Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Saturday, 12 March 2011

Living in Dorm (Part 3)

Yup, here's the third and last part of my story living in dorm. 

Tahun Ketiga

Tahun ketiga artinya gue memasuki kelas 3 SMP. This time I got back to the dorm as a low profile dweller. Heheh... Lagipula, gue udah puas berhura-hura di tahun kedua, and it didn't really fit me. You know... being a bad girl and a rebel. It just didn't feel right :).

Reputasi yang gue peroleh di tahun kedua masih tetap menempel meskipun gue tidak lagi mejabat sebagai ketua, karena biasanya anak kelas 3 tidak lagi menjabat sebagai petinggi karena harus fokus dengan ujian akhir. Tapi gue tetap menjaga aliansi gue dengan para (troubled) senior, just in case something happen. Dengan begitu, gue masih tetap ditakuti oleh adik-adik kelas, apalagi oleh para junior yang baru masuk. Makanya gue menjadi andalan mereka untuk minta perlindungan.

Tahun ketiga menjadi tahun yang penting buat gue, bukan hanya karena gue harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir tapi juga karena di tahun ini gue mulai menyadari sesuatu. I begin to feel that there's something different with me. Dan karena gue tidak lagi sibuk dengan urusan mencari ketenaran dan messing around, serta sibuk dengan tugas sebagai ketua, gue jadi punya sedikit waktu untuk memikirkan: why do I have crush on girls??? Bukan hanya tertarik dengan satu perempuan, si senior dengan tatapan sadis, tapi dengan dua perempuan. Satunya lagi adalah penghuni baru, anak SMP, yang pendiam dan pemalu banget dsehingga menjadi bual-bualan anak kelas 2 yang, seperti gue dulu, sok keren dan sok jago. She was under my protection and ever since no one dare to touch her.

Satu-satunya hiburan di asrama yaitu musik. Gue tumbuh bersama lagu-lagunya Britney Spears, M2M, Backstreet Boys, Boyzone, Shania Twain, yang diputar di walkman yang harus disembunyikan dari suster kepala karena memang dilarang membawa alat elektronik. That time, I was crazy about Britney and even dreaming about dating her, while the other girls were crazy and dreaming about dating Nick Carter or Ronan Keating. Saat itulah gue sadar bahwa ada yang salah dengan diri gue.

Waktu itu gue masih terlalu polos untuk mengerti apa yang sebenarnya gue rasakan, meskipun semakin hari gue merasa semakin tertarik dengan si senior dan adik kelas gue. Mungkin kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaan gue saat itu adalah: bingung. Iya, gue bingung. Kok bisa gitu sih? Dan di tengah kebingungan, I found out that I sometime staring at the other girls in the bath. And I mean stare "stare". Pervert banget gak sih? Hihihi. Well, I was just exploring *ngeyel* =P.

Ketika itu gue masih belum memasuki tahap di mana gue ketakutan karena gue sendiri masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi dengan diri gue. Masa itu baru terjadi ketika gue kuliah. Makanya dibilang gue telat meletek. Asem. Saat itu gue cuma menikmati aja kebingungan gue itu, sementara gue jadi semakin dekat dengan senior bertatapan sadis itu karena sebuah pertanyaan bodoh yang gue lontarkan: "nipple apaan sih?" Maklum, vocab Bahasa Inggris gue dulu itu cuma sebatas 'yes' dan 'no'. Now that I'm thinking about it, why the hell did she talk about nipple with other girls in bedroom??? Hmmm...

All in all, I didn't put so much thought on my confusion karena pikiran gue seringkali teralihkan dengan ujian akhir serta beberapa kejadian yang menggemparkan seluruh penghuni asrama.

Di pertengahan tahun, ada seorang penghuni yang sering sakit-sakitan, sering pingsan juga. Pernah sekali dia pingsan di depan kamar mandi dan untungnya gue lagi berdiri tepat di belakang dia. Akhirnya teman gue itu meninggal dunia. Tentu saja seluruh penghuni dibuat geger karenanya. Malam hari tidak ada seorang pun yang berani tidur sendirian. Semua maunya tidur berdua atau tempat tidurnya didempetin. Mana ditambah lagi katanya tempat tidurnya teman gue itu spooky. Sejak saat itu gak ada lagi yang berani ke kamar mandi sendirian.

