Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Tuesday, 12 November 2013

The People I Met: The Lonely Lady

Minggu sore, di sebuah restoran Indonesia yang terletak tepat di jantung kota, aku duduk di salah satu meja sambil menyantap ketoprak. Iya, begitulah caraku memanjakan diri, dengan membeli makanan di luar sekali-kali. Hal yang amat sangat jarang kulakukan demi menghemat pengeluaran. Namun hari itu aku tiba-tiba saja kepingin makan ketoprak dan memang ketoprak buatan restoran itu yang menurutku paling enak.

Restoran sangat sibuk hari itu. Mungkin juga karena didukung dengan cuacanya yang sangat dingin, membuat orang-orang kelaparan. Bagiku, sekalian mengobati rindu sekaligus menghangatkan diri sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Lagipula Si Ayang bisa bawel seperti nenek-nenek jika aku mendadak hipoglikemi (tidak paham dengan apa itu hipoglikemi? Well, setelah pacaran dengan Si Ayang baru aku sendiri tahu apa itu). Aku sedang menikmati ketoprakku ketika seorang perempuan yang usianya melampaui usia Mama menghampiriku, bertanya apa ia boleh berbagi meja denganku. Aku mengiyakan karena kulihat tak ada lagi meja kosong.

Selang beberapa waktu kami hanya menikmati makanan masing-masing tanpa saling berucap kata. Namun entah siapa yang memulai, percakapan pun akhirnya mengalir di tengah dengungan obrolan orang-orang di sekitar kami. Ia, perempuan asal Indonesia, kini hidup sendirian di sini, tanpa suami dan anak. Suami dan orang tuanya sudah meninggal, anak juga tak punya. Sanak saudara tinggal di berbagai belahan dunia lainnya dan ia sendiri sudah nyaris puluhan tahun tak pernah pulang ke Indonesia. Dalam hati aku merasa sedikit iba. Maksudku, betapa sepinya hidupnya. Di usia tua tapi harus hidup sendirian. Namun kemudian aku sadar bahwa hidup seperti itulah yang sedang kutuju...

Obrolan berlanjut sambil kami menyantap hidangan. Dan betapa herannya aku ketika dengan mudahnya aku meceritakan sepenggal kisah hidupku kepada seorang asing. Ia termasuk seorang yang ramah, membuatku nyaman mengobrol dengannya. Ia banyak bertanya tentangku dan banyak memberiku nasehat serta tips menghadapi cuaca Melbourne. Namun satu perkataannya yang paling kuingat, katanya "Tante bisa lihat kalau kamu termasuk orang yang mau maju dan mau bekerja keras. Jadi apapun itu tujuan dan cita-citamu, pasti bisa kamu raih." Well, entah bagaimana caranya ia bisa melihat hal itu dalam diriku dari sebuah pertemuan dan obrolan singkat. Tapi kuamini saja perkataannya.

Kami akhirnya selesai makan dan memutuskan untuk berdiri demi memberi kesempatan bagi pengunjung lain. Di persimpangan kami berpisah dan ia sempat berkata, "Kapan-kapan kita bertemu lagi ya, Nak."

Ketika aku berjalan ke arah yang kutuju baru aku sadar bahwa kami tak pernah bertukar nama. Mungkin suatu saat nanti...

Monday, 21 October 2013

My Life So Far

Pada akhirnya, setelah memasuki bulan keempat aku berada di sini, cuaca Melbourne kian membaik. Well, enggak tiap hari juga sih, tapi setidaknya tidak sedingin waktu awal aku tiba bulan Juli lalu. Seperti hari ini, misalnya, suhu udara mencapai 32 derajat tadi siang dan itu untuk yang pertama kalinya hari ini aku mandi tanpa menggigil-gigil gila. Tapi namanya Melbourne, yang terkenal dengan kota yang dalam sehari bisa mengalami perubahan cuaca empat musim, tetap saja aku harus selalu mengecek ramalan cuaca sebelum bepergian supaya selalu siap sedia dengan baju hangat.

Mengenai kuliah, mulai akhir bulan ini sudah memasuki akhir semester. Semua kelasku telah selesai, tinggal final assignment sebagai pengganti exam saja yang masih harus kuselesaikan. Makanya jadwalku sudah mulai longgar, makanya bisa ngeblog. (Kode juga nih buat Ayang, aku Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu free lho, Yang. Hehehe...). Tapi itu hanya sampai minggu depan saja karena segera aku akan mulai bekerja di dua tempat.

