Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Monday, 31 January 2011

Chasing a Dream

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat chatting dengan seorang teman chat, Q, yang sudah gue kenal hampir 7 tahun. Udah lama kita enggak chat dan akhirnya baru kesampaian beberapa hari yang lalu, setelah gue membatalkan janji chatting bareng yang entah sudah ke-berapa kalinya.

Nampaknya ada sesuatu yang sudah tidak sabar untuk dia segera ceritakan ke gue dan tanpa ba-bi-bu, she just dropped the bomb on me. Katanya, "guess what? I'm taking acting classes!!!"

Tahun lalu gue terkejut ketika dia bilang bahwa dia akan mengambil jurusan mechanical engineering, padahal sebelumnya dia pernah bilang bahwa dia ingin belajar mengenai segala seuatu yang berhubungan dengan film, either it's acting or directing. Dan gue lebih terkejut lagi ketika dia akhirnya mengambil kelas akting, setelah mengikuti beberapa kelas mechanical engineering.

Q usianya 3 tahun lebih muda dari gue. Untuk remaja seumuran dia, dia termasuk dewasa. Harus gue akui bahwa tidak jarang juga gue minta pendapat atau saran dari dia. Melompat-lompat dari satu jurusan ke jurusan yang lain, awalnya, gue anggap sebagai kelabilan remaja yang sedang mencari jati diri, mencari apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya.

Sebagai teman yang baik, gue mencoba mengingatkan dia akan konsekuensi yang bakal dia terima dengan keputusannya itu. Maksud gue, jurusan mechanical engineering mungkin saja bisa memberikan masa depan yang lebih baik; a stable job with good pay. Lagipula, tujuan kita sekolah selain menimba ilmu jelas adalah untuk cari duit. Sedangkan untuk jurusan akting, well, if you're lucky enough, jelas masa depannya akan lebih baik. Hanya saja, coba bayangkan ada berapa banyak struggling actress-wannabe di luaran sana yang mendatangi satu audisi ke audisi yang lain?

Q tertawa ketika gue berceloteh soal kecemasan gue. Dia bilang, "what happened to the old Rae who, years ago, would say 'go chase your dream, little friend!' I knew about things that you're concerned about and have put some thoughts on it. But you and I know that what I really want to do is acting or directing a movie. Right now I got the chance to learn about acting. So why would I have to skip the opportunity?"

Sepertinya semakin bertambahnya usia, gue semakin terperangkap dengan yang namanya "realita". Mimpi-mimpi gue habis digilas realita. Bahwa realita tidak akan selamanya seindah mimpi, adalah pandangan gue yang sekarang. But thanks to Q yang akhirnya menyadarkan gue bahwa selama ini gue terperangkap dalam zona nyaman yang gue ciptakan ketika menghadapi realita yang jauh berbeda dari mimpi gue. Bahwa ketika mengejar mimpi, kerja keras dan kesungguhan adalah dua hal yang wajib dilakukan, seharusnya menjadi pandangan gue dalam menjalani kehidupan.

Gue yakin bahwa Q akan bersungguh-sungguh dengan pilihannya kali ini. Gue tarik lagi ucapan bahwa ini menyangkut kelabilan remaja, melainkan mengejar mimpi. I just really wish her for the best amd wish her luck.

Friday, 28 January 2011

Cokelat Superman

Waktu gue dan Kopi ngobrolin soal jajanan saat masih kecil dulu, gue jadi inget kalau ada satu jajanan favorit gue selain jajanan baso tusuk, es serut dan es tong-tong yang suka mejeng di depan gerbang sekolah.

Yup, bener banget! Cokelat Superman! Ketika diberitahu bahwa cokelat Superman itu masih dijual sampai sekarang, gue langsung kegirangan. Begitu gue cek di warung terdekat, eh iya, ternyata masih ada juga cokelatnya. Meskipun kemasannya sekarang berubah, tapi se-enggaknya gambar Superman-nya masih nangkring di bungkusnya. (Ya iyalah, kalo enggak, bukan cokelat Superman namanya.) Dan...rasanya juga masih sama persis dengan yang dulu. Suer.... gue enggak bohong!

Gue enggak pernah menyangka kalau yang namanya Superman ternyata menjadi salah satu bagian yang penting dalam hidup gue ketika masih kanak-kanak dulu. Bukan hanya film-nya, tapi juga cokelatnya. Hahaha... Tapi cokelat Superman ini mengingatkan gue pada seseorang: Oma. Dulu, setiap kali Oma nyuruh gue beli rokok di warung dekat rumah, pasti uang kembaliannya dikasih ke gue buat beli cokelat Superman. Dulu harganya masih gope-an sebungkus kali ya? Wong permen aja cepe dapat lima bungkus... Lah sekarang, cepe dikasih ke pengamen, yang ada lo malah dilemparin gitar. Hihihi...

