Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Wednesday, 12 March 2014

Hate

"If you want to forget something or someone, never hate it, or never hate him/her. Everything and everyone that you hate is engraved upon your heart; if you want to let go of something, if you want to forget, you cannot hate."
- C JoyBell 

Wednesday, 5 February 2014

Happy 2014

HAPPY VERY, VERY BELATED CHRISTMAS AND NEW YEAR!!!

To be honest, I am in lost for words after a while been neglecting this blog. Took me a lot of efforts to make myself write again, too. But here I am, sitting at my desk, writing with the radio on.

Nothing much has happened these past couple of months. I found two new jobs in the City on last December and have been working and working ever since. Then stayed at home for Christmas and New Year and did nothing. I wanted to go out and celebrated New Year with thousand of people at City but then I was just too lazy to go out and catch the train. Oh, well, not so much into party, too. Guess I'm getting old or something... But anyway, I'm still up for festivals! And good thing is Melbourne has so much festival coming up this year. I missed a few already because I had to work. One was the Pride. Yes, the Pride! I won't miss it next year definitely.

I don't have any resolution for this year. I mean, why bother making a long list of things I want to make better that would just end up in the drawer, untouched and forgotten. Yet, I do wish things will be better this year and hope for the best in everything for me, my family, friends, and girlfriend (good luck for the exam, Yang).

...

That's pretty much about it. I have never been this much lost for words...

Sunday, 15 December 2013

A Quote

"If you love somebody, you tell them, even if you're scared it will cause problems or burn your life to the ground. Say it loud and go from there."
 Mark Sloan (Grey's Anatomy)

Tuesday, 3 December 2013

The People I Met: Hyun Ji

Rumah yang kuhuni bersama 3 orang lainnya kedatangan penghuni baru minggu lalu. Hyun Ji namanya, berasal dari Korea Selatan, teman dari salah satu housemate-ku. Dalam satu kesempatan, kami berdua sempat mengobrol di dapur ketika sedang menyiapkan makan siang. Hyun Ji, sama seperti aku dan ketiga penghuni lainnya, juga merupakan seorang mahasiswa international. Dia mengambil jurusan Chinese Medicine selama lima tahun dan bulan ini akan segera lulus.

Sebenarnya dia baru saja kembali ke sini dari Korea karena ibunya sedang sakit parah setelah sebelumnya sempat mengikuti internship di Cina. Masalah yang cukup pelik sedang dihadapinya sampai-sampai dia berkata, "It feels like I have no emotion right now. All I do is just pray and pray." Setelah lulus Hyun Ji tidak bisa kembali ke Korea karena jurusan yang diambilnya membuat ia tidak bisa diterima bekerja di negeri asalnya itu. Alasannya simpel saja, karena dia lulusan luar negeri. Jadi satu-satunya jalan yang dia miliki adalah mencoba untuk tetap tinggal dan bekerja di sini. Hal yang sangat tidak mudah juga baginya untuk segera mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang singkat, mengingat visanya tidak lama lagi akan segera berakhir.

Aku paham betul apa yang dirasakan Hyun Ji saat ini karena sebetulnya yang sedang dihadapinya ini merupakan masalah umum bagi jutaan mahasiswa internasional di sini. Banyak dari kami, mahasiswa internasional, yang memilih untuk kuliah di sini demi mengejar status Permanent Resident (PR) yang kemudian bisa berujung pada status Citizenship. Well, termasuk aku salah satunya sih. Namun pemerintah Australia kini membuat hal itu kian sulit dengan regulasi yang berbelit-belit dan berubah-ubah hampir setiap tahun. Hasilnya, banyak juga mahasiswa yang akhirnya memilih untuk kembali pulang ke negeri asalnya setelah lulus. Nah, pilihan terakhir ini jelas bukan pilihan bagi Hyun Ji.

Kami juga membahas mengenai pengalaman sehari-hari dan obrolan kami itu cukup mengingatkanku bahwa apa yang saat ini tengah aku jalani juga dialami oleh ratusan, bahkan ribuan mahasiswa internasional lainnya. Kau tahu? Kuliah sambil harus bekerja sambilan. Pada kenyataannya, rata-rata mahasiswa internasional di sini berasal dari working class family. Biaya kuliah yang cukup tinggi membuat kami harus bekerja sambilan demi membiayai biaya hidup sendiri. Aku pernah menghadiri sebuah fokus grup yang diadakan oleh sebuah lembaga riset akademi dan menghadirkan mahasiswa internasional dari berbagai negara. Dalam diskusi, salah seorang mahasiswa mengakui bahwa terkadang dia harus bekerja lebih banyak dan lebih mengkhawatirkan pekerjaannya dibandingkan tugas kuliahnya.

