Unless it's photographed by me, all pictures are taken from vi.sualize.us or Google Image

Saturday, 5 February 2011

When I feel worse

Saat melakukan hal yang buruk, maka gue merasa sangat buruk. Juga ketika melakukan hal yang bodoh, maka gue merasa menjadi manusia yang paling bodoh.

Pengennya marah, tapi merasa tidak pantas untuk marah. Lagian, mau marah kepada siapa? Pengennya nangis, tapi air mata gak bisa keluar. Sedang mengalami musim kemarau, rupanya, dan kekeringan melanda.

Perasaan bingung, kesal, cemas, takut, campur aduk menjadi satu dan ini merupakan saat-saat yang terburuk yang pernah gue alami. This is when I feel worse about myself. Feels like I'm floating in the water, only for some reason, I'm getting down and down into the water, drowning. And this will getting me down for days and it's not going to be okay.

Kalau sudah begini, bawaan pengen mengunci diri di kamar kayak orang bego. Menarik diri dari semua orang dan tidak berinteraksi sama sekali. Pengennya menyendiri atau kabur sejauh-jauhnya, kalau perlu, sekalian masuk goa. Ah, mending juga tidur...

Thursday, 3 February 2011

Happy Lunar New Year


Gue baru ngeh semalam kalau ternyata pohon natal di rumah gue masih terpajang di sudut ruang tengah di rumah gue. Aih, padahal kan ini udah bulan Februari juga. Natal udah lewat sebulan yang lalu tapi pohonnya masih nangkring meskipun beberapa hiasan, termasuk lampu, udah dicopot. Gue bilang ke nyokap udah waktunya turunin tuh pohon dan disimpan lagi di dalam kardus, tapi kata Mama, "ah gak apa-apa lagi, kan mau Imlek." Malahan Mama nambahin pernak-pernik Imlek di pohon natal dengan penuh semangat.

Well, pohon natalnya memang tidak bisa dibilang sebagai pohon natal yang meriah, tapi menjadi sebuah simbol bagi keluarga gue, apalagi setelah ditambahi ornamen Imlek. Unik sih sebenarnya, melihat ada dua perpaduan di situ: pohon natal dan ornamen Imlek. Untuk Imlek dan acara sembahyang dilakukan keluarga gue sebagai sebuah tradisi untuk menghormati orang tua, dalam hal ini Oma, Opa dan para buyut. Jadi, untung buat gue dan adik-adik gue karena bisa dapat angpao dobel, Natal dan Imlek. Hihihi... Mantab deh! Semoga dapatnya banyaaaakkkkkk...

Happy Lunar New Year!!!


Take a Bow

Oh, how about a round of applause?
Yeah, standing ovation? Ooh, oh yeah
Yeah y-yeah yeah

You look so dumb right now
Standing outside my house
Trying to apologize
You're so ugly when you cry
Please, just cut it out

Don't tell me you're sorry 'cause you're not
And baby when I know you?re only sorry you got caught

But you put on quite a show, really had me going
But now it's time to go, curtain's finally closing
That was quite a show, very entertaining
But it's over now
(But it's over now)
Go on and take a bow

Grab your clothes and get gone
You better hurry up before the sprinklers come on
Talkin' 'bout, "Girl, I love you," "You're the one"
This just looks like a rerun
Please, what else is on?

Don?t tell me you're sorry 'cause you're not
And baby when I know you?re only sorry you got caught

But you put on quite a show, really had me going
But now it's time to go, curtain's finally closing
That was quite a show, very entertaining
But it's over now
(But it's over now)
Go on and take a bow

Oh, and the award for the best liar goes to you
(Goes to you)
For making me believe that you could be faithful to me
Let's hear your speech out

How about a round of applause?
A standing ovation?

But you put on quite a show, really had me going
Now it's time to go, curtain's finally closing
That was quite a show, very entertaining
But it's over now
(But it's over now)
Go on and take a bow
But it's over now


Ps. Kinda into this song ever since I listened to it on Glee :)

Wednesday, 2 February 2011

Get married or be a nun

Tahu gak kalau di Meksiko, usia 15 merupakan hal yang sangat penting bagi seorang gadis? (Well, thanks to BBC Knowledge untuk pengetahuan yang satu itu.) Pasalnya, ketika seorang gadis menginjak usia 15 tahun, artinya dia menjadi dewasa. Mungkin sama seperti di Indonesia ktika seorang anak menginjak usia 17 tahun dan menerima kado berupa sebuah KTP (I know, it's sucks).

Ketika seorang gadis di Meksiko menginjak usia 15 tahun, yang dirayakan secara besar-besaran, bukan hanya dia menjadi seorang perempuan dewasa, tetapi juga dia dihadapkan pada dua pilihan untuk menentukan arah hidupnya. Pilihannya adalah [1] menikah dan memiliki keluarga, atau [2] tidak menikah dan menjadi biarawati. Menarik, bukan?

