Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Wednesday, 16 October 2013

Jailed for Sarcastic Comment on Social Media

Well, thought I could just share this here. Ini video amatir buatanku demi memenuhi tugas kuliah dari salah satu course yang aku ambil semester ini yang bertemakan "social media failure".

 

So, better watch out what we say online. And it goes to all bloggers as well...

Monday, 14 October 2013

My Relationship So Far

Ketika aku harus mengikuti bimbingan konseling beberapa waktu yang lalu (iya, aku sempat struggle juga kok saat harus beradaptasi dengan lingkungan baru di sini), aku tanpa sengaja membicarakan orientasi seksual dengan counsellor yang menangani aku. Dia bertanya apa aku memiliki partner, kujawab iya, di Indonesia. We're doing long distance, kataku. Lalu kami berdiskusi sedikit mengenai hubunganku dengan partner. Sebenarnya aku lupa-lupa ingat apa yang kami diskusikan saat itu, tapi yang jelas si counsellor itu sempat bertanya mengenai komunikasi aku dan partner.

Kalau diingat-ingat lagi sekarang, komunikasi kami berdua memang mengalami sedikit perubahan. Dari yang tadinya bisa setiap hari teleponan dan Line, sekarang hanya bisa sebatas Line chat saja. Teleponan kami lakukan dua atau tiga kali dalam seminggu. Itu disebabkan karena kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan kuliah sambil part-time, sementara partner sibuk dengan kuliah dan ujian serta kegiatan ekstrakurikuler. Apalagi sekarang ditambah dengan perbedaan waktu yang kian panjang. Yang tadinya hanya berbeda tiga jam saja, sekarang jadi berbeda empat jam karena saat ini Australia menggunakan zona waktu musim panas, atau Daylight Saving Time. Itu artinya di saat aku bangun, si partner masih tidur atau malah baru tidur. Ketika aku hendak makan siang, si partner baru bangun. Saat aku sudah selesai beraktivitas dan bersiap tidur, si partner masih sibuk. Kadang kalau dia lagi libur, bisa menemani aku tidur. Dengan kata lain, nasibnya si partner sering aku tinggal tidur. Hehehe... 

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, komunikasi kita berdua masih terbilang lancar-lancar saja sih. Yang aku maksud di sini adalah kualitas dan bukan kuantitas seberapa banyak kita ngobrol. Ketika ada suatu permasalahan, sebisa mungkin kita berdua membicarakan hal itu. Pernah juga sih sampai gondok-gondokan segala dan berakhir dengan aku meminta untuk tidak komunikasi sama sekali sampai tiga hari. Tapi setelah tiga hari, kita berdua kembali menyelesaikan apapun itu masalahnya yang ada. Ketika ada sesuatu yang tidak aku suka, maka sebisa mungkin aku bilang, begitu juga sebaliknya. Well, so far the way we communicate and understand each other works well for our relationship. And I hope it stays that way. 

Lebih lanjut lagi, jika ditanya kemana ujung-ujungnya hubungan kita berdua ini, maka dengan jujur akan kujawab tidak tahu. Sudah pasti aku memiliki rencana untuk menetap di sini dan itu berarti selamanya bakal long distance. Tapi jika rencana partner untuk kuliah S2 di sini berjalan lancar, artinya ada kemungkinan bisa sama-sama di sini. Namun itu masih beberapa tahun lagi. Aku cukup berharap yang terbaik saja untuk saat ini, sambil menjalani apa yang kami miliki sekarang. Bukan begitu, Yang? 

Btw, malam ini kembali si Ayang aku tinggal tidur lagi. Hehehe... Aku tidur duluan ya, Yang. Love you. 

Monday, 30 September 2013

Just a Random Post

"How do you like Melbourne so far?" Pertanyaan itu hampir selalu yang ditanyakan orang-orang yang mencoba untuk memulai sebuah percakapan denganku. Dan selalu kujawab, "I like it okay, it's just the unpredictable weather that I hate so much." Lalu mereka hanya akan tertawa mendengarnya.

Beneran lho ya, cuacanya itu bener-bener ngeselin banget, banget. One minute it's warm, the next is freezing me to death. Biasanya pagi menjelang siang cuacanya hangat, meski anginnya masih lumayan kencang tapi masih bisa ditolerir oleh tubuhku yang asli buatan negeri tropis. Menjelang sore-sore gitu hingga malam hari, bisa tiba-tiba hujan dan suhunya turun drastis. Kan aku jadinya kecele dengan hanya mengenakan kaos dan jaket atau cardigan yang bahannya tipis. Apalagi kalau aku harus pulang malam. Bisa-bisa aku menggigil seperti kucing kecemplung air dingin. Tapi yasudahlah ya, sudah resiko. Kuakali saja dengan berjalan secepat mungkin sambil menggigil-gigil macam kena gempa lokal.

