berada di kamar yang selalu nyaman meskipun agak sedikit berantakan (hehe) dan ditemani Jagoan Kecil yang sudah tertidur pulas, yang tadi merengek minta tidur di kamar saya karena ketakuan. Berarti malam ini saya harus siap-siap ditendang-tendang Jagoan Kecil yang gaya tidurnya parah. Guling sana guling sini!

Sunday, 25 April 2010

Jagoan Kecil Cari Perhatian

Pintu kamar saya diketuk pelan dari luar saat saya tengah menyelesaikan laporan yang tidak ada habisnya. Siapa lagi kalau bukan adik saya? Kalau Sam menyebut adik saya itu Jagoan Kecil. 


Saya cuma tinggal berdua dengan dia, meskipun terkadang Mama sering datang berkunjung sekalian mengurusi beberapa urusan bisnisnya. Tapi malam ini tumben-tumbenan dia pakai acara ketuk pintu dulu. Biasanya juga langsung buka pintu dan main masuk sembarangan. 

Dia masuk dan duduk di tempat tidur sambil membuka-buka lembaran novel The Lost Symbol-nya Dan Brown yang tebalnya ngalah-ngalahin Alkitab (hehehe), yang sampai detik ini belum selesai saya baca. Tidak saya pedulikan dia. Perhatian saya ada pada laporan yang tengah saya kerjakan. 

Tiba-tiba dia berkata, "Ci, aku pengen jadi arsitek." 

Saya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda setuju. Lumayan kan kalau si Jagoan Kecil ini jadi arsitek. Nanti model rumah masa depan saya bisa minta dia yang gambarin hehehe. Lagian Jagoan Kecil ini memang senang menggambar sejak kecil. Dulu saja, ketika masih duduk di bangku kelas 6 SD, dia bisa memiliki ide untuk menyambungkan beberapa lembaran karton putih menjadi satu, lalu mulailah dia menggambar di atasnya. Ketika ditanya apa yang dia gambar, jawabnya, "Ini gambar bandara." Dia menggambar bentuk gedung-gedungnya lengkap beserta jalur lepas landasannya. 

"Aku juga kepengen jadi ilmuwan yang bisa membuat pesawat terbang." 

Wah, mau jadi seperti Bapak B.J. Habibie juga dia! Sekali lagi saya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda setuju. Lumayan dia bisa membuatkan kami pesawat keluarga (hahaha). 

"Tapi aku juga pengen jadi pilot, Ci."

Lagi-lagi saya menganggukan kepala. Hebat juga nih anak. Jadi begitu pesawat selesai dibuat, bisa sekalian dia yang sopirin pesawatnya. 

"Tapi aku juga pengen jadi dokter, Ci." 

Kali ini saya berkomentar, "Ya boleh-boleh saja. Kalau cita-citamu sebanyak itu, mendingan sekarang belajar gih. Biar pintar."

Dia diam sesaat. Lalu katanya lagi, "Bantuin aku bikin PR dong, Ci."

Tumben dia minta saya membantunya mengerjakan PR. Biasanya juga dia bisa mengerjakan PR-nya sendiri. Saya mengalah dan mengikuti dia ke kamarnya. PR-nya ternyata Matematika. Saya baca soalnya. Hah, ini anak bener-bener deh. Soal segampang itu masa minta bantuan saya. Saya yakin betul dia bisa mengerjakan soal-soal tersebut tanpa bantuan saya. Si Jagoan Kecil ini memang jago dalam mata pelajaran hitung-hitungan. 

Saya sudah bisa menebaknya. Pasti Jagoan Kecil lagi kangen Mama. Biasanya kalau lagi kangen Mama, dia cari perhatiannya ke saya dengan segala caranya. Dan kali ini adalah minta bantuan untuk mengerjakan soal Matematika. Jadinya saya temani dia selama satu jam untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Ternyata Jagoan Kecil ini masih anak Mama juga hehehe.