Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Thursday, 26 July 2012

Preferred Flatmate

"Mbak Rae, hasil tes IELTS-nya sudah ada. Boleh langsung diambil di kantor ya, mbak." Begitu isi SMS yang kuterima Jumat kemarin. O ow, jeritku dalam hati. Pastinya aku cemas dengan hasilnya karena aku merasa tidak mengerjakannya dengan baik. Secara aku keburu jiper ketika melihat si bule bermata sayu yang menjadi pengawas tes.

Di bagian Listening aku kehilangan konsentrasi sehingga melewati beberapa pertanyaan. Sementara di bagian Writing aku terlalu lama mengerjakan sub-bagian kedua, sehingga sub-bagian pertama kukerjakan dengan terburu-buru dan kemungkinan besar tidak mencapai seratus lima puluh kata. Dan di bagian Speaking, aku tergagap! Banyak bengongnya daripada bicaranya karena si bule seperti sedang menginterogasiku. Blank-lah sudah otakku dalam seketika. Dia menanyaiku pertanyaan, aku menjawab dengan satu dua kata, lalu dia lanjut ke pertanyaan berikutnya. Aku tidak sempat bercas-cis-cus. Ampun deh! Yang kurasa bisa kukerjakan dengan baik hanya di bagian Reading saja.

Hari Senin siang aku ke kantor penyelenggara tes, dan ternyata, eh ternyata, hasilku memenuhi syarat dari pihak universitas! Dengan overall band score pas dengan nilai yang diwajibkan, yaitu 6.5. Oh, betapa girangnya aku! Lebih mengherankan lagi, justru nilai Speaking-ku yang paling tinggi. Dengan hasil itu maka aku tidak perlu lagi mengikuti kursus Bahasa Inggris di sana yang harganya selangit jika dirupiahkan. Lumayan kan, menghemat biaya. Hasilnya pun segera di-submit dan sekarang aku tinggal menunggu surat Conditional Offer-ku diganti dengan Full Offer dari universitas yang bersangkutan. 

Sementara menunggu, aku coba-coba mencari akomodasi. Browsing dan googling kujabani demi mencari sebuah kamar sesederhana mungkin dengan harga sewa tidak melebihi AUD100 per minggu, ditambah biaya utilities (gas, laundri, listrik, internet, dll) antara AUD30-40. Itupun dengan biaya sewa kurang lebih AUD400 sebulan, artinya aku harus menghemat biaya makan, make-up, baju, dll dll. Sekalian diet deh tuh. Untung saja kudengar kabar bahwa untuk mahasiswa internasional diberikan potongan harga jika ingin menggunakan transportasi publik, bahkan ada yang gratis, asalkan menunjukkan kartu mahasiswa. Haleluya!

Aku masuk dari satu website ke website lainnya, dan akhirnya nyasar ke website EasyRoomate. Iseng saja kuisi aplikasi dan melakukan pencarian di situs tersebut. Dan lihatlah apa yang kutemukan!

Klik pada gambar untuk lebih jelas.

Iya, aku agak sedikit norak ketika mengklik kotak isian "Preferred Orientation" itu. Secara kalau cari kamar kost di Indonesia, kan tidak ditanyai sama tante kost-nya kamu mau tinggal serumah dengan gay, lesbian atau biseksual. Ya, kan? Kan?

Lantas pilihan mana yang kupilih? Tentu saja aku memilih "Doesn't Matter." Aku tidak peduli dengan orientasi teman serumahku. Lagipula, tidak mungkinkan ketika di sana nanti lalu aku memperkenalkan diri "Hai, aku Rae dan aku lesbian." Aku tidak kepikiran untuk keluar dari lemari. Belum. Pokoknya sekarang fokusnya pengurusan dokumen, visa dan cari kamar. Yang murah!

Dan pencarian pun masih berlanjut...

Monday, 23 July 2012

Cerita Minggu

Sudah beberapa waktu lamanya aku tidak menghabiskan waktu luangku bersama kedua adikku. Biasanya di hari Minggu, kami bertiga, ditambah pacarnya si Tengah, jalan-jalan atau nonton bareng di bioskop. Tapi semenjak masalah pelik yang datang menimpa, kami tidak pernah lagi menikmati hari Minggu bersama. Namun hari ini, akhirnya kami memliki kesempatan jalan-jalan bersama, meski hanya sebentar.