Kejadian lainnya yang bisa gue ingat dengan jelas, yang terjadi tiga hari setelah kematian teman gue itu adalah "nangis masal". Waktu itu, tiba-tiba beberapa penghuni nangis saat lagi jam belajar. Enggak tahu kenapa mereka nangis, tapi kejadiannya tiba-tiba aja gitu. Tahu-tahu sebagian penghuni yang lain jadi ikutan nangis. Nah lho, apa pula yang terjadi ini? Konon katanya itu ulah salah seorang penghuni asrama yang berasal dari daerah yang terkenal dengan ilmu perdukunannya (look how stereotype people can be), yang katanya memang lagi ada masalah dengan suster kepala. Cukup menghebohkan sehingga melibatkan doa bersama dengan para suster di biara.

Tahun ketiga merupakan tahun terakhir gue di asrama. Well, sebenarnya bagi seluruh penghuni juga karena di akhir tahun ajaran pihak yayasan memutuskan untuk melakukan pemugaran. Makanya semuanya diusir dulu, hihihi. Lagian itu bagunan memang gak layak tinggal juga. Semuanya serba angker di dalam sana.

Di akhir tahun gue lulus ujian. Hari itu juga gue langsung packing barang-barang dan meninggalkan asrama dengan banyak kenangan yang kalau gue ingat-ingat sekarang, bisa membuat senyum-senyum geli. Di sana gue bisa bertemu banyak teman sekaligus musuh juga. Di sana gue menemukan "my first crush" dan jelas menjadi tempat dimana gue menyadari awal dari orientasi seksual gue.

Last but not least, asrama memberikan gue sebuah pelajaran untuk bisa bertahan hidup dalam kesendirian. Gue bisa jadi lebih mandiri dan belajar banyak mengenai tanggung jawab terhadap banyak hal, terutama terhadap kepercayaan yang diberikan oleh orang tua. Itu sebabnya kenekatan gue untuk terus merantau bahkan ke tempat yang semakin jauh dari rumah justru malah disetujui. Dan karena tinggal di asrama, gue jadi memiliki sebuah kenangan masa muda yang indah :).

The End.


Ps. I decided to just write a proper story. Artinya, kisah-kisah yang gue tulis hanyalah kisah yang menurut gue layak untuk dipublikasikan demi menjaga privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita gue. So, no cerita "ehem-ehem". Hihihi... ;)

Friday, 11 March 2011

Living in Dorm (Part 2)

Sorry for the late post. Maklum, (sok) sibuk :p. So, here's the second part of the story.

Oia, sebelum lanjut, gue mau ngasih tahu kalau di asrama itu terbagi atas 2 kelompok: yang pertama kelompok anak-anak SMA dan yang kedua kelompok anak-anak SMP. Jumlah anak SMA saat itu jauh lebih banyak, baik itu yang baru masuk maupun yang udah senior. Sementara anak-anak SMP merupakan angkatan pertama waktu itu dan jumlahnya hanya sekitaran 15 orang. Gak heran kan kalau ditindas dengan ganas.

Tahun Kedua

Tahun kedua gue di asrama merupakan tahun kebesaran gue. I ruled that place, hihihi. Memasuki tahun ajaran baru, jelas ada anak-anak baru lagi yang masuk, baik itu SMP atau SMA. Ketika saatnya kembali ke asrama, gue tibanya telat. Ternyata mulai tahun kedua ini, kamar anak-anak SMP dan SMA dipisah karena jumlah anak SMP bertambah menjadi sekitar 25-30 orang. Karena gue datangnya telat, gue kehabisan tempat tidur. Asem banget deh. Masa sih tempat tidurnya kurang??? Untungnya masih ada tempat tidur yang kosong di kamar anak-anak SMA. Nah, ternyata kesialan gue malam itu berbuah keberuntungan nantinya buat gue.

