Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Saturday, 19 January 2013

Happy (belated) 2013!

Aku TERLENA. Bagaimana tidak, blogku ini nyaris terlantar. Well, sudah terlantar sepertinya, ya. Sudah minim postingan, kemudian ditambah lagi dengan rasa malas yang mendadak datang tanpa diundang. Maklum, sibuk. (Iya, alasannya klasik.)

Mengikuti pepatah lama, "biar lambat asal selamat," biar telat daripada tidak sama sekali, aku pun ingin mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru. Kan mumpung aku sudah mulai menulis lagi, dan semoga saja sampai ke depannya juga tetap seperti itu, jadi baru kusampaikan sekarang. Hehehe...

Lalu apa resolusiku? Hmm... sepertinya tahun ini resolusiku tidak muluk-muluk. Kalau melihat setiap kejadian yang terjadi di tahun lalu, aku hanya berharap tahun ini akan lebih baik, meski aku juga tidak mengurangi syukurku atas hal-hal yang sudah kualami di tahun 2012 kemarin.

Semua keperluan dan segala urusan yang berhubungan dengan sekolahku sudah beres. Visa sudah kuperoleh, tiket sudah di tangan. Lalu ada seorang temanku yang menawarkan tempat tinggal sementara setibanya aku di Melbourne nanti. Dia juga bersedia menjemputku di bandara dan menawarkan diri untuk membantuku pindahan. Meski aku saat ini masih mencari tempat tinggal permanen, tapi sudah ada beberapa orang yang bersedia menyewakan sebuah kamar untukku. Tinggal kupilih mana yang paling cocok denganku. Sekarang tinggal menunggu waktu keberangkatan yang tidak lebih dari 1 bulan lagi.

Jadi kalau bicara mengenai resolusi, kupikir resolusiku masih sama dengan tahun-tahun yang lalu hanya saja kali ini aku memiliki harapan baru. Iya, harapan untuk kembali kuliah dan memulai yang baru di tempat yang baru pula, walau sebenarnya ada sedikit kekhawatiran karena artinya aku harus pergi jauh, benar-benar jauh kali ini, dan hidup sendirian di negeri asing. Tapi ini sudah menjadi pilihanku, maka harus kujalankan dengan sungguh-sungguh. Lagipula, there is no turning back, right? Jadi ini ceritanya maju terus, gak boleh mundur!

Kalau itu yang menjadi resolusi dan harapanku di tahun ini, bahwa rencanaku ke depannya bisa tercapai, maka aku juga berharap bahwa harapan, keinginan serta cita-cita kalian, apapun itu, di tahun ini bisa tercapai. Amin!

Friday, 14 December 2012

The Wedding

"Giliranmu kapan?" Itu pertanyaan yang seharian penuh dilontarkan kepadaku di hari pernikahan adikku.

"Wah, masih lama," jawabku asal saja.

"Keduluan si adik dong." Komentar lain yang turut disembur para undangan.

"Iya nih. Akunya masih belum jelas kapan, makanya kubiarkan saja dia menduluiku. Daripada dia depresi karena kelamaan menungguku. Ha ha ha," balasku, lebih asal lagi.

"Cepat-cepatlah kamu cari. Jangan kelamaan, nanti keburu tua." Komentar yang lain. Tak mau menyerah sepertinya mereka, sampai aku mengenakan baju pengantin. Idih, mau cari di mana? Apa perlu kupasang iklan di sini, begitu?Bunyinya: "Ayo, ayo, yang mau sama aku, mari mendaftar." Mending ada yang daftar ya. Tapi itu namanya sudah usaha, kan? Kalau dapat, ya syukur. Gak dapat, tragis. *kode Nita* Ha ha ha.

Jadi begitulah, pernikahan berlangsung dan aku sukses wara-wiri sehari penuh dengan high heels dan rambut yang terlalu banyak disemprot hair spray. Satu hal yang membuatku sadar saat itu, selain make up-ku yang tebal, adalah sekarang adikku yang satu itu telah memilih jalan hidupnya; berkeluarga. Sebuah keputusan yang kuharap telah dipikirnya baik-baik, mengingat usianya yang masih termasuk cukup muda untuk memulai sebuah keluarga. Sebagai seorang kakak tentu aku mengharapkan yang terbaik bagi keluarga barunya.

Sekarang tersisa aku dan Si Bungsu. Kupikir masih ada waktu yang cukup lama untuk dia juga melangkahiku, mengingat usianya yang terpaut 8 tahun dariku. Masih muda, masih hijau. Eh, tapi siapa tahu setelah pasang iklan lalu ada yang melamar? Ha ha ha!!!

