Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Wednesday, 9 June 2010

Kata Keramat: T.E.R.S.E.R.A.H

Dulu, setiap kali ditanya pendapat, saya selalu menjawab "terserah". Ditanya mau makan apa, jawabnya terserah. Ditanya mau nonton apa, jawabnya terserah. Semuanya jawabannya terserah, sampai-sampai teman-teman saya suka kesal sendiri. Bahkan saat menanyakan pendapat ke saya, mereka selalu bilang "gak boleh jawab terserah!" 

Sekarang saya jadi benar-benar sensi dengan kata "TERSERAH". Dimulai dari pertengkaran kemarin dengan Kopi. Ya, kami bukan bertengkar sih, tapi hanya salah paham mengenai hal yang sebenarnya tidak penting (hehehe). Dari situ Kopi jadi sering ngomong "terserah", yang membuat kuping saya panas. Huh. Mana Kopi jail banget lagi. Udah tahu saya sensi, eh dia malah sengaja menyebut kata keramat itu berulang-ulang. Cuma bisa terima nasib dapat pacar yang usil nan jail. *sighs* Sudah begitu, Kopi malah nyanyi-nyanyi gak jelas di telepon. Dia menyanyi lagu yang judulnya "Terserah". 

Gini lho, Kopi nyanyinya:

TERSERAH kali ini sungguh aku takkan peduli
Kutak sanggup lagii jalani cinta dengan muuuu
Biarkan ku sendiri
Tanpa bayang mu lagi
Ku tak sanggup lagi
Mulai kini semua TERSERAAAHHH

Waktu menyanyikan lagu yang itu, dengan sengaja dia nyanyi kenceng-kenceng (dan nadanya lari ke mana-mana) waktu menyebut kata "terserah". Beneran cari gara-gara. Hiks. Ditambah lagi dia sekarang sedang jadi lebay karena berusaha membujuk saya yang sedang ngambek (hahaha). Sudah usil nan jail, eh lebay pula *gelenggelengkepala* Ya sudah, saya terima nasib saja. Mungkin ini yang dinamakan kualat hahaha xp

Monday, 7 June 2010

Keras Kepala

Beberapa saat yang lalu HP saya berbunyi, tanda ada telepon masuk. Dari Nut. Ogah-ogahan saya menjawab teleponnya. Benar saja tebakan saya, dia langsung nyerocos curhat panjang lebar dan saya mendengarnya sambil lalu. Kali ini saya benar-benar sedang tidak mood mendengar curhat. 

Sepuluh menit berlalu dan dia masih saja mengumbar soal kekesalannya terhadap salah satu temannya. Saya hanya menanggapi asal-asalan, sampai akhirnya dia sadar sendiri.

"Lo kenapa sih? Daritadi hmmmm mulu." Tanya Nut dengan suara agak kesal.
"Hmmm..."
"Hmmm lagi. Cape tau dengernya."
"Hmmm..."
"Lagi berantem ya sama si Kopi?"
"Heee??? Ngaco lo."
"Pasti gara-gara lo yang keras kepala deh."

Lha, ini anak main nuduh aja. 

"Dibilangin lagi nggak berantem."
"Pasti gara-gara soal makan ato kerjaan." 
"Aduhhhh, dibilangin lagi nggak berantem."
"Ah, gue tau lo, Dudut."

*menghela nafas panjang* Percuma berdebat dengan dia. Dan mulailah dia berkotbah panjang lebar.

"Lo tuh ya, dari dulu emang paling susah dibilangin. Selalu keras kepala. Makin dinasehatin makin nggak lo dengerin. Jangan sampe kejadian kayak dulu terulang lagi, Rae."
"............"
"Seenggaknya kalo dia nasehatin lo, berarti dia perhatian sama lo. Sama aja, lo juga pasti kesel kan kalo nggak didengerin nasehatnya, kan?"
"............"
"Jadi, coba lo lunakkan sedikit kepala lo yang kerasnya amit-amit itu, Kawan." 

*menghela nafas panjang*

"Iyaaaaaaaaa, Nuuutttt."

Baiklah, saya mengaku salah. Saya memang terlalu keras kepala, apalagi jika menyangkut hal-hal sepele. Mulai sekarang saya janji akan berubah. Janji. Suerrr.