Dengan jumlah yang semakin banyak, maka suster kepala memutuskan bahwa harus ada ketua dan wakil ketua untuk kelompok SMP karena sebelumnya ketua asrama bertanggung jawab untuk seluruh penghuni. Gue bilang tadi kalau tahun kedua ini merupakan tahun kebesaran gue. Well, gue dipilih menjadi ketua asrama untuk kelompok SMP dan teman gue yang berasal dari SD yang dengan gue menjadi wakilnya. Dengan jabatan ketua asrama di tangan gue, maka mulailah gue membangun kerajaan sendiri (lebaaaayyyy).

Kesialan gue tidak mendapat tempat tidur di kamar SMP kini mulai berganti menjadi sebuah keuntungan buat gue. Karena gue tidurnya bareng anak-anak SMA, gue jadi bisa temenan dekat dengan beberapa anak SMA yang baru maupun yang senior.

I figured bahwa hidup di asrama itu sama seperti hidup di hutan dengan hukum rimbanya, yaitu siapa yang kuat dialah yang bertahan hidup. Kayak kalau tiap musim hujan, asrama pasti banjir. Lagi tidur tahu-tahu sandal-sandal sudah mengapung di air yang sudah setinggi pergelangan kaki orang dewasa. Jadilah para penghuni harus mengungsi ke biara yang letaknya agak sedikit lebih tinggi sambil membawa kasur, bantal dan selimut. Tuh, gimana gak harus tahan banting kalau begitu?

Ketika seorang senior yang terkenal dengan tatapan sadisnya, yang dulu nyuruh-nyuruh gue cuci piring selama satu minggu penuh, beberapa kali minjem duit ke gue, gue melihat ada sebuah peluang untuk mulai membentuk aliansi. Kali ini gue gak mau ditindas begitu aja. Jadi pinjam duit boleh aja. Ganti gak diganti, gak masalah, tapi harus menjadi "pelindung" buat gue. (Ada kebiasaan bahwa seorang senior pasti mempunyai "adik angkat" di sana.) Later on, I found out that I had a crush on her. Sejak saat itu gue mulai merajut aliansi satu per satu dengan para senior. Kata teman gue ya, gue kalau jadi politikus pasti bakalan sukses karirnya hahaha. 

Jabatan ketua ada di tangan gue dan menjalin aliansi dengan beberapa senior jelas mengukuhkan posisi gue (sombong deh hihihi). Ditambah lagi dengan rasa bebas yang gue peroleh, well... you imagine good girl gone bad. And I mean pretty bad. Seperti kata Avril Lavigne,
"All my life I've been good, but now, whoa, I'm thinking what the hell
All I want is to mess around and I don't really care"
Yaaaay...!!!

I am now a bad, bad girl, ladies. Bayangin ya, secara tidak langsung gue membuat musuh bebuyutan gue dari awal masuk asrama hengkang. Karena dia cengeng banget, dikit-dikit nangis, dikit-dikit mewek, gue gatel-gatel kalau dekat-dekat dia. Dan ternyata banyak yang gak suka karena dia cengeng. Setelah gue melakukan konfrontasi, ternyata banyak yang mendukung dan akhirnya dia hengkang karena gak tahan. Yes, I can be mean, too. Hehehe.

Reputasi gue sebagai "bad girl" semakin dikukuhkan with having a cat fight, yang melibatkan tampar-tamparan, cakar-cakaran dan baku pukul, dengan salah satu penghuni satu angkatan dengan gue karena dia nyolot banget sama gue. Dan yang membuat gue jadi semakin terkenal adalah karena perkelahian sengit gue dengan seorang penghuni baru, anak SMA.