Ah, sudah mulai meracau postingannya. Kuakhiri dulu sampai di sini. Pokoknya aku selalu mendoakan kebahagiaan dan keutuhan keluarga adikku. Dan tentu saja dengan senang hati kubiarkan dia menduluiku. Sudah dulu ya, mumpung sedang berada di luar kota, aku kepingin berburu makanan. Yuk!

Saturday, 10 November 2012

Getting Detach

Dalam sebuah obrolan melalui BBM dengan Nita, temanku, dia memberitahukan satu hal kepadaku, yaitu mengenai 'melepas kemelekatan', yang kuartikan sendiri sebagai 'getting detach'. Aku jadi ingat akan kenangan masa kecilku tentang aku dan si dot. Iya, dot yang diemut-emut itu. Aku benar-benar melekat dengan dot masa kecilku yang warnanya kuning itu sampai-sampai aku tidak akan bisa tidur tanpa mengemutnya. Tanpa dot, aku tidak akan sanggup hidup, dan si dot pun hanya akan tergeletak tak berdaya dan kesepian di dalam kulkas jika tidak kuemut (yang ini hiperbola banget deh). Maka tidak heran jika kami berdua tak terpisahkan sampai aku duduk di kelas 3 SD. Hingga akhirnya di suatu malam, orang tuaku memutuskan bahwa sudah saatnya aku lepas dari dot kuningku itu, dan tanpa berperikedotan mereka membuang si dot kuning di tengah malam nan gelap. Akupun menangis histeris karena kehilangan belahan mulutku (iya, kan diemut dimulut ya) malam itu dan malam-malam selanjutnya.

Kalau bukan karena keputusan orang tuaku untuk membuang si dot kuning, maka mungkin saja sampai aku menginjak usia yang tidak wajar lagi untuk mengemut dot, maka aku tidak akan sanggup melepas kemelekatanku dengan si dot kuning. Meskipun awalnya sangat sulit untuk membiasakan diri tidur tanpa dot kuning kesayanganku itu, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa hidup tanpa si dot. Sama seperti sekarang, setelah aku tumbuh menjadi dewasa tanpa sadar aku kembali melekatkan diriku dengan berbagai hal. Bahkan ketika kelekatanku itu justru membuatku kerepotan, kelimpungan, atau bahkan mendadak masokis, tapi aku tidak sanggup lepas dari kemelekatan itu. Aku terlalu melekat dan baru aku sadar itu sungguh sangat tidak baik bagi diriku sendiri.

Beruntung aku diingatkan oleh temanku itu bahwa ada hal-hal yang harus aku sendiri lepaskan. Berbeda dengan kisahku dngan si dot kuning yang memaksaku harus melepasnya, kali ini harus datang dari diriku sendiri. Aku sendiri yang harus mengambil keputusan. Tidak ada orang lain yang bisa melepasnya kecuali aku, juga tidak ada orang lain yang bisa memaksaku kecuali datang dari keinginanku sendiri. Mau tidak mau, pokoknya harus lepas. Bagaimanapun caranya, pokoknya harus lepas. Seberapa sulitnya pun, harus lepas. Harus dan harus, kalau aku benar-benar mau membebaskan diriku dari setiap rasa dan pikiran yang menyiksa karena kemelekatan itu.

Pada akhirnya, semasokis apapun aku, kuputuskan untuk perlahan melepas kemelekatanku pada beberapa hal. Awalnya sudah pasti tidaklah mudah. Sama seperti menyembuhkam patah hati. Tidak bisa langsung lepas. Namun trik yang kulakukan adalah perlahan untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku melekat. Karena seperti magnet berbeda kutub yang saling tarik-menarik, pikiran dan kelekatan itu sungguh sangat erat. Dan sekarang perlahan aku mulai merasa bebas. Meskipun masih meninggalkan secuil sesak di dada, hal itu tidak lagi terlalu menyiksa sampai-sampai aku bisa lupa makan, atau tidur tidak nyenyak.

Setelah melepaskan diri sedikit demi sedikt, aku cukup tercengang dengan keputusan yang sudah kubuat. Karena jika aku masih melekatkan diriku, sudah pasti aku tidak sanggup melakukan apa yang hendak kulakuan. Oleh karenanya aku berterima kasih pada temanku itu atas sarannya. Many, many thanks to you, dear. Sekarang aku bisa fokus untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang masih tertunda, serta mempersiapkan diri untuk keberangkatanku yang semakin singkat. Semoga semuanya berjalan lancar.

P.S. Don't I deserve a Kit Kat, Nit? *kode* Hahahaha...

Monday, 29 October 2012

When She's Gone

Here's the thing. Whenever I'm facing a heart-breaking turmoil or a chaotic situation or whenever I'm in a gloomy mood, I'm missing my Granny.

With my brother is getting married, my mom being sick and has been hospitalised, and I'm leaving in less than four months and have been having a constant back pain, it's enough reason for me to miss Granny so, so very much. I miss her so bad that it hurts. I miss her asking me if I had had my meal, or asked me if I prayed. I miss our little conversation over the phone call and she'd have told me to study hard and not taking a cold-shower at night.

Back when she was still alive and healthy, she would take me to the market and bought me things I asked. She was the only person who cared if I had enough underwear to wear, she was the only one who took care of my hair that most of my friends are willing to kill for. She was the one who took care of me when I was wounded. She would put on the medicine and held me close to her, whispering words to ease the pain. I remember the comfort I felt whenever I slept beside her, that I feared no pain because she wouldn't let me get hurt. Or even if I was hurt, I knew she would be there for me.

Now she had gone to a place that I believe is heaven. I lost the one person I love the most. Sometimes I feel weak knowing that she's no longer here to be with me, to prevent me to get hurt, to heal my wounds. Sometimes I would wonder over a star at the night sky; that she's the star, looking down at me. Other time I would lie on my bed, staring blankly at the ceiling and trying to imagine her face or remembering her voice. There are also times when I woke up in the middle of night and was terrified that I've already forgotten her face and voice.

However, deep down I know she's still alive and is looking out for me. And right at this moment, as I'm lying on my bed in the dark and alone, upset, tired, and hurt, and, well, typing this melancholic post, I know that she's right beside me.

It's just her presence and her voice that telling me everything is gonna be alright, is what I need the most...


Sent from my BlackBerry®

Monday, 1 October 2012

Some Things Stay the Same

Seperti malam berganti pagi, bulan pun ikut berganti. Hari ini banyak orang, baik di akun Twitter maupun status BBM, menyambut bulan Oktober. Ada nanti, harap dan asa yang baru.

Aku pun juga demikian. Ada banyak hal baru yang kuperoleh dan kualami, bahkan sesudah bulan berganti untuk yang kedua kalinya. Semuanya serba baru, bahkan kalau boleh dibilang serba asing bagiku. Begini deh. Untuk lebih memperjelas maksudku, aku berikan sebuah perumpamaan, yang menurutku juga tidak benar-benar sebuah perumpamaan. Coba bayangkan kamu adalah seekor beruang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Bagaimana rasanya? Linglung? Bingung? Tidak tahu apa-apa?

Seperti itulah kira-kira yang kurasakan sekarang. Rasanya selama ini aku tidur. Hiatus kalau kata orang. Lalu ketika aku bangun, aku disodorkan dengan kenyataan di depan mataku, kenyataan yang baru dan yang terasa asing bagiku. Yang kulakukan pertama kali saat menyadari bahwa kenyataan itu benar-benar terjadi adalah memandang cermin dan bertanya kenapa. Kenapa aku melakukan ini dan itu? Kenapa aku begini dan begitu? Bagaimana ini dan itu bisa terjadi? Aku menanyakan semua pertanyaan yang tak pernah ada habisnya, yang juga tak akan ada yang bisa menjawab. Bahkan sampai aku kepikiran untuk mendatangi psikiater lho. Kali aja semua pertanyaanku bisa dijawab, meski alih-alih aku bisa saja didiagnosa sebagai pasien sakit jiwa.

Hampir satu bulan, atau bahkan lebih, aku menyesuaikan diri dengan hal-hal yang ada di sekelilingku sekarang, terlebih dengan hal baru yang kuperoleh. Yang pada awalnya aku menolak, tapi setidaknya sekarang perlahan aku mulai bisa menerima dan menikmatinya. Meski kadang, sekali dua kali, aku masih juga terheran-heran dan masih juga bertanya-tanya, sih. Tapi kurasa itu hal yang wajar, kan? Kalau sekarang, ketika berdiri di depan cermin, aku tidak lagi bertanya-tanya tapi aku malah berkata: "Hey, sekarang kamu orang yang baru, lho." Iya, beda tipis sama orang gila, ya? Tapi peduli apa? Yang penting aku senang.

Akan tetapi ya, semua hal yang tadinya kurasa asing lama-kelamaan mulai terasa familiar. Entah karena aku yang mulai terbiasa atau karena jauh di bawah alam sadar aku tahu akan hal-hal tersebut. Jadi kupikir meski ada banyak perubahan yang terjadi, beberapa hal dalam hidup tetap saja sama. Dan aku, meski mengalami perubahan karena kejadian yang terjadi belakngan ini, pun masih tetap sama.

P.S. Oh, kecuali rambutku yang sekarang dikeriting. Itu lho, yang kata orang keriting gantung... Yap, akhirnya rambutku sudah cukup panjang untuk dikeriting. Maka terpenuhilah sudah satu keinginanku.

P.S. lagi. Ini aku sebenarnya mau ngomong apa sih? Aku yang berubah tapi tetap sama, atau memang berubah, atau apa coba?