Setelah mengantar Mama ke bandara, kami berempat memutuskan untuk jalan-jalan ke mal. Kami makan siang, kemudian menemani si Tengah menindik telinganya, lalu ke Naughty dan memilihkannya anting. Aneh, ya? Tidak satupun telingaku ditindik. Dipaksa pun aku tak mau. Dan ini adikku malah memiliki dua tindikan di kedua telinganya. Ketika kutanya kenapa ditindik, jawabnya supaya mirip Lee Min Ho. Halah, memangnya Min Ho telinganya ditindik? Si Bungsu pun menyeletuk, "Si Koko mah gara-garanya pacarnya dilirik cowok lain, yang dandanannya mirip Lee Min Ho. Makanya jadi ikutan pengin tindik." Ada-ada saja.

Beres dengan urusan tindik-menindik dan telinga, pacarnya si Tengah mengajak foto bareng. Kamipun menyetujui usulnya. Maka kami berempat bergegas ke sebuah arena bermain yang menyediakan photo box. Beberapa klik di layar, dan kamipun siap berpose, mulai dari pose jaim sampai dengan pose tergila, dengan berbagai latar yang tersedia. Aku jadi kangen dengan teman se-gengku. Dulu, jika baru saja dari salon dan potong rambut, kami selalu foto bersama di photo box untuk mengabadikan momen hari pertama memiliki model rambut baru, juga dengan alasan karena rambut jadi terlihat lebih indah karena baru saja ditata sedemikian rupa, sehingga membuat kami terlihat lebih cantik. Iya, narsis memang.

Sesudah foto berempat, si Tengah foto berdua bersama pacarnya sambil mengenakan topi Angry Bird yang dibelinya sebelumnya. Anak muda kalau pacaran, ya begitu tuh. He he... sok tua deh aku ini. Dengan waktu kurang dari 5 menit, fotonya pun jadi. Kami jadi terkikik-kikik sendiri melihat hasilnya. Lalu si Bungsu memelas minta diajakin main Timezone. Mau tidak mau, kami semua ikutan bermain. Bergantian kami bermain Time Crisis dan Nascar.

Puas bermain, dan isi voucher-nya habis, aku mengajak mereka pulang. Kakiku sudah mulai pegal dan aku mengantuk. Entah karena umurku atau karena aku menghabiskan hidupku di mal sewaktu kuliah dulu, aku jadi tidak tahan berlama-lama berada di dalam mal. Apalagi jalan-jalan mengelilinginya di saat sedang ramai pengunjung. Biasanya kalau ke mal, aku lebih suka menongkrongi kafe dan berlama-lama di sana, atau nonton bioskop.

Ketika hendak pulang, aku minta diantarkan ke rumah S karena hampir sepanjang akhir pekan ini aku tidak bersamanya. Hanya kemarin malam aku mampir sebentar di rumahnya sebelum menghadiri resepsi pernikahan sepupuku untuk mengambil parfumku yang ketinggalan. Ke pesta itu harus wangi. Ya, kan? Melihatku turun dari mobil dengan baju terusan berwarna hitam selutut, sepatu hak tinggi, dengan rambut yang dikeriting rol (itu namanya keriting apaan sih?) dan make-up komplit, dia menyolek lenganku dan berkata, "Hey, Seksi. Godain aku dong." Ha ha ha! Dan sebelum aku pergi, dia sempat menyematkan sebuah cincin di jariku. Bukan, bukan. Itu bukan cincin pertunangan. Hanya supaya matching dengan kalungku, begitu katanya. Makanya tadi aku minta diantar ke sini untuk mengembalikan cincinnya, dan pada akhirnya dia memintaku menginap.

Jadi tadi aku menemaninya makan malam sambil kuceritakan tentang pesta pernikahan sepupuku kemarin, juga tentang kegilaan kami berempat tadi. Mendengar itu, dia mengajakku foto bareng di photo box. Kupikir dia tidak akan mau melakukan hal-hal seperti itu, lho. Tapi mengetahui bahwa dia juga kepengin, apalagi sampai mengajakku, membuat aku tergelak. Setelah aku selesai bercerita, gantian dia yang menceritakan apa saja yang dilakukannya sepanjang akhir pekan ini, seperti yang sudah bisa kutebak, yaitu bersih-bersih dan baca buku.