Waktu itu giliran meja gue cuci piring. Ada beberapa orang teman gue di meja itu, baik yang SMP maupun yang SMA. Dan ada juga salah satu senior yang terkenal paling judes serta pengikut setianya. Gue kebagian tugas membilas piring yang udah selesai disabunin, sementara si pengikut setia tugasnya membilas gelas. Kurang ajarnya, kerannya dipakai sendiri buat dia membilas gelas padahal tumpukan piring gue ada banyak banget. Gue tegur supaya gantian sama gue pakai kerannya, eh, dia malah cari gara-gara. Gue ambil satu gelas yang udah dibilas dan lempar ke loyang yang isinya air sabun. Airnya nyiprat ke baju dia. Dia balas siram gue pakai air, gue balas juga siram dia. Akhirnya malah siram-siraman dan terakhir gue siram dia pakai air sabun cuci. Mana dia badannya bongsor, jauh lebih besar dari gue. Ibaratnya kayak Daud vs Goliat. Gue udah siap-siap kalau dia membalas, tahu-tahunya dia diam terus nangis. Gue bengong... semua yang ada di dapur ikutan bengong... Tiba-tiba si senior judes ketawa ngakak. Badan doang gede, tapi cengeng. Sejak saat itu dia dendam kesumat sama gue, apalagi karena seniornya cuma diam aja. Ya iyalah, dia temenan sama senior yang tatapannya sadis, yang jelas-jelas adalah aliansi gue gitu lho. Yes, I won. Hihihi.

Gak sampai di situ aja. This time I turned into a rebel. Yep, dimentori oleh para senior yang doyan cabut dari asrama dan manjat pagar, gue jadi ikut-ikutan kabur. Waktu itu gue memimpin sekelompok anak SMP untuk kabur dari asrama demi menonton... Kuch Kuch Hota Hai, di bioskop. Yeah yeah, I know it's lame. Tapi itu udah keren banget waktu zaman gue dulu, hahaha. Ternyata ketahuan sama suster kepala dan gue serta teman-teman yang lain dihukum cabut rumput di halaman asrama selama satu minggu. Sampai sekarang gue gak tahu siapa yang lapor. Damn...

The second year ended with so much glorious for me. Gue masuk 3 besar di sekolah dan tugas-tugas gue sebagai ketua terlaksana dengan baik. And I got respect from all (troubled) seniors. Awesome, yes.

To be continued...

Ps. Lagi jam kerja soalnya... hihihi.

Wednesday, 9 March 2011

Living in Dorm (Part 1)

Waktu ketemuan dengan teman lama hari Minggu kemarin, selain curhat-curhatan, gue berdua juga sempat bernostalgia sedikit waktu dulu masih tinggal di asrama. So, let me tell you the story of me living in a dorm. 

Tahun Pertama

Keputusan Papa untuk mendaftarkan gue di sebuah sekolah Katolik dengan layanan asrama khusus perempuan, jelas menuai protes. Protes yang pertama datang dari Oma, yang jelas karena tidak mau jauh dari cucu tercintanya. Protes yang kedua datang dari Mama, meskipun pada akhirnya Mama setuju dengan keputusan Papa. Protes yang ketiga datang dari seorang suster yang menjadi pembimbing Legio Maria dan Putera-Puteri Altar (PPA) waktu gue SD dulu, dan berhubungan cukup dekat dengan keluarga gue, dengan alasan usia gue masih terlalu muda untuk bisa hdiup jauh dari keluarga. Masih SMP kelas 1, bok!

BTW, gue bisa membayangkan kalau seandainya teman-teman Legio Maria dan PPA gue tahu that I'm gay, pasti bakalan heboh. Bisa gue bayangkan mereka akan bilang "astaga, lo kan dulu rajin ikut Legio Maria dan tiap hari Minggu pasti misdinar di gereja. Kok bisa sih lo jadi lesbi???", dengan suara melengking tertahan ketika menyebutkan kata terakhir, in disbelieve. Hmm... pasti seru!. (Not that I'm waiting for that moment to happen... not in so many years.)

Kembali ke cerita. Dengan didukung Mama, maka keputusan Papa tetap dijalankan dan pada akhirnya gue lulus tes dan diterima juga di asrama. Sekolah akan dimulai dan artinya gue harus segera mengungsi ke asrama.

