Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Saturday, 30 April 2011

Happy birthday to me!!!

!
Ahay, tiba juga hari dimana umur gue sekarang bertambah setahun lagi, artinya tambah tua! Hihihi. Yang penting berjiwa muda, ya gak??? (Maksa deh gue.)

Well, as I expected before, there's nothing really special on my birthday. Eh, ada deng! Jadi kemarin malam tuh Kopi ngasih kejutan buat gue. Kejutannya adalah dia sengaja bikin gue marah beberapa jam sebelum jam 12 teng. Alhasil gue jadi super beteeeeee! Jam 12 teng, dia kirim MMS ke gue yang isinya lagu "Selamat Ulang Tahun" (juga versi Bahasa Inggris-nya) dan yang nyanyi si Kim, cebongnya Kopi dan juga cebong jagoan gue karena mukanya katanya mirip gue. Beneran lho!!! Hehehe. Terus Kopi kirimin gue email berupa rekaman lagu "Selamat Ulang Tahun" yang dia nyanyiin sambil main gitar. Cocweeeeetttt banget deeeehhh! *mwah mwah*

Malamnya udah mulai masuk SMS dari temen-temen gue yang ngucapin selamat. Ada juga yang telepon langsung. Oya, semalam sempet ngobrol bareng Jade dan Pitak (can't come with a better name!), temen dekat gue dari kuliah sampai sekarang. Duhhh kangeeeeennnnnnn, bok! Kangen ngumpul bertujuh lagi, kangen ber-haha-hihi lagi, kangen ngobrol ngalor ngidul dan yang ngerti cuma kita-kita juga, kangen cekakak-cekikik gak jelas di foodcourt lagi (makanya geng-nya dinamakan The Retarded Sisters, huahuahuahua), kangen ngobrol mesum lagi (iyalah!!!! Hahaha). Pokoknya kangen, kangen, kangeeeeennnnnnn!!! Miss my retarded sista!!!!!

Terus cek Facebook, ternyata udah banyak yang ngepost di Wall ngucapin selamat. Everyone is wishing me the best, yay! Jadi kayaknya birthday wish-nya gak perlu dipikir susah-susah deh. Habisan malam-malam sebelumnya gue malah langsung ketiduran bahkan sebelum mikir mau birthday wish-nya apa ya. Hehehe... Anyway, thank you, guys, for wishing me a very happy birthday :D.

(Spa-nya nanti aja deh! Mbak-mbak tukang pijatnya juga gak bakal kemana-mana, hihi. Habisan penuh terus tuh tempat, padahal udah gue booking dari kemaren-kemaren juga. Halah!)

Thursday, 28 April 2011

Birthday Plan?

Q asked me what's my birthday plan? Well, in a few days I'll be turning... errrrr... 20 something :p.

Anyway, karena ditanyain begitu gue jadi mikir apa rencana buat ulang tahun gue. Sebenarnya sih enggak ada rencana sama sekali. There will be no party, no cake, no blowing candles, tapi tetap ada birthday wish-nya.

Tapi barusan gue ngobrol sama nyokap. Nyokap ngajak ke panti asuhan aja untuk merayakan ulang tahun gue. Good idea karena memang udah lama gue pengen ngerayain ulang tahun di panti asuhan.

Belum pasti bisa terlaksana juga sih karena panti asuhan letaknya cukup jauh dan mobil gue masih di bengkel gara-gara kemarin ditabrak dari belakang waktu iring-iringan jenazah ke kuburan. Kalau enggak jadi ke panti asuhan, jadinya gak ngapa-ngapain juga deh. Paling cuma masak mie dan telur dadar.

I'm thinking about having a special treatment for myself on my birthday (or the next day)... a spa maybe? Gue bisa ajak nyokap juga (artinya minta dibayarin, hihihi.) Tapi nyokap gak gitu doyan spa... so maybe I'll go by myself, mumpung tempat spa lumayan deket dari rumah.

Any other idea, ladies? There's still plenty of time to plan on something... like 3 days from now.