Nah, saking seringnya gue disuruh beli rokok ke warung sama Oma, pemiliknya aja ampe tahu betapa besar cinta gue pada cokelat Superman. Maknya gue selalu bersemangat setiap kali Oma nyuruh gue beli rokok karena meskipun duit yang dikasih kadang hanya cukup untuk beli rokok sebungkus, pemilik warungnya, yang berwajah lucu, berkumis dan perutnya buncit, biasanya masih tetep ngasih dua bungkus cokelat Superman ke gue. For free, lho!!! Untuk anak seumuran gue waktu itu, dapat cokelat gratis serasa mendapat emas batangan sekilo =D.

Ketika Oma udah mulai sakit-sakitan, jadinya Oma berhenti merokok sama sekali. Maka, putuslah hubungan gue dengan cokelat Superman. Setiap kali lewat di depan warung, gue cuma bisa menatap dengan memelas ke arah toples yang isinya cokelat Superman. Si pemilik warung biasanya duduk di depan warung sambil menatap gue dengan tatapan kalau-enggak-beli-rokok-enggak-dapat-cokelat-Superman-gratis. Sampai akhirnya gue pindah ke rumah Mama dan Papa, dan akhirnya Oma meninggal beberapa tahun kemudian, gue enggak pernah lagi jajan cokelat Superman.

Sekarang kalau gue ingat-ingat, di kantin sekolah kan dulu juga jualan tuh cokelat. Kenapa juga gue enggak beli??? Hmm... kayaknya gue emang lebih sreg beli cokelat Superman di warung dekat rumah Oma. Lagian, kalau beli di warung itu, biasanya gue masih dikasih bonus lagi sebungkus. Gimana gue enggak seneng coba, belanja di situ??? Hihihi...

Ps. I miss my grandma :(. Oia, pemilik warungnya juga udah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Wednesday, 26 January 2011

Faith or Pride

Di saat-saat tertentu, "faith" dan "pride" bisa jadi sangat membingungkan buat gue. Terkadang gue bingung bahwa ketika gue melakukan sesuatu, apakah gue melakukan itu karena "faith" atau karena "pride"?

When you are given a bigger responsible, it means that you are trusted that you can handle it. I'm happy that I am given a bigger responsible. Only, deep down, I'm freaking out about it.


Gue melihat dua orang teman gue yang berinisiatif untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam hidup mereka dan sekarang mereka berjuang mati-matian dengan tanggung jawab mereka itu. I salute them for doing so.  

Kedua teman gue itu pernah menawarkan untuk ikut ambil bagian bersama mereka, tapi gue menolak. Lebih tepatnya lagi, I got cold feet after I said I'd jump in. (Oh, I can be a coward, too!) Gue bilang sama mereka kalau gue enggak bisa karena terhalang masalah keluarga. The truth is, honestly, I was too afraid of taking a bigger responsible for my life. Sekarang gue diberikan satu kesempatan lagi, and there's no way I'm screwing up this opportunity.

Didn't I say that I'm freaking out? Oh, yes, I did. Tapi gue melihat keberanian dua teman gue dan gue pikir ini mungkin saja menjadi kesempatan terakhir buat gue. Jadi kenapa gue harus takut? Kalau teman-teman gue bisa, kenapa gue enggak? Kalau gue bisa berkoar-koar tentang menjadi orang yang berhasil, lantas kenapa sekarang gue ketakutan? I'm taking the opportunity, ladies!

Nah, di situlah titik di mana "faith" dan "pride" menjadi sangat membingungkan buat gue. Am I doing this because I have faith that I can do it? Or is it just my pride talking out loud that the entire world could hear it?

So, I guess the picture says it all... 

Sunday, 23 January 2011

Oh, Crap!

Pagi-pagi gue bangun, sikat gigi, cuci muka, dan langsung menuju garasi. Karena malam harinya papa ingetin gue supaya ngecek air radiator mobil, maka pagi tadi gue pun melaksanakan perintahnya. Masih dengan mengenakan celana pendek dan kaos, rambut digulung dan dengan muka bantal, gue mulai memeriksa air radiator mobil yang diparkir di garasi.

Saat sedang konsentrasi penuh menuangkan air radiator dari botol ke tangki cadangannya sambil berusaha menendang-nendang si Hachiko, anjing peliharaan di rumah, yang kegirangan dan melompat-lompat ke kaki gue, tiba-tiba ada yang menyapa gue dari belakang. Gue berbalik dan mendapatkan seorang perempuan telah berdiri di hadapan gue. Aduh, mimpi apa gue semalam, pagi-pagi udah disamperin perempuan yang cakep, agak andro dengan rambut sebahu dikuncir kuda dan senyum yang manis? (Tenang beib, kamu sama cakepnya dengan dia, kok...hehehehehe).

Setelah gue membalas sapaan "selamat pagi"-nya, mulailah kita ngobrol sedikit (ternyata dia nanyain alamat yang gue sendiri enggak tahu di mana alamat yang dia cari), sambil kaki gue tetap sibuk menendang-nendang Hachiko supaya menjauh. Maklum, gue geli plus takut sama anjing. Usaha gue menendang-nendang ternyata tidak mempan. Hachi malah semakin ganas meloncat-loncat ke kaki gue karena dikiranya gue malah ngajak bermain. Akhirnya gue melangkah mundur dan terus mundur sambil terus mengobrol. Eh, enggak taunya... tiba-tiba...... kaki kiri gue masuk ke selokan.