Asrama yang gue maksudkan di sini adalah sebuah gedung tua, yang dari bentuk dan desain ruangannya, kemungkinan besar adalah bekas rumah sakit di masa penjajahan Belanda dulu. Lantainya tanpa keramik, setiap ruangannya luas dengan jendela kayu, berandanya mirip beranda rumah sakit, kamar mandinya luas dengan bak panjang di tengah dan dengan penerangan yang temaram (benar-benar suasana yang angker ketika kebelet di tengah malam), dan kamar tidurnya terlihat seperti bangsal rumah sakit di mana para pasien terbaring sakit di atas tempat tidur (persis seperti di film-film perang zaman dulu) dengan tempat tidur besi dua tingkat lengkap kelambunya.

The very first month is like living in a hell. I believe I live in one. Sejak hari pertama, selama seminggu penuh, anak-anak baru digembleng oleh para kakak-kakak asrama, in a meanest way as you can imagine. Semua anak baru mendapatkan perlakuan yang semena-mena, yang katanya sebagai bagian dari pengenalan asrama. Meskipun gue tidak mengerti dengan arti "pengenalan" dalam setiap tindakan semena-mena mereka, gue mau gak mau harus melaksanakan perintah, karena sudah seperti itu tradisinya secara turun-temurun, termasuk disuruh cuci piring selama seminggu penuh oleh seorang kakak asrama yang di kemudian hari malah menjadi aliansi gue (I'll tell you about that later on the next part). 

Selama satu minggu masa "pengenalan" (gue lebih suka menyebutnya masa "penindasan"), gue benar-benar enggak tahan. Tiap hari gue homesick, kangen rumah, kangen Oma, pengen pulaaaaaang... dan tiap hari pasti nangis. Selama seminggu penuh itu Mama terus-terusan datang berkunjung, padahal hari berkunjung cuma hari Kamis dari jam 5 sore sampai jam 6 (cuma 1 jam loh!?!?!?!), dan setiap kali Mama hendak pulang, gue pasti menangis meraung-raung gak bolehin Mama pulang; gak boleh pulang atau gue yang ikut Mama pulang. Tapi Mama punya jurus ampuh yang membuat gue akhirnya nyerah; tetap di asrama atau pulang dan gak usah sekolah. DOENG! Mau jadi apa gue kalau gak sekolah??? Mama menang, gue kalah. Telak.

Di bulan kedua gue sudah mulai merasa enjoy, udah punya banyak teman dari berbagai daerah, udah mulai terbiasa dengan kegiatan sehari-harinya, udah terbiasa mandi bareng puluhan perempuan lainnya (half naked... hihihi) dan tidur bareng di ruangan yang supeeeeerr luas. Kegiatan setiap hari anak-anak di asrama itu ya kayak gini:
4 am: Suster kepala asrama udah bunyiin lonceng. Apalagi suster kepala asrama itu kalau jalan kakinya diseret. Jadi sebelum lonceng dibunyikan, suara langkah kaki susternya udah duluan kedengeran karena gue tempat tidurnya di dekat jendela, yang konon katanya it's a spooky window, karena seorang suster Belanda dulu sering melongokkan kepalanya di situ demi mengawasi anak-anak asrama yang tengah tidur (damn creepy!) 
6 am: Ikut misa pagi di Katedral. Enam hari dalam seminggu, Senin-Sabtu, gue ikut misa. Makanya hari Minggu gue ogah ke gereja, hehehe. Pulang gereja langsung sarapan pagi bersama lalu siap-siap berangkat ke sekolah.
1 pm: pulang sekolah, langsung makan siang. Setelah itu kegiatan bebas, entah mau tidur siang atau cuci baju. Tapi gue lebih memilih tidur siang dong. Baju kotor bisa dibawa pulang dan dicuci di rumah, hihihi.
4 - 5 pm: Belajar dengan diawasi suster kepala.
5 - 6 pm: Rekreasi. Bebas mau ngapain. Mau main kek, mau makan pisang goreng kek, terserah.
6 - 7 pm: Belajar lagi.
7 - 8 pm: Makan malam bersama.
8 - 9 pm: Belajar lagi dan lagi. (Tuh gimana gue gak pinter dan jadi langganan 5 besar di sekolah, wong belajar melulu sampai bego sendiri).
9 pm: Doa malam bersama, and then time for bed, sleepy heads!