Iya, aku memiliki dua pekerjaan sekarang. Yang pertama di sebuah restoran Indonesia di kawasan CBD. Pekerjaan ini sudah kulakukan semenjak sebulan yang lalu. Aku bekerja antara 2-3 hari dengan jumlah waktu 10-15 jam dalam seminggu sebagai waiter/wait staff/floor staff (itu istilah yang digunakan di sini untuk pelayan restoran) di situ. Pekerjaannya merangkap kasir, taking orders, making drinks, cleaning tables, folding cutlery, dan lain-lain, dan masih banyak lagi. Biasanya aku bekerja sendirian melayani pelanggan, sementara ada 2 atau 3 orang yang bekerja di dapur sebagai kitchen hand. Seringnya restoran ramai pengunjung di jam-jamnya orang pada kelaparan, makanya diharuskan untuk bisa bergerak cepat dan harus bisa menyelesaikan dua sampai tiga pekerjaan sekaligus. Multitasking istilah kerennya.

Saat baru mulai bekerja, aku kelimpungan sendiri. Bok ya, seumur-umur belum pernah aku bekerja sebagai pelayan restoran. Tapi lama-kelamaan terbiasa juga dan sudah tahu pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan. So far, pengalaman bekerja di situ asyik aja. Staff yang lain juga orang-orangnya pada ramah dan aku bisa makan masakan Indonesia gratis. Jadi aku betah saja bekerja di situ.

Pekerjaan yang kedua di sebuah restoran cepat saji lokal. Bukan, bukan. Bukan di restoran cepat saji yang terkenal di seluruh dunia itu. Tapi di restoran cepat saji yang asal franchise-nya dari sini dan hanya di sini. Lokasi restorannya tepat berada di sebuah mall dekat suburb-ku. Jadi cukup sekali naik bis ke sana. Dan berhubung restorannya baru akan dibuka, maka semua staff akan di-training minggu depan kemudian mulai bekerja di minggu berikutnya.

Menurut seorang temanku yang bekerja di restoran yang sama namun di lokasi yang berbeda, restorannya sungguh sangat sibuk dan semuanya harus serba super cepat. Seringkali staff diminta untuk bekerja overtime, namun tetap dibayar lembur. Jadi aku harus pintar-pintar atur jadwal kalau begitu. Mari kita lihat seperti apa pekerjaan di restoran itu nantinya. 

Wednesday, 16 October 2013

Jailed for Sarcastic Comment on Social Media

Well, thought I could just share this here. Ini video amatir buatanku demi memenuhi tugas kuliah dari salah satu course yang aku ambil semester ini yang bertemakan "social media failure".

 

So, better watch out what we say online. And it goes to all bloggers as well...

Monday, 14 October 2013

My Relationship So Far

Ketika aku harus mengikuti bimbingan konseling beberapa waktu yang lalu (iya, aku sempat struggle juga kok saat harus beradaptasi dengan lingkungan baru di sini), aku tanpa sengaja membicarakan orientasi seksual dengan counsellor yang menangani aku. Dia bertanya apa aku memiliki partner, kujawab iya, di Indonesia. We're doing long distance, kataku. Lalu kami berdiskusi sedikit mengenai hubunganku dengan partner. Sebenarnya aku lupa-lupa ingat apa yang kami diskusikan saat itu, tapi yang jelas si counsellor itu sempat bertanya mengenai komunikasi aku dan partner.

Kalau diingat-ingat lagi sekarang, komunikasi kami berdua memang mengalami sedikit perubahan. Dari yang tadinya bisa setiap hari teleponan dan Line, sekarang hanya bisa sebatas Line chat saja. Teleponan kami lakukan dua atau tiga kali dalam seminggu. Itu disebabkan karena kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan kuliah sambil part-time, sementara partner sibuk dengan kuliah dan ujian serta kegiatan ekstrakurikuler. Apalagi sekarang ditambah dengan perbedaan waktu yang kian panjang. Yang tadinya hanya berbeda tiga jam saja, sekarang jadi berbeda empat jam karena saat ini Australia menggunakan zona waktu musim panas, atau Daylight Saving Time. Itu artinya di saat aku bangun, si partner masih tidur atau malah baru tidur. Ketika aku hendak makan siang, si partner baru bangun. Saat aku sudah selesai beraktivitas dan bersiap tidur, si partner masih sibuk. Kadang kalau dia lagi libur, bisa menemani aku tidur. Dengan kata lain, nasibnya si partner sering aku tinggal tidur. Hehehe... 