Anyway, sekarang ini sudah memasuki minggu-minggu terakhir semester. Tugas-tugas kuliah ada beberapa yang sudah selesai, meski masih ada tugas-tugas akhir. Tapi setidaknya tugas yang tersulit sudah lewat, tinggal menggalau menunggu hasilnya. Kemarin aku dan beberapa teman sekelas merayakannya dengan makan bareng di sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Uygur. Aku, seorang berasal dari Cina, seorang lagi dari Kamboja, dan yang terakhir dari Pakistan. Berempat kami memesan 3 hidangan yang ternyata porsinya lumayan besar. Jangan tanya apa nama makanannya karena menunya dalam bahasa Mandarin.


Hidangan yang pertama itu isinya potongan daging ayam, kentang, paprika, tomat, dan semacam gorengan tepung. Bukan gorengan sih, karena tepungnya itu kenyal. Entah apa namanya. Bumbunya itu khas banget sih, tapi mirip masakan khas kampung halamanku. Ada potongan cengkihnya juga. Pokoknya bumbunya berasa banget deh.


Dua hidangan lainnya lagi ada semacam pasta dengan potongan wortel, kacang polong, kentang. Lalu yang terakhir, di piring yang kecil itu, semacam vermicelli (bihun), tapi bihunnya itu kenyal. Lumayan pedas, tapi enak. Jadi, bagi yang ingin jalan-jalan ke Melbourne, pastikan untuk mencoba hidangan khas Uyghur ini yang terletak di sepanjang Russel Street. (Ngomong-ngomong, pada tahu kan Uyghur itu di mana? Tadinya sih aku nggak tahu juga. Hehehe.)

Anyway lagi, sebenarnya aku rencananya mau menulis topik yang lain, tapi malah menulis soal makanan. Pada postingan berikutnya saja kalau begitu. Aku keburu ngantuk, padahal seharian ini aku sudah mengebo. Bahkan semenjak pulang kuliah kemarin sore, aku langsung tidur sampai pagi. Hanya bangun sebentar di jam 12 tengah malam menemani pacar ngobrol, lalu aku kembali tertidur. Lalu tadi siang, selesai mandi dan makan, aku kembali tidur. Benar-benar pembalasan dendam yang apik karena seminggu ini aku kurang tidur. Well, welcome to the uni life!

Monday, 9 September 2013

Guest Post: Si Pacar

Kira-kira sebulan yang lalu aku meminta si pacar untuk menuliskan sesuatu di blog ini. Kataku, "Yang, kamu mau gak nulis guest post di blogku?" Reaksi pertamanya adalah, "Waaaa... kenapa tiba-tiba minta itu???" Hihihi... siyok kan jadinya si pacar.

Sebenarnya permintaan itu aku buat demi memenuhi janjiku untuk mengenalkan si pacar di blog ini. Tapi, tapi dan tapi sekali-kali si pacar dong ah yang cerita. Ya, kan? So, instead of me writing the story, I asked her to do it. Dan inilah hasil tulisan semalam suntuknya untukku, yang masuk di emailku dengan judul file 'Emm'. Serius, itu judulnya lho.

Emm... mungkin pembaca blog setia Rae akan sedikit heran untuk postingan kali ini. manusia ajaib bin freak ini menjebak-jebak aku manusia polos bin ajaib untuk menulis di blognya. Peringatan saja,aku tidak ada bakat dalam bidang tulis menulis. Jadi, jika postingan ini membosankan silakan kalian kirim email protes ke Rae yang saat ini sedang tertawa bahagia melihat aku mengarang indah. Di postingan sebelumnya,tuan rumah blog ini ada menjanjikan cerita mengenai orang spesial yang sekarang bersama dia dan itu aku.
  1. Hal yang mungkin terbesit saat kalian tahu Rae sudah memiliki pacar: Bagaimana bisa Rae punya pacar? *muka bengong
  2. Kok pacarnya mau ya sama Rae? *muka bingung
  3. Bukankah Rae sekarang di negeri antah berantah? Bagaimana bisa bertemu?*muka mikir
  4. Dan pertanyaan lain yang mungkin bisa kalian tanyakan langsung kepada Rae si manusia ajaib bin freak
Pada awalnya aku tidak berniat mengatakan perasaan yang aku punya. Aku merasa lebih baik aku simpan sendiri,menjadi teman yang baik, menjadi pembaca setia blognya. Bayangkan,kami sudah berjanji untuk backpack bersama (walau tidak yakin sih karena bakat kerempongan yang ia punya) dan hal itu mungkin saja rusak jika aku mengatakan isi hati ku. aku juga akan main ke tempatnya, tiket sudah kubeli. Jika aku mengatakan perasaan ku dan membuat suasana menjadi kacau nasib ku di tempatnya bagaimana -_-“. 