Semua penghuni wajib mengikuti setiap kegiatan yang sudah ditetapkan dan wajib mematuhi seteiap peraturan yang berlaku. Kegiatan yang padat dan peraturan yang ketat menjadi bagian dari kehidupan gue di asrama. Somehow, dibalik segala sesuatu yang teratur dan peraturan-peratuan yang ketat itu, gue menemukan sebuah kebebasan... Kebebasan menjalani hidup sendiri dan jauh dari keluarga. I feel freedom, ladies! Freedom that later brings me to an adventurous journey (halah, lebay deh gue).

To be continued...

Ps. Nanti gue lanjutin lagi dengan cerita gue tinggal di asrama di tahun kedua dan ketiga, yang tentu saja jauh lebih menyenangkan daripada tahun pertama, hehehe. Kepanjangan soalnya, bok. Dan gue harus gereja sekarang karena hari ini Hari Rabu Abu. Yuk, mare...

Monday, 7 March 2011

That is okay to be not okay

Hari ini gue makan malam bareng seorang teman asrama gue. Ini pertama kalinya gue dan dia bisa keluar dan jalan-jalan bareng setelah sekian lama. Even after I'm home for good, masih tetap susah buat ketemuan. Dan waktu nikahan teman gue yang satu lagi, yang jadi ajang pamer boobs itu, dia ternyata berhalangan untuk hadir.

Selesai antar bontot ke kost, gue langsung jemput teman gue di rumahnya. Kebetulan ada nyokapnya jadi gue sekalian salaman dan ngobrol sebentar sama nyokapnya. Dulu ya, nyokapnya sering banget kirimin makanan buat dia, yang ujung-ujungnya dibagi buat gengnya kita. Pokoknya sejahtera banget deh kalau dia udah dapat kiriman, hehehe.

I must say I was pretty excited to finally meet her, karena memang udah lama banget, banget, banget enggak ketemuan. Mungkin terakhir ketemuan itu waktu dia lulus SMA dan pindah dari asrama. Beberapa tahun yang lalu sempat ada acara reunian, tapi gue-nya yang berhalangan hadir karena kuliahnya gue di Jakarta. Jadi begitu tiba di rumahnya, langsung aja heboh, cipika-cipiki, peluk sana peluk sini.

Kita berdua langsung menuju ke sebuah restoran di pinggir pantai dan teman gue bersikeras duduk di ruangan terbuka padahal angin lagi kenceng-kencengnya. Jadi gue kenyang sama steak sekaligus kembung kebanyakan makan angin. Di sana gue berdua banyak ngobrol, catching things up. Well, sebenarnya sih dia yang up date-in gue soal apa yang sudah dia alami di tahun-tahun belakangan, sementara gue (lagi-lagi) lebih banyak mendengarkan.

Teman gue itu mulai curhat mengenai masalah-masalahnya, yang ternyata seabrek-abrek. Gue aja sampe tercengang-cengang waktu dengerin cerita dia. Mulai dari masalah keluarga, pekerjaan, masalah dengan beberapa temannya. Bahkan soal dia yang yang merasa underpressure karena bokapnya pengen dia segera menikah, sementara dianya udah nyerah buat nyari-nyari. Dulu pernah pacaran 8 tahun dengan si A, tapi putus. Pernah juga pacaran 2 tahun dengan si B, putus juga. Pacaran dengan si C 2 bulan, putus lagi. And at the age of 26, dia menyerah. Katanya, "siapa aja yang datang ke gue, itu yang gue terima."

Sepanjang perjalanan pulang, gue jadi kepikiran dengan teman gue itu. I know she's not okay. I'm pretty much sure of it. Somehow, gue juga mengalami hal yang sama. I know I'm not okay. Hanya bedanya gue enggak tahu alasannya. Mungkin karena sebagian dari diri gue menolak untuk mengakui bahwa "I'm not okay". Entahlah...