Menjelang tidur, dia memintaku menambahkan lagu-lagu Korea yang minggu lalu kuselundupkan di ponselnya. Tuh, strategiku berhasil. Hahay! Dan sekarang diapun sudah pulas. Pacaran dengannya, mataku jadi sering terpejam di bawah jam sepuluh malam. Kecuali di saat-saat tertentu, seperti ketika kepalaku sedang penuh-penuhnya, atau di saat aku sedang ingin menulis, meski sebenarnya yang kutulis juga tidak penting-penting amat. Hanya berupa randon posting dan curcol tak jelas. Mungkin ini efek sampingnya saat ponselku sudah dibekali lengkap oleh aplikasi untuk menulis blog, mulai dari Blogger sampai Tumblr. Bahkan Wordpress juga ada, padahal aku tidak memiliki blog di domain yang satu itu.

Baiklah, ini sudah kelewat random deh. Jadi kututup saja dengan dengan sebuah kutipan yang kuambil dari salah satu fanfiction pilihanku. Sepertinya pernah kukutip di sini, tapi tidak lengkap. Dan kutipan ini kupilih berdasarkan pada kejadian yang kualami hari ini; momen bersama adik-adikku, juga kebersamaanku dengan S.
"Life and love are not about the moments you plan out, because rarely anything goes according to plan, right? Life is a collection of the small things; the quiet moments when you gaze at the stars, or when you share a delicious cup of coffee with good friends, or when you get a surprise visit from somebody special, however brief the visit might be.

Enjoy those moments... soak them up... store them away. Because
those are the moments that make the best memories, and those are the memories that will keep us warm on
cold nights when we are all old and gray."

Tuesday, 17 July 2012

Minggat

Aku minggat. Tidak, tidak. Aku bukannya coming out pada keluargaku lalu diusir dari rumah. Yang kumaksud dengan "minggat" adalah aku menginap di rumah S. Minggat, karena seharusnya aku berada di sini hanya pada akhir pekan saja dan bukannya di hari kerja. Penyebabnya? Karena sebuah kejadian yang terjadi, yang membuatku kesal, sedih dan sakit hati yang terjadi di rumah.

Tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan melakukan hal ini. Kau tau, minggat seperti ini. Aku bahkan bukan tipe orang yang bisa secara impulsif melakukan sesuatu di luar akal sehatku. Namun ketika kejadian yang menyakitkan itu terjadi, tahu-tahunya aku sudah berada di rumah S. Jadi kukirimkan pesan singkat kepadanya, mengatakan bahwa aku ada di rumahnya.

Mendengarkan lagu-lagu Joshua Radin selama perjalanan menuju rumah S tidak cukup membantu. Buktinya aku malah menangis seperti orang yang patah hati di kamar mandi. Selama beberapa saat aku menangis sampai kudengar ketukan di pintu. Dia masuk sebelum aku sempat menjawabnya. Baiklah, ini bukan adegan yang pernah kubayangkan bakal kualami; menangis di kamar mandi, di bawah pancuran, dan dipergoki pacar. Enggak keren dan menunjukkan betapa cengengnya aku. Not to mention that I was naked. And this time, I was literally naked.

Melihat reaksiku, dia meraih handukku yang digantung di balik pintu, menarikku keluar dari pancuran, membungkus tubuhku dengan handuk, lalu memelukku. Dan itu malah membuat tangisku semakin menjadi-jadi. Tuh kan, dasar cengeng. Manja deh. Tapi dia memelukku sampai tangisku reda, lalu entah bagaimana caranya tahu-tahu dia juga sudah ikutan mandi. Benar-benar kesempatan dalam kesempitan.

Selesai mandi, dia mengeringkan tubuhku dengan handuk, memakaikanku baju dan menyisir rambutku yang masih basah. "Nah, sudah cakep. Sekarang kamu mau donat?" Pertanyaannya itu membuatku menatapnya dengan mata mengerjap. Donat? Seriusan? Aku baru saja menangis selama sejam lebih, dan sekarang dia menawariku donat? "Aku mampir beli selusin Alcapone tadi..."