As for the birthday wish, masih lagi dipikirin, hihi. Jelas meskipun tidak dirayakan, birthday wish-nya harus tetap ada. So yeah, I might put some thought and even sleep on it.

Tuesday, 26 April 2011

The Past and Memories

Semua orang memiliki masa lalu dan di balik masa lalunya ada kenangan, good or bad. Kopi nulis tentang masa lalunya yang ternyata meninggalkan kenangan yang menyakitkan.

I know exactly what she meant karena Kopi pernah cerita langsung ke gue mengenai masa lalunya itu. Meskipun begitu, waktu gue baca postingannya itu ada berbagai reaksi yang gue rasakan. A bit shocked, a little more sad, doubt, and even jealous.

Gue kaget karena ternyata lukanya jauh lebih besar dan lebih parah dari yang gue bayangkan, bahkan sampai sekarang masih terasa sakit. Gue sedih karena membayangkan Kopi harus merasakan sakit setiap kali masa lalunya kembali lagi. Sempat juga terbersit rasa ragu akan perasaan Kopi terhadap gue. And the last, gue mungkin agak sedikit cemburu.

And then it hit me right away. Suatu hari mungkin akan tiba saatnya gue menjadi masa lalu Kopi dengan cara yang sama yang dulu pernah dia alami. Itu artinya gue akan meninggalkan luka baru untuk Kopi dan jika itu sampai terjadi, gue gak akan pernah berani ketemu dia lagi karena itu hanya akan membuat dia sedih.

Itu juga membuat gue berpikir bahwa Kopi tidak pantas mendapatkan orang yang seperti gue. Maksudnya, kalau pun nanti ujung-ujungnya gue hanya akan meninggalkan luka, gue merasa enggak pantas untuk Kopi. Rasanya masih ada orang lain yang bisa jauh lebih baik dari gue karena Kopi pantas mendapatkan yang terbaik.

Whatever happened in her past, memory of so many years, I know I can never beat that. And even if I could, I wouldn't. I have no right even to try. If I was a healer, I'd heal her wound. But I am not. Itu juga satu hal yang membuat gue sedih. Sampai kapan pun gue tidak akan bisa menyembuhkan lukanya, melainkan hanya Kopi sendiri yang bisa.

Ketika dia tidak lagi mengharapkan masa lalunya untuk tidak kembali lagi agar supaya dia tidak perlu merasakan sakit, itu tandanya lukanya udah sembuh. Meskipun masih ada bekasnya, tapi itu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang tidak lagi menyakitkan. Bahkan mungkin yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan indah.

You see, Kopi punya masa lalu, begitu juga gue. Bedanya, masa lalu gue tidak akan pernah kembali lagi dan gue pikir itu yang sedikit memudahkan gue untuk move-on. For now, I can only be her present. Dengan segala keterbatasan yang gue miliki, gue berusaha untuk menjadi "masa sekarang"-nya yang terbaik, meskipun mungkin suatu saat nanti gue akan menorehkan luka baru yang bahkan tidak akan pernah bisa gue sembuhkan.

Susahnya, entah karena gue-nya yang bego, semakin gue berusaha menjadi yang terbaik, gue malah sering memperlakukan Kopi sama seperti orang-orang lain dari masa lalunya... I always ended up hurting her. Geeez! 

Ps. I reeeeeeeeeeeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaaalllllllyyyyyyyyyyyyyyyyyyy hate PMS!!!

Sunday, 24 April 2011

Easter, Easter, Easter


I know it's Easter time again,
I feel it in the air.
The breath of spring with woodsy tang,
And new life everywhere.
And spring glides on with magic touch
O'er mountain side and glen;
And wakens all the sleeping plants
For Easter time again.

The brooklets leap from rock to rock,
As if in joyful play;
The flowers peep from darkened tombs
To welcome Easter Day.
The birds are swinging on the boughs,
And trill in ecstasy;
They seem to show the world's great joy
Of Easter mystery.