Sesulit apapun kehidupan yang kami alami di sini, namun pengalaman yang kami peroleh jauh lebih berharga. Dan mungkin bagi sebagian dari kami hal ini layak untuk kami jalani. Ya, banyak dari kami yang mengalami eksploitasi dalam lingkungan kerja dan dibayar dengan upah yang jauh di bawah upah minimun. Banyak dari kami yang tidak bisa jajan karena uang pas-pasan, bahkan harus rela makan satu kali sehari untuk menutupi biaya transportasi. Dan kami harus bisa mempertahankan prestasi belajar dalam sebuah lingkungan akademik yang sama sekali jauh berbeda dari negara asal, belum lagi menghadapi krisis language barrier. Tapi bukankah ada sebuah kutipan yang berkata, "You have to pass through hell to get to heaven."

Seperti penuturan salah seorang mahasiswa internasional yang menceritakan mengenai kisahnya di sebuah majalah katanya,
"I can tell them (international students, red) that whatever happens in life in Australia, you don’t have to give up at one point. You have to keep on going, and keep on striving. I know the life where you don’t have food – I spent  $20 a month only. It’s hard to survive in Australia – it doesn’t mean you have to give up. You just have to keep telling yourself you have to move on and achieve what you wanted when you came here."
And that, I think, applies to all of us, wherever you are and what life you are living... 

Tuesday, 12 November 2013

The People I Met: The Lonely Lady

Minggu sore, di sebuah restoran Indonesia yang terletak tepat di jantung kota, aku duduk di salah satu meja sambil menyantap ketoprak. Iya, begitulah caraku memanjakan diri, dengan membeli makanan di luar sekali-kali. Hal yang amat sangat jarang kulakukan demi menghemat pengeluaran. Namun hari itu aku tiba-tiba saja kepingin makan ketoprak dan memang ketoprak buatan restoran itu yang menurutku paling enak.

Restoran sangat sibuk hari itu. Mungkin juga karena didukung dengan cuacanya yang sangat dingin, membuat orang-orang kelaparan. Bagiku, sekalian mengobati rindu sekaligus menghangatkan diri sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Lagipula Si Ayang bisa bawel seperti nenek-nenek jika aku mendadak hipoglikemi (tidak paham dengan apa itu hipoglikemi? Well, setelah pacaran dengan Si Ayang baru aku sendiri tahu apa itu). Aku sedang menikmati ketoprakku ketika seorang perempuan yang usianya melampaui usia Mama menghampiriku, bertanya apa ia boleh berbagi meja denganku. Aku mengiyakan karena kulihat tak ada lagi meja kosong.

Selang beberapa waktu kami hanya menikmati makanan masing-masing tanpa saling berucap kata. Namun entah siapa yang memulai, percakapan pun akhirnya mengalir di tengah dengungan obrolan orang-orang di sekitar kami. Ia, perempuan asal Indonesia, kini hidup sendirian di sini, tanpa suami dan anak. Suami dan orang tuanya sudah meninggal, anak juga tak punya. Sanak saudara tinggal di berbagai belahan dunia lainnya dan ia sendiri sudah nyaris puluhan tahun tak pernah pulang ke Indonesia. Dalam hati aku merasa sedikit iba. Maksudku, betapa sepinya hidupnya. Di usia tua tapi harus hidup sendirian. Namun kemudian aku sadar bahwa hidup seperti itulah yang sedang kutuju...

Obrolan berlanjut sambil kami menyantap hidangan. Dan betapa herannya aku ketika dengan mudahnya aku meceritakan sepenggal kisah hidupku kepada seorang asing. Ia termasuk seorang yang ramah, membuatku nyaman mengobrol dengannya. Ia banyak bertanya tentangku dan banyak memberiku nasehat serta tips menghadapi cuaca Melbourne. Namun satu perkataannya yang paling kuingat, katanya "Tante bisa lihat kalau kamu termasuk orang yang mau maju dan mau bekerja keras. Jadi apapun itu tujuan dan cita-citamu, pasti bisa kamu raih." Well, entah bagaimana caranya ia bisa melihat hal itu dalam diriku dari sebuah pertemuan dan obrolan singkat. Tapi kuamini saja perkataannya.

Kami akhirnya selesai makan dan memutuskan untuk berdiri demi memberi kesempatan bagi pengunjung lain. Di persimpangan kami berpisah dan ia sempat berkata, "Kapan-kapan kita bertemu lagi ya, Nak."

Ketika aku berjalan ke arah yang kutuju baru aku sadar bahwa kami tak pernah bertukar nama. Mungkin suatu saat nanti...