Oh, crap! Betapa memalukan sekali. Perempuan yang ada di depan gue sampai kaget terus panik, terus megangin tangan gue, terus ketawa. Aihhhh malu sekaliiiii. Meskipun gue juga ikutan ketawa, tapi rasanya ingin segera menghilang dari situ. Mana kaki kiri gue ampe lecet gitu. Geeezzzz... gue dendam kesumat sama si Hachiko... hikh... Udah gitu, waktu gue cerita sama Kopi, eh, dia malah ketawa ngakak. Tegaaaaaa.... :(

Dan inilah si biang keladinya

Saturday, 22 January 2011

Hakuna Matata

Di tengah kesibukan, gue menerima sebuah SMS dari teman yang isinya: "Rae, have you ever in doubt?" What??? Di siang bolong dan teriknya matahari tak tertahankan ini, teman gue malah menagih sesi konsultasi ala "psikolog-pasien" yang dari tahun 2010 belum terlaksanakan??? Duh, Gusti... dosa apa yang telah hamba perbuat? (halah!)

Teman gue ini memang tipe orang yang mudah banget ditebak. Padahal gue orang yang paling enggak bisa menebak. Tapi kalau soal teman gue yang satu ini, ah dengan gampang gue bisa menebak. Gue tahu, maksud pertanyaannya adalah "have I ever in doubt with my partner?" Mudah ditebak, karena beberapa minggu yang lalu teman gue ini heboh banget ceritain soal gebetan barunya, yang akhirnya resmi jadi pacarnya.

Karena ditanyakan pertanyaan seperti itu, akhirnya gue juga jadi ikutan berpikir. Pernah gak ya gue ragu dengan Kopi? Hmmm... sebenarnya yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah: pernahkah gue ragu dengan hubungan yang tengah gue jalani ini?" Faktanya: gue pernah ragu. Maksud gue, gimana enggak ragu? Sudah hubungan jarak jauh, gue-nya selalu sibuk, komunikasi sulit, mau ketemu juga susah. Lantas apa yang bisa diharapkan dari hubungan yang seperti itu? Dan gue pun segera mengetikkan SMS balasan: "yes, I have."

SMS-nya masuk lagi. Kali ini bertanya mengenai apa yang gue lakukan ketika rasa ragu menyerang. Halah, lebay banget kata-katanya. Dan gue berpikir lagi (bayangkan, sodara-sodari, siang bolong yang menyengat gue disuruh mikir-mikir). Gue ingat, ketika gue merasa ragu, yang gue lakukan adalah mengingat-ingat kembali hal-hal menyenangkan bersama partner. Misalnya saat-saat ketika gue dan partner ngobrol soal ini-itu, membahas berbagai macam hal - dari yang ringan sampai yang memeras otak. Atau misalnya saat gue dan partner cuma diam-diam-an di telepon sambil sibuk dengan kerjaan masing-masing. Pokoknya hal-hal kecil tapi terasa menyenangkan ketika dilakukan bersama partner. Seketika, keraguan dan rasa cemas yang gue rasakan pun sirna.

Lalu, bertanya lagi teman gue itu. Katanya, "tapi kan gak jelas mau dibawa ke mana hubungan kalian itu?" Sekali lagi gue memutar otak dan menemukan jawabannya hanya dalam waktu sepersekian detik, mengalahkan rekor Om Google. Kata gue, ngapain dipikirin soal itu??? Mendingan juga jalani aja apa yang ada sekarang. Kalau kebanyakan mikir soal 'nanti mau dibawa ke mana hubungan ini?', 'nanti mau gimana?', 'nanti jadinya kayak apa hubungan ini?', nanti, nanti, nanti... Kebanyakan mikir 'nanti', yang ada malah jadi mellow sendiri karena sudah kepikiran betapa susahnya 'nanti' itu. Ujung-ujungnya, malah tidak bisa menikmati kejadian saat ini bersama partner.

Kalau gue, mendingan jalani apa yang tengah dijalani saat ini, karena itu yang paling penting. Hadapi dulu apa yang di depan mata. Bukan berarti masa depan itu tidak penting. Membuat rencana itu kudu dilakukan. Soal terlaksana atau tidak, itu urusan belakangan. Yang poenting di sini kan usahanya. Daripada ngotot mikirin musti gimana, sedangkan kejadian lima menit berikutnya aja tidak bisa kita tebak, yang ada malah stress sendiri. Akhirnya ngambek-ngambek sama partner. Hehehe...

Kalau kata Timon & Pumbaa di The Lion King, "hakuna matata", yang artinya: "there are no worries" atau gue lebih suka yang ini: "don't worry, be happy" :). So, just let life flows its path ;)