"Alcapone?" Dia mengangguk. "Selusin?" Angguk lagi. Kali ini ledaklah tawaku. Baiklah, sedikit gula mungkin bisa mengusir rasa sedihku. Lagipula, melihat bahwa dia ingat dengan pilihan rasa kesukaanku membuat hatiku sedikit berbunga. Iya, iya, banyak berbunga, deh.

Benar saja, ternyata ada sebuah kotak JCo di atas meja. Semuanya Alcapone. Dia menarikku duduk di sofa, meraih remote lalu menyalakan DVD. Tidak bisa dipercaya, kan? Baru beberapa saat yang lalu aku menangis bombay sampai hidungku mampet dan mataku terasa bengkak, dan sekarang kami makan donat sambil melanjutkan menonton episode Grey's Anatomy yang sedang kami ikuti.

Malamnya kami berbaring di tempat tidur, dalam diam, hanya menatap langit-langit kamar. Lampu sudah dimatikannya sejak tadi karena aku mengeluhkan sakit kepala dan menolak minum obat. Berbaring dalam gelap adalah cara yang cukup ampuh yang kutemukan untuk sedikit meredakan sakit kepalaku. Maklum saja, itu memang penyakit andalanku. Jadi tidak perlu heran jika aku menemukan cara meredakannya tanpa harus minum obat.

Beberapa saat lamanya kami berbaring, namun aku tahu dia sedang menungguku bicara. Maksudku, jika pacarmu tiba-tiba muncul di rumahmu, menangis lalu tertawa lalu makan donat sambil menonton Grey's Anatomy, kau pasti ingin tahu apa yang terjadi. Ya, kan? Kepalaku masih berdenyut ketika akhirnya aku bicara. Kuceritakan padanya apa yang terjadi, dan dia mendengarkan tanpa berkomentar apa-apa. Bahkan ketika aku selesai bercerita, dia tidak mengatakan satu kata pun. Aku tahu, dia juga tahu, bahwa tidak ada yang perlu dikomentari mengenai ceritaku tadi. Yang dilakukannya justru meraihku ke dalam dekapannya, menyusupkan gelitik ketabahan dalam diriku.

Ketika pagi hari aku terbangun karena alarm di ponselku berbunyi sejam lebih awal, aku menemukan bungkusan obat dan segelas air putih di meja samping tempat tidur. Kuminum obatnya karena kepalaku masih terasa sakit. Kuselipkan tubuhku di antara guling, kembali ke dalam pelukannya, samar menghirup aroma sabun dan sampo. Lalu aku kembali tidur.

Sesaat sebelum S berangkat ke kantor, aku meminta diantarnya pulang. Dia tergelak. "Minggat kok pakai minta pulang segala, Say?" godanya. Aku menyipitkan mata, yang memang sudah sipit, dan dia mengiyakan masih sambil tertawa. Maka di sinilah aku, di mobil, di sampingnya yang sedang menyetir, mengantarku kembali pulang di jam makan siangnya.

Bisa-bisanya aku minggat. Meh...

Sunday, 15 July 2012

I am Grateful

Hujan mengguyur deras di luar, membuat kami berdua dengan senang hati memilih untuk tinggal di rumah saja. Kami meringkuk di sofa dan aku mendekapkan tubuhku erat padanya karena udara yang dingin. Dia membaca buku, sementara aku membalas BBM sambil mengutak-atik iTunes. Aku harus meng-update beberapa aplikasi di ponselnya karena dia paling malas mengurusi segala sesuatu seperti itu. Sungguh, aku ini seperti sekretarisnya. "Itulah mengapa sebabnya aku punya kamu. He he he. Lagipula, kamu yang mengunduh mereka di ponselku, say," katanya. Tapi tak mengapa, karena itu artinya aku punya kesempatan menyusupkan lagu-lagu Korea. Lihat saja nanti siapa yang pada akhirnya akan tertawa. Ha ha!