Why should we dread
the thing called death?
It's just an open door,
Where all within is love and peace
And joy forever more.
"Because I live, you too shall live,"
We hear the Savior say.
Let's consecrate our lives anew,
On this glad Easter Day.

Friday, 22 April 2011

Lesbian Life: Behind the Anonymity

Kata orang, selalu ada alasan di balik segala sesuatu. Ketika gue memutuskan untuk melangkah keluar dari lemari dan bertemu secara maya dengan para lesbian yang lain, ada satu hal yang gue pelajari yaitu mengenai masalah identitas.

Saat pertama kali memasuki dunia lesbian dan berkenalan dengan beberapa teman lesbian lainnya, hampir semuanya menggunakan "alias", a.k.a. "identitas palsu". I was like, hmmm okay is it the rule of this world? I always play by the rule meskipun waktu itu gue belum paham betul apa maksudnya.

Seiring berjalannya waktu dan gue juga mulai mendengar dari beberapa teman atau membaca beberapa artikel di Sepoci Kopi mengenai betapa pentingnya untuk menjaga identitas asli, gue pun mulai paham mengapa banyak lesbian yang mati-matian menyembunyikan identitas aslinya.

Sempat gue bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada orang yang bisa setega itu untuk mencelakai temannya? Pada hakekatnya, hubungan antara sesama anggota dari sebuah kelompok minoritas seharusnya jauh lebih erat. Tapi yang terjadi pada komunitas lesbian adalah saling sikut, saling mencelakai, saling menusuk satu sama lain.

Is it part of the rule? I guess not.

Ketika akhirnya gue mengalami sendiri sebuah pengalaman buruk yang mungkin pernah terjadi pada beberapa lesbian lainnya, gue jadi semakin paham betul alasan di balik anonymity. Gue tahu bagaimana rasanya menjadi korban dan gue rasa gue tidak akan pernah sanggup melakukan hal yang sama, yang dilakukan terhadap gue, kepada orang lain.

Memang melelahkan harus menggunakan identitas lain saat berinteraksi dengan orang lain. Ada rasa tidak nyaman (pada awalnya) ketika harus menyamarkan identitas yang sebenarnya. Ada kebingungan yang membikin kepala mumet ketika harus memutar otak menciptakan sebuah identitas baru, apalagi ketika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan standar saat berkenalan; "kamu anak mana?", "umur berapa?", "tinggal di mana?", "kerjanya di mana?", dan bla bla bla. Iya, bingung mau jawab apa???

Tapi segala sesuatunya juga memiliki sisi baik. Look at the bright sight. Using an alias and hiding behind the anonymity brings a little advantage for me. Gue bisa dengan leluasa menuliskan segala sesuatu yang mengganggu pikiran gue, menuliskan perasaan gue, atau menuliskan tentang kejadian yang gue alami tanpa harus khawatir dikenali orang yang ternyata gue kenal. Well, was-was sih sebenarnya tetap ada. Jadi yang menjadi keuntungan utama di sini adalah rasa bebas untuk mengungkapkan segala sesuatunya, meskipun harus tetap berhati-hati.

Sebagai lesbian, identitas asli itu lebih dari sekedar "ah, yang penting keluarga gue udah tahu kalau gue lesbian, so nothing to worry about." As a matter of fact, it is more than that, apalagi bagi lesbian yang masih "in the closet". Gue sudah pernah menjadi korban dan gue tahu gimana rasanya. Rasanya tuh gak enak banget... jadi tidak nyaman.

Setidaknya setiap orang seyogyanya memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan oleh orang lain, kan? Jika ingin dihormati dan dihargai orang lain, maka sudah sepantasnya menghormati dan menghargai orang lain.

Sudah sepantasnya juga masing-masing individu berusaha untuk menciptakan rasa aman dan saling melindungi terhadap satu sama lain. Kalau masih terus-terusan ada korban, jangan heran kalau gue menjadi lesbian yang "lesbianphobic". So sad...

Ps. Happy Good Friday!