Sunday, 6 June 2010

Belajar Keyboard

Beginilah efek dari memiliki pacar yang bisa main alat musik; biola dan gitar. Saya juga mendadak jadi ingin bisa main alat musik, apa pun itu alat musiknya. Heran juga hanya saya seorang yang tidak bisa memainkan satu pun alat musik, padahal kedua adik saya bisa. Yang satu bisa main drum dan gitar, sedangkan yang bontot bisa main keyboard dan piano. Saya? Gigit jari. Ha ha ha. 

Sebelumnya saya pernah bilang ke Kopi kalau saya ingin belajar main gitar. Dia tanya kenapa saya mendadak ingin belajar main gitar, saya bilang biar keren. Soalnya saya selalu menganggap cewek yang bisa main gitar itu keren. Hmm, geregetan gitu kalo melihat ada cewek yang lagi main gitar, apalagi biola (bisa-bisa Kopi ge-er deh)

"Masa sih keren?" Tanya Kopi.
"Iya keren! Keren soalnya mereka bisa main gitar sedangkan gue nggak bisa." *sambil nyengir*
"Tapi nanti jari-jarinya bisa luka-luka, lho."
*jadi mikir* "Ehm, kalo gitu nggak jadi deh. Ha ha ha."

Begitulah, jadi niat untuk belajar main gitar saya urungkan dulu. Dan karena biola tidak jauh beda dengan gitar yang bisa bikin jari saya kapalan, maka biola pun dicoret dari daftar. Nanti saja kalau saya sudah siap jari-jari saya luka-luka dan kapalan. He he he. Kalau begitu pilihan yang tersisa adalah drum, piano dan keyboard. Tapi berhubung  yang tersedia di rumah hanya keyboard, maka itulah yang paling memungkinkan. 

Barusan, selesai makan siang, saya minta ke adik saya yang paling bontot untuk mengajari saya main keyboard. Dia langsung mengiyakan asalkan nanti dia dibelikan es krim. Beneran deh, kecil-kecil udah perhitungan. Huh. 

Duduklah saya di depan keyboard sementara adik saya membolak-balik halaman buku lagunya. Setelah ketemu lagu yang tepat, dia letakkan bukunya di hadapan saya. satu detik, dua detik... Lima detik... Sepuluh detik... Saya masih menatap buku di hadapan saya dan tidak menyentuh tuts keyboard. 

"Kok bengong?" Tanya adik saya.
"Lha, kan Cici nggak bisa baca not, Dedeee."
"Ya ampuunnn, ini kan lagunya gampangggg."
"Iyaaaa, tapi ini not-nya not balok, Deeeee."
"Ya iyaaa, masa mau not kayu???" 

Lima menit kemudian kami masih ngotot-ngototan soal not. Ya iyalah, orang saya not angka saja buta, apalagi not balok yang melingkar-lingkar itu. Bikin saya pusing. Akhirnya adik saya menyerah. Diambil buku musiknya dan diletakkan kembali ke dalam laci. Katanya tidak usah belajar pakai buku dulu. Katanya not saja nggak bisa baca, apalagi belajar kunci dan segala macamnya! Uhh, mendadak kepala saya pusing. Apaan itu? *bengong tolol* 

Sekarang gantian dia yang duduk di depan keyboard. Dengan lagak sok ngguru, dia bilang, "Lihat baik-baik, ya, tuts mana yang dipencet dan coba diingat-ingat nadanya." Saya hanya mengangguk layaknya seorang murid yang patuh. Huh, jatuh deh harga diri saya (he he he). Dia mulai memainkan beberapa nada. Eh, tunggu sebentar. Sepertinya saya tahu lagu apa yang tengah dimainkannya. Uh oh, dia memainkan lagu "Balonku ada Lima". Hayaaaaahhhhhhhh....!!!! Tegaaaaaa!!!! Masa saya disuruh belajar lagu yang itu??? Hah! Harga diri saya jatuh dan diinjak-injak *ketawa miris* 

Selesai dia memainkan satu lagu, gantian dia menyuruh saya mengulang lagu yang tadi. Dengan pasrah saya ikuti perintahnya. Saya mulai mengingat-ingat nadanya dan tuts mana yang tadi dipencet adik saya. Perlahan tapi tidak pasti saya mulai memainkan lagu itu. Sesekali jari saya salah pencet yang membuat nadanya jadi sumbang. Adik saya yang sedang berdiri di samping sudah mulai kesal. Saat sedang serius, tiba-tiba SMS dari Kopi masuk, dan tanpa ba-bi-bu langsung saja tangan saya meraih HP. 