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, komunikasi kita berdua masih terbilang lancar-lancar saja sih. Yang aku maksud di sini adalah kualitas dan bukan kuantitas seberapa banyak kita ngobrol. Ketika ada suatu permasalahan, sebisa mungkin kita berdua membicarakan hal itu. Pernah juga sih sampai gondok-gondokan segala dan berakhir dengan aku meminta untuk tidak komunikasi sama sekali sampai tiga hari. Tapi setelah tiga hari, kita berdua kembali menyelesaikan apapun itu masalahnya yang ada. Ketika ada sesuatu yang tidak aku suka, maka sebisa mungkin aku bilang, begitu juga sebaliknya. Well, so far the way we communicate and understand each other works well for our relationship. And I hope it stays that way. 

Lebih lanjut lagi, jika ditanya kemana ujung-ujungnya hubungan kita berdua ini, maka dengan jujur akan kujawab tidak tahu. Sudah pasti aku memiliki rencana untuk menetap di sini dan itu berarti selamanya bakal long distance. Tapi jika rencana partner untuk kuliah S2 di sini berjalan lancar, artinya ada kemungkinan bisa sama-sama di sini. Namun itu masih beberapa tahun lagi. Aku cukup berharap yang terbaik saja untuk saat ini, sambil menjalani apa yang kami miliki sekarang. Bukan begitu, Yang? 

Btw, malam ini kembali si Ayang aku tinggal tidur lagi. Hehehe... Aku tidur duluan ya, Yang. Love you. 

Monday, 30 September 2013

Just a Random Post

"How do you like Melbourne so far?" Pertanyaan itu hampir selalu yang ditanyakan orang-orang yang mencoba untuk memulai sebuah percakapan denganku. Dan selalu kujawab, "I like it okay, it's just the unpredictable weather that I hate so much." Lalu mereka hanya akan tertawa mendengarnya.

Beneran lho ya, cuacanya itu bener-bener ngeselin banget, banget. One minute it's warm, the next is freezing me to death. Biasanya pagi menjelang siang cuacanya hangat, meski anginnya masih lumayan kencang tapi masih bisa ditolerir oleh tubuhku yang asli buatan negeri tropis. Menjelang sore-sore gitu hingga malam hari, bisa tiba-tiba hujan dan suhunya turun drastis. Kan aku jadinya kecele dengan hanya mengenakan kaos dan jaket atau cardigan yang bahannya tipis. Apalagi kalau aku harus pulang malam. Bisa-bisa aku menggigil seperti kucing kecemplung air dingin. Tapi yasudahlah ya, sudah resiko. Kuakali saja dengan berjalan secepat mungkin sambil menggigil-gigil macam kena gempa lokal.

Anyway, sekarang ini sudah memasuki minggu-minggu terakhir semester. Tugas-tugas kuliah ada beberapa yang sudah selesai, meski masih ada tugas-tugas akhir. Tapi setidaknya tugas yang tersulit sudah lewat, tinggal menggalau menunggu hasilnya. Kemarin aku dan beberapa teman sekelas merayakannya dengan makan bareng di sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Uygur. Aku, seorang berasal dari Cina, seorang lagi dari Kamboja, dan yang terakhir dari Pakistan. Berempat kami memesan 3 hidangan yang ternyata porsinya lumayan besar. Jangan tanya apa nama makanannya karena menunya dalam bahasa Mandarin.


Hidangan yang pertama itu isinya potongan daging ayam, kentang, paprika, tomat, dan semacam gorengan tepung. Bukan gorengan sih, karena tepungnya itu kenyal. Entah apa namanya. Bumbunya itu khas banget sih, tapi mirip masakan khas kampung halamanku. Ada potongan cengkihnya juga. Pokoknya bumbunya berasa banget deh.


Dua hidangan lainnya lagi ada semacam pasta dengan potongan wortel, kacang polong, kentang. Lalu yang terakhir, di piring yang kecil itu, semacam vermicelli (bihun), tapi bihunnya itu kenyal. Lumayan pedas, tapi enak. Jadi, bagi yang ingin jalan-jalan ke Melbourne, pastikan untuk mencoba hidangan khas Uyghur ini yang terletak di sepanjang Russel Street. (Ngomong-ngomong, pada tahu kan Uyghur itu di mana? Tadinya sih aku nggak tahu juga. Hehehe.)

Anyway lagi, sebenarnya aku rencananya mau menulis topik yang lain, tapi malah menulis soal makanan. Pada postingan berikutnya saja kalau begitu. Aku keburu ngantuk, padahal seharian ini aku sudah mengebo. Bahkan semenjak pulang kuliah kemarin sore, aku langsung tidur sampai pagi. Hanya bangun sebentar di jam 12 tengah malam menemani pacar ngobrol, lalu aku kembali tertidur. Lalu tadi siang, selesai mandi dan makan, aku kembali tidur. Benar-benar pembalasan dendam yang apik karena seminggu ini aku kurang tidur. Well, welcome to the uni life!