Sambil menunggu unduhan aplikasi, aku mengecek email. Ada email dari Caty yang isinya berupa "ancaman" kalau aku bakal dijitaknya sampai pitak jika aku mempermainkan S. (Tenang saja, Caty. Aku tidak main-main. Lagian, aku tidak ingin kepalaku pitak.) Juga dia mengatakan kalau aku beruntung memiliki S. Kuingat-ingat, sudah ada 4 orang yang mengatakan kalau aku ini beruntung, dan salah satunya temanku yang sedang kubalas BBM-nya. Q juga berkata seperti itu ketika kuceritakan padanya saat kami chatting.

Kurasa mereka benar. Aku beruntung. Tidak hanya karena memiliki S, tapi juga karena banyak hal lainnya. Dan aku bersyukur untuk itu. Salah satunya karena aku memiliki teman-teman baik dan dekat. Aku tidak memiliki banyak teman. Aku mengenal banyak orang, iya. Tapi tidak sebegitu kenalnya hingga aku bisa berbicara lebih dari sapaan formal dengan mereka. Namun dengan teman-teman dekatku, kami bisa saling berbicara dengan terus terang. Bahkan kadang aku merasa aku terlalu straightforward dan membuat mereka tersinggung atau malah kesal. Tetapi bagiku, itu merupakan tanda bahwa mereka telah menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Sebagai gantinya, aku tidak keberatan jika mereka melakukan hal yang sama terhadapku. Jika memang aku salah, maka mereka akan terang-terangan mengatakan aku salah. Termasuk juga mengingatkanku akan apa yang kumiliki saat ini yang sudah seharusnya kusyukuri.

Itu semua kemudian mengingatkanku juga akan segala sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupanku. Segala kesulitan, halangan dan rintangan, adalah sesuatu yang membuatku menjadi yang seperti sekarang ini. Jika tidak pernah aku mengalami semuanya itu, maka akupun tidak akan bertemu dan mengenal mereka yang saat ini memegang peran penting dalam hidupku, termasuk S. Aku lebih suka menyebut mereka orang-orang hebat, karena mereka memang hebat, dan karena melalui merekalah aku belajar banyak hal. Juga aku tidak akan pernah mengalami hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kukira ada, bahkan yang kusangkal selama ini. Dan pada akhirnya, semuanya berujung pada sebuah kesimpulan bahwa di tengah-tengah kekacauan dan hiruk-pikuk kehidupan, pasti ada sesuatu yang layak dan patut untuk disyukuri, sekecil apapun itu.

Aku melirik S yang masih asyik membaca buku. Aku tidak heran jika dia begitu asyik membaca karena akupun demikian saat membacanya. Menyadari aku sedang menatapnya, dia pun mengangkat wajahnya dan balas menatapku dengan tatapan penuh tanya. Aku memberinya sebuah senyum, lalu menggerakkan bibirku, mengucapkan I love you. Dia nampak terkejut. Belum terbiasa mendengarku mengucapkan kalimat itu rupanya. Hehe... Namun hanya sesaat dia terlihat kaget, dan kemudian membalas ucapanku sambil mendaratkan sebuah kecupan di bibirku. Maka aku pun tahu bahwa aku akan selalu mensyukuri dan mengingat saat-saat seperti itu.

Saturday, 14 July 2012

In or Out

Life is about taking risks. Bukankah begitu kata orang? Dan aku setuju, kalau kau menanyakan pendapatku. Itulah sebabnya kukatakan bahwa aku ingin mencoba bungee jumping kepada S saat kami sedang duduk santai di sofa sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis untuk mengetahui apakah kamu seorang pengambil resiko atau sebaliknya, di sebuah majalah. Dan bungee jumping adalah jawabanku untuk pertanyaan "hal baru apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu?"

Berbeda dengan jawabanku, S memilih untuk tidak melakukan apapun. Baginya, hal-hal baru lebih merupakan beban daripada tantangan. Dia merasa lebih tenang jika segala sesuatunya berada dalam keadaan stabil dan tidak berubah-ubah, meski dalam beberapa hal lainnya, mau tidak mau dia harus menerima perubahan karena dunia akan tetap berubah dengan atau tanpa persetujuannya. Aku mengerti kenapa dia seperti itu, terutama dalam hal pekerjaannya. Apa yang diperolehnya sekarang adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Itu yang membuatnya tidak ingin mengambil resiko, apalagi mencoba hal baru. Jadi aku memaklumi saja saat suatu ketika dia mengoceh ini-itu mengenai pekerjaannya atau mengenai bosnya. Yang kulakukan adalah bertanya padanya apa dia mau mencari pekerjaan baru, dan dia akan menjawab tidak, dan aku akan berkata, deal with it, baby, sambil tersenyum simpati. Lalu dia hanya akan mendesah pasrah.