"Woiiiiiiiiiiiiii, jangan main HP muluuuuu!!!!" (Galak amat nih anak)

Akhirnya, akhirnyaaa, setelah beberapa kali mengulang, saya bisa juga memainkan lagu "Balonku ada Lima", lengkap meskipun masih ada salah pencetnya. He he he. 

"Besok masih mau belajar lagi nggak? Besok lagu yang lain." 
"Nggak ah, De. Rugi Cici beliin kamu es krim, habisan kamu galak ngajarinnya."
"Ha ha ha ha ha." 

Jadi kalau saya ditanya apa masih mau belajar alat musik lagi, saya akan menjawab: "Nggaaaaakkkkk..." Bukan. Bukan saya menyerah. Tapi saya memang tidak bakat *ngeyel* Iya beneran, lho. Jari-jari saya kaku! He he he. Ya sudah, saya ada bakat lainnya. *menghibur diri* 

Saturday, 29 May 2010

Blessed




Long before you came I knew 
Somehow life would bring me you 
Long before you spoke my name 
I believe you knew I missed you

I love you more than words can say 
I love you, there’s no other way

For the first time in my life 
I am someone great 
For the first time I’ve come home 
I have found my fate 
I believe it when I see you smile 
That I’m blessed 
I’m blessed, I am 
I’m truly blessed

I believe it when I see you smile 
That I’m blessed 
I’m blessed, I am

For all the nights to come (and) all days, you’ll be inside my heart 
Always

For the first time in my life 
I am someone great 
For the first time I’ve come home 
I have found my fate 
I believe it when I see you smile 
That I’m blessed 
I’m blessed, I am

I am someone great 
For the first time I’ve come home 
I have found my fate 
I believe it when I see you smile 
That I’m blessed 
I’m blessed, I am 
I’m truly blessed


Ps. Happy birthday, Beiby :) Intinya, Beib, that's what I'm feeling about you, about us hehehe *gombaallll* 

Sunday, 23 May 2010

Sabaaaaaaarrrrrrrrr!!!

Bukannya saya tidak mau menjadi sahabat yang baik. Bukan pula saya tidak mau menjadi pendengar yang baik. Sebisa mungkin saya berusaha menjadi sahabat dan pendengar yang baik bagi teman-teman saya. Tapi ternyata tidak mudah! 

Setiap kali ada yang curcol, saya buka telinga, buka hati dan buka otak. Sebisa mungkin saya memberikan saran atau jalan keluar, dengan harapan ya tentu saja dilaksanakan atau setidaknya didengarkan. Tapiiii, kalau keseringan curcol soal masalah yang sama, lama-lama saya bleneg juga. Sudah begitu, dari 1001 saran dan jalan keluar yang saya berikan, tidak ada satupun yang dilaksanakan, boro-boro didengar. 

Ingin rasanya mengguncang-guncang tubuh teman saya itu supaya dia sadar (huh, untung saya tinggalnya jauh dari dia), kalau apa yang menjadi masalahnya itu sebenarnya tidak penting. Ada hal lain yang lebih penting lagi. Itu juga bukannya saya tidak pernah bilang. Tapi oh tapi... Semua kata-kata saya hanya masuk dari telinga kiri langsung keluar dari telinga kanan... Wusssss... Gone! Tidak ada yang nyantol di kepala atau turun ke hati. 

Bleneg, gemes, bikin emosi, pengen marah-marah, pengen ngomel-ngomel. Pokoknya bawaanya pasti bad mood. Ingin rasanya berkata: "Lo tuh ya, begoooooo banget sih? Masa urusan begituan, lo pikirin? Nggak penting banget tau gak? Sadar dong, masih ada yang lebih penting!" Ingin juga berkata: "Gue muaaakkkk!!!" Tapi meskipun mulut sudah ingin mengumbar kata-kata, rasanya hati ini tidak tega. Aduh Gusti... Ujung-ujungnya? Saya jadi uring-uringan karena harus putar otak. Jadi, gimana? Ya meskipun jadi uring-uringan, ya tetap saja saya ladeni. Nasib oh nasib...

Ps. Buat yang kena omel gara-gara lagi uring-uringan, sorriiiiii banget yaaa >.<