Dari sekian banyak hal yang kami obrolkan, ada 1 topik yang membuat aku merasa ‘lebih baik aku bilang perasaan ku saat hari terakhir di tempatnya atau di hari keberangkatannya ke negeri koala’. Aku tidak peduli seandainya ia melakukan penolakan karena dia juga akan pergi jauh,aku hanya ingin dia tahu bahwa ada orang yang jatuh cinta dengannya. *Jika saudara/i berpikir kami banyak membicarakan hal berat, itu salah karena pada aslinya kami lebih banyak membicarakan hal-hal tidak penting yang bisa berlanjut berhari-hari (senyum terselubung).

Dasarnya kami sama-sama gengsi dan selalu denial dengan perasaan masing-masing, kami hanya menebar sinyal, lucunya kami sama-sama menyadari hal itu tetapi tetap diam dan berkata dalam hati ‘oooo seperti itu’. Singkat cerita, aku memutuskan untuk mengungkapkan isi hati ku sebelum aku mengikuti pelatihan di kota dekat kota dimana ia tinggal. Seusai dari pelatihan aku langsung terbang menuju kotanya. 

Kesan pertama saat bertemu adalah “jam karet”. Aku ditelantarkan di bandara selama 1 jam! Jelas aku jadi kesal, dan ia datang dengan tampang tidak berdosa lalu cengar cengir. Selama aku di kota ia tinggal,aku semakin yakin bahwa ia tinggal di kota pelosok. Bagaimana tidak, dari tempatnya tinggal menuju pusat kota berjarak 45km. Aku buka peta untuk melihat letak kota, dan letaknya nyaris paling ujung. Secara kondisi geografis, gunung dimana-mana dan dekat dengan laut tetapi manusia ini masih tidak mau mengakui bahwa ia tinggal di pelosok. (Yang, kapan mau ngaku kalau tinggal di pelosok?)

Rutinitas aku selama bersamanya sederhana:

  1. Alarm bunyi, matiin, kembali tidur
  2. Mandi
  3. Sarapan bersama keluarganya
  4. Melaksanakan misi dari mamanya
  5. Pergi ke tempat wisata (sisipan)
  6. Pulang, bersih-bersih, tidur
Saat pergi ke salah satu mall untuk membeli kebutuhan perkakas rumah,aku mengajaknyamain timezone. respon dia adalah “gak pernah aku main timezone lagi semenjak kuliah *muka ogah-ogahan”. Setelah bermain, “nanti main game itu lagi yuk *muka sumringah kaya nemu koin gope di jalan”. 

Kami juga nyaris melakukan hal alay, melihat sunset tetapi karena tempat tidak memungkinkan kami sepakat untuk membatalkan. Kalau kalian berpikir melihat sunset itu hal romantis, memang romantis tapi kalian akan berpikir berkali-kali jika sudah lihat tempatnya, percayalah. Ah, kami pergi ke sebuah danau yang terletak di salah satu kaki gunung. Kami menikmati keindahan danau tersebut dengan indomie goreng, sepiring pisang goreng, dan kaki yang tidak bisa diam menahan pipis (wc nya tidak tahu dimana hahahaha....)

Ok, ceritanya sampai disini. Cerita lainnya? Biarkan si pemilik blog ini yang melanjutkan
*stop jebak-jebak aku buat nulis (⌐ _⌐)
Nah, jadi itulah dia Si Pacar yang kusebut-sebut. Hehehe... Thank you for writing this, Honey *mwah mwah* ;)

Tuesday, 3 September 2013

Melbourne Photos

Been meaning to post some photos that I took while hanging out around Melbourne, tapi tak kunjung jua dikerjakan. Baru bisa kesampaian sekarang, so here they are. All photos were taken with my smartphone.

Ini lho, Springvale yang kuceritakan di awal minggu aku tiba di sini. Ini salah satu suburb di Melbourne, Victoria, yang banyak penduduk Asia. Suburb lainnya adalah Box Hill, Nunawading dan sederetan suburb lainnya hingga Springvale. Kemudian ada Footscray yang banyak orang Vietnam-nya.

Springvale, Victoria


Springvale, Victoria