Tidak hanya dalam hal pekerjaan saja, tetapi pada banyak hal lain dalam kehidupannya juga seperti itu. Misalnya, dia lebih memilih makan di restoran yang sama dan memesan menu yang sama setiap kali. Ketika kuajak dia makan di restoran lain yang juga menyediakan jenis masakan yang sama, namun belum pernah kami datangi, dia menolak. Alasannya mungkin bisa saja karena kenyamanan atau karena pelayanan restoran itu. Aku juga biasanya seperti itu. Ketika merasa nyaman dengan suatu tempat, aku akan terus mendatanginya. Meski, tentu saja, aku tidak keberatan untuk mencoba tempat baru. Tapi mengenal S, kemungkinan terbesar alasannya adalah karena dia malas menyesuaikan seleranya di restoran yang baru dan menghabiskan waktu menelurusuri satu per satu makanan di daftar menu.

Ketika insiden aku yang membeo saat dia menyatakan perasaannya, yang seharusnya menjadi momen intim dan indah bagi kami berdua tapi malah akhirnya jadi pemicu perang dingin, segalanya jadi terbalik. Aku sekarang berada di posisi S, dan S berada di posisiku. Aku lebih memilih untuk merasa aman, untuk melindungi diriku dari rasa sakit, dan menjaga jarak pada batas-batas tertentu agar aku tidak terlalu bergantung padanya, tidak mengikat diriku terlalu erat padanya, tidak melekat padanya. Alasannya? Simpel saja, karena agar nanti ketika waktunya kami harus berpisah, rasanya tidak akan terlalu menyakitkan, baik bagiku maupun bagi dia. Sementara S, dia tahu resikonya namun dia memutuskan untuk melangkah, bahkan sejak awal ketika dia memberanikan dirinya mendekatiku, dengan taruhan aku ini lesbian atau bukan. Lihat, dia bahkan sudah melompat, ber-bungee jumping, dan aku masih berdiri di atas, menimbang-nimbang apakah harus melompat atau tidak. I got chickened out because I want to save my ass, I mean my heart from getting hurt.

Maka malam ketika kami kembali dari kencan spesial yang kubuat untuknya sebagai usaha perdamaian dan menunjukkan niatku bahwa aku benar-benar ingin menjalani apapun yang akan kami jalani bersamanya, aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Kutelanjangi diriku - tidak secara harafiah - dan secara gamblang mengatakan semuanya kepadanya. Semua yang menjadi alasan kenapa aku membeo. Semuanya.

Dan inilah yang dia katakan padaku; masih ada waktu 6 bulan, kurang lebih, sebelum tugasku berakhir, bukan? Aku mengangguk. Dan selama ini kita menikmati saat-saat bersama. Angguk lagi. Meski kadang ada adu pendapat, tapi kita justru malah lebih menikmatinya, betul? Angguk, angguk. Ingin kutambahkan kalau aku juga sangat menikmati waktu sesudahnya. Well, kau tahu maksudku... Dan apapun nanti yang akan terjadi, atau seberapa sakitnya luka yang akan dirasakan, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa bersamamu, walau sesingkat apapun. Angguk. Karena aku pernah melewatkannya dan aku menyesalinya. Angguk, meski aku kurang paham dengan maksudnya. Pernah melewatkan? Akan kutanyakan padanya nanti. Jadi aku ingin melanjutkan apa yang kita miliki sekarang ini. Angguk, angguk, angguk. Gimana dengan kamu? Are you in or out?

Kali ini aku tidak membeo. Sudah cukup urusanku dengan si beo. Hanya membawa petaka saja. Kali ini, mengikuti saran temanku, show some gestures, kutatap dia dengan penuh keyakinan dan kukatakn I love you untuk yang pertama kalinya dan untuk yang kesekian kalinya di antara ciuman kami. I am so in.

Malam itu kami pun bercinta seperti tiada hari esok.