Melihat hal itu membuat gue tergelitik dan mulai mempertanyakan apakah seorang gadis yang baru berusia 15 tahun sanggup untuk memilih? Maksud gue, hey, 15 tahun adalah usia yang sangat muda bagi seorang gadis untuk memutuskan apakah dia akan menikah atau hidup sebagai biarawati. Juga di usia seperti itu, gue yakin bahwa 80% dari keputusan sang gadis adalah merupakan keputusan dari orang tuanya.

Jika gue berada dalam posisi itu, di usia 15 tahun, maka rasanya akan seperti gue sedang berada di tengah jalan dan berhadapan dengan sebuah persimpangan; ambil jalur kiri atau jalur kanan, sementara ujung dari kedua jalur itu sama sekali tak terlihat. Bagaimana keadaan jalan di kedua jalur itu juga sama sekali tidak diketahui. Jadi, bagaimana mungkin seorang gadis yang baru berusia 15 tahun dihadapkan pada dua pilihan hidup yang seperti itu?

Mungkin akan terlihat seperti gue menyamaratakan semua gadis-gadis di Meksiko. Gue tahu bahwa ada sebagian yang sudah bisa menentukan apa yang dia inginkan di usia 15 tahun. Dan yang paling penting adalah gue bukannya mempertanyakan atau mencela adat istiadat di Meksiko. Ini hanya menyangkut rasa ingin tahu gue saja. So, don't get me wrong, okay?

Setelah masih tetap bingung dengan pertanyaan gue yang tadi, lalu muncul lagi sebuah pertanyaan baru: what if she's gay? Well, apakah gay marriage di Meksiko itu dilegalkan? Dan gue pun beralih ke Om Google dan ternyata gay marriage di Mexico City, lebih tepatnya di kota Coahuila, dilegalkan. Maka beruntunglah para gadis-gadis di Meksiko sana. Dan beruntung juga bahwa Indonesia tidak menganut adat istiadat yang seperti itu. Not that I know of. Kalau ternyata ada, tolong beritahu gue ya. Coba seandainya di Indonesia juga seperti itu, bahwa seorang gadis yang berusia 15 tahun, dan gay, harus memilih salah satu. Duh, I can't be a nun. Hihihi...

Tuesday, 1 February 2011

I'm Chinese, so what?

Dulu, sering ada yang ngajak kenalan di FB yang asli. (Begini nih, nasib seorang gay in the closet. Semuanya ada "asli" dan "palsu"-nya.) Pertanyaan seputar ASL juga selalu ditanyakan, sampai-sampai gue bosan sendiri nanggepinnya. Sekarang gue benar-benar nyesel kebanyakan ikutan game di FB yang mengharuskan pemainnya memiliki banyak teman. Akhirnya jadi banyak banget orang yang enggak gue kenal dari friend list FB gue itu.

Last time I checked, ada 929 orang di friend list gue, dan hanya sekitar 200-300 orang yang benar-benar gue kenal di real-life, meskipun enggak semuanya juga yang kenal dekat. Sisanya, adalah orang-orang yang ketemu di game Texas Hold 'em Poker, Yoville, Mafia Wars, dan beberapa game lainnya, dan ada beberapa yang akhirnya jadi real-life friends. Sisa dari itu semua, sama sekali enggak gue kenal. Dan mereka lah yang sering ngajak kenalan.

Gue enggak keberatan kalau ada yang ngajak kenalan. Tapi kalau setiap ngajak kenalan trus nanya "jadi lo Cina, ya?" Ih, gue paling sebel kalo ada yang ngomong gitu. I mean, helloooooo??? So what, gitu lho??? Lihat aja mata gue dan gak perlu sampai harus ditanyain kali. Gue juga paling anti dengan pertanyaan seperti itu. Plis deh, hari gini masih zaman ya nanya-nanya gitu? Lagian ya, terakhir gue cek ke Mama, gue ini lahirnya di Indoensia dan lagu Indonesia Raya tengah berkumandang di saluran RRI di hari ketika gue dilahirkan di bumi pertiwi ini.

I don't even know Chinese languange, for God's sake! Pengetahuan gue soal Bahasa Mandarin hanya seputar: wo ai ni, wo pu ce tau, wo ce tau, wo pu yau dan xie xie. Udah itu doang. Iya, gue cuma dapat matanya doang. Makanya gue paling sebel kalau ada yang ngomong "lo Cina". Dan yang paling membuat gue kesal kalau dipanggil "amoy" sama abang-abang jail yang suka nongkrong di parkiran.

Dengan mata gue yang sipit seperti ini, gue enggak pernah milih-milih dalam berteman dan gue gak suka kalau ada yang membedakan gue dengan warga pribumi. Gue juga enggak suka kalau ada orang yang sama seperti gue, yang selalu meng-eksklusif-kan dirinya. Gue juga cintanya sama Indonesia kok. Meskipun memang, mata enggak bisa disembunyiin kecuali kalau gue operasi untuk memperbesar mata, yang gue yakin bakal membuat gue terlihat seperti alien. Jadi gue lebih senang menempatkan diri gue sebagai "Indonesian Chinese" dibandingkan dengan "keturunan Tionghoa", apalagi "orang Cina", karena itu terdengar seperti "Orde Baru" sekali, sedangkan kita hidup sudah di zaman Demokrasi.