Sebelum pulang gue bilang ke dia, "that is okay," untuk sekedar menghibur karena gue tahu dia merasa buruk dengan keadaannya yang disebabkan oleh masalah-masalahnya. Dan mungkin itu juga bisa menghibur diri gue sendiri that that is okay to be not okay. So all I have to do is just accept it... right?

Thursday, 3 March 2011

Where is the love?

Everyone wants love and to be loved, itu sudah pasti. And for sure everyone is finding love. Salah seorang teman gue selalu bertanya "kenapa ya kok gue kayaknya susah banget menemukan cinta?", dan semakin lama gue semakin kehabisan jawaban.

Sejak pertama kali gue kenal dia, dia sudah menjomblo bahkan hingga saat ini. Rasanya sudah bertahun-tahun sejak dia putus dengan pacarnya, yang memilih teman dekatnya sendiri (ouch!) Ever since, she falls from one man to another, only they don't feel the same to her. I can't help but feel pity for her. Gue sendiri juga bingung kenapa laki-laki yang disukainya malah enggak bisa membalas perasaannya. Padahal teman gue itu orangnya supel, easily make a friend with anybody, penampilannya selalu modis, karirnya bagus, pintar masak, rajin bersih-bersih. Pokoknya tipe istri yang ideal deh.

Jadi sekarang dia desperately pengen punya pacar dan jam biologisnya juga terus berdetak tanpa pernah soak batrenya. Ada beberapa cowok yang naksir tapi tidak pernah sesuai dengan tipe pacar yang dia inginkan. Gue juga jadi berpikir apa karena teman gue itu yang terlalu pemilih atau standarnya ketinggian, atau memang belum saatnya dapat jodoh? Well, I don't know.

Hari ini gue menghadiri pemakaman seorang kerabat keluarga yang masih ada ikatan famili karena masih satu marga dengan Mama. Di sana gue ketemu seorang kakek, yang dari gue kecil gue udah tahu kalau itu mantannya Oma gue dulu. Mereka berdua itu sama-sama cinta pertama. Jadi selesai pemakaman (yang dimakamkan itu adalah kakak perempuan sang kakek), gue, Mama dan si kakek sekalian ziarah ke makam Oma, karena kebetulan kuburannya berdekatan.

Itu pertama kalinya beliau ziarah ke makam Oma. Di sana kakek mulai bercerita tentang kisahnya dulu dengan Oma sambil sesekali merenung menatap batu nisan. Meskipun tidak jodoh, tapi cintanya tak pernah padam untuk Oma. Makanya dulu waktu Oma masih hidup, tiap kali beliau pulang ke Indonesia pasti selalu datang mengunjungi Oma. Bahkan sekarang pun, setelah Oma meninggal, pasti selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah.

Semua kelurga sang kakek, mulai dari saudara-saudara kandungnya, istrinya, anak-anaknya, keponakan-keponakannya, cucu-cucunya, tahu kalau Oma gue itu adalah cinta pertamanya. Jadi mereka maklum kalau beliau sayang sama Oma. Mereka juga udah tahu kalau sang kakek tiba-tiba menghilang, pasti ada di rumah gue.

Kata orang, itu namanya cinta sampai mati sekalipun tidak bersatu. Kata beliau, "tidak mengapa kalaupun tidak bisa bersatu di dunia fana, pasti nanti bisa bersatu di dunia lain." Maybe it's called the real love. Mama bilang kalau Oma itu beruntung karena ada seseorang yang mencintainya bahkan setelah lama meninggal.

Well, I guess mom's right. There are some (lucky) people like Granny, while some other are still finding, just like my friend. I can't help but smile, thinking that I had such a lovely granny who was loved not only by the man but many other people. 

I believe that we all will find the real love, eventually. Sooner or later, it'll come to you, either you're finding it or you just wait for it to come. There's love